ENDURING IN TRIALS

ENDURING IN TRIALS 

Bacaan Setahun:

Titus 1, Yer. 13-14, Mzm. 125

“Bukan itu saja, kita juga bersukacita dalam penderitaan kita karena kita tahu bahwa penderitaan mengajar kita menjadi tabah menghadapi kesulitan. Ketabahan menghasilkan tahan uji, dan tahan uji menghasilkan pengharapan.” (Roma 5:3-4 – AMD)

Tema renungan Minggu kedua bulan November 2025 adalah Enduring in Trials yang memiliki arti Bertahan dalam Pencobaan. Menghadapi pencobaan bukanlah pengalaman yang mudah. Namun, firman Tuhan menegaskan bahwa penderitaan bukan akhir dari segalanya, melainkan jalan untuk membentuk iman yang tangguh. Kata “bertahan” dalam bahasa Yunani adalah hypomonē (ὑπομονή), yang berarti ketabahan atau daya tahan untuk tetap teguh sekalipun dalam tekanan. Paulus menulis surat Roma kepada jemaat yang sedang menghadapi penindasan Kekaisaran Romawi, untuk mengingatkan bahwa penderitaan orang percaya tidak sia-sia. Mari kita belajar tiga hal tentang Enduring in Trials.

Yang pertama, Tetap Bersukacita dalam Penderitaan. Kata “penderitaan” dalam bahasa Yunani adalah thlipsis (θλῖψις), yaitu tekanan, kesesakan, penderitaan. Pada masa itu jemaat mengalami tekanan politik, sosial, bahkan ancaman hidup. Sukacita bukan karena penderitaan itu sendiri, melainkan karena karya Allah di baliknya. Yakobus 1:2 mengajak kita, “Anggaplah sebagai suatu kebahagiaan apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan.” Pada masa kini sukacita dalam penderitaan adalah tanda iman yang tidak goyah oleh situasi, melainkan berakar pada janji Tuhan.

Yang kedua, Lulus dari Sekolah Penderitaan. Kata “tahan uji” dalam bahasa Yunani adalah dokimē (δοκιμή), yaitu hasil ujian yang membuktikan keaslian iman. Seperti emas yang diuji dalam api, iman kita pun ditempa melalui kesulitan. Jemaat pada masa itu sedang mengalami ujian iman sehingga nampak mana yang setia dan yang menyerah. 1 Petrus 1:7 menguatkan kita, “Maksud semuanya itu ialah untuk membuktikan kemurnian imanmu…” Pada masa kini, kesulitan adalah sekolah rohani tempat kita dibentuk, bukan dihancurkan.

Yang ketiga, Hidup dalam Kuasa Pengharapan. Kata “pengharapan” dalam bahasa Yunani adalah elpis (ἐλπίς) yaitu pengharapan yang pasti, bukan sekadar optimisme kosong. Paulus menegaskan bahwa hasil dari ketabahan adalah pengharapan yang tidak mengecewakan. Roma 15:13 telah menghiburkan kita, “Semoga Allah sumber pengharapan memenuhi kamu dengan segala sukacita…” Pengharapan membuat kita melangkah dengan keyakinan bahwa penderitaan hanyalah sementara, sementara janji Allah kekal.

Bertahan dalam pencobaan berarti memilih untuk tetap bersukacita, lulus dalam ujian iman, dan hidup dalam pengharapan yang kokoh. Penderitaan bukanlah penghalang, tetapi batu loncatan menuju kedewasaan rohani. Mari kita jalani setiap pencobaan dengan mata tertuju kepada Kristus, sebab pada akhirnya, iman yang bertahan akan menghasilkan pengharapan yang tidak pernah mengecewakan. Stay blessed. (DW)

Questions:

1. Mengapa kita harus hidup dalam kuasa pengharapan?
2. Bagaimana cara tetap bersukacita dalam penderitaan?

Values:

Seorang warga Kerajaan Allah adalah pribadi yang mau hidup dan berjalan dalam kuasa pengharapan setiap hari.

Kingdom Quotes:

Bertahan dalam pencobaan berarti memilih untuk tetap bersukacita, lulus dalam ujian iman, dan hidup dalam pengharapan yang kokoh.