HARAPAN DAN KENYATAAN

HARAPAN DAN KENYATAAN 

Bacaan Setahun:

Mrk. 14:32-72
1 Raj. 9
Hos. 11:1-11

“Sebab ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus.” (1 Petrus 1:16)

Di samping sebuah gerai makanan cepat saji dekat rumah saya, sebenarnya ada sebuah jalan pintas sehingga para pengendara motor dapat menghindari antrean di lampu merah yang padat; namun jalan tersebut sudah dipasang tanda stop, sehingga kendaraan tidak diperkenankan masuk ke jalan itu. Namun untuk ke sekian kalinya, bahkan setelah tanda stopnya diperbaharui akibat sempat disemprot cat, masih juga banyak pengendara motor yang melewatinya, alias melanggar rambu lalu lintas yang dipasang. Hal ini menunjukkan adanya kesenjangan antara apa yang diharapkan (Das Sollen) dengan apa yang terjadi di lapangan atau realitasnya (Das Sein). Firman Tuhan bukan sekedar mengharapkan, tetapi memerintahkan dan menuntun kita agar senantiasa hidup dengan menjaga kekudusan – qados atau hagios; namun sudahkah kehidupan kita dipisahkan dan dikhususkan bagi Allah sehingga berpadanan dengan panggilan-Nya (Efesus 4:1)?

Warga Kerajaan terkasih, memasuki musim gugur ini dengan tema membangun jalan raya kekudusan, orang percaya terus berjuang melakukan berbagai upaya agar tidak mengasihi semua yang ada di dalam dunia yang sedang lenyap dengan keinginannya (1 Yohanes 2:17). Namun dalam proses mengkhususkan diri bagi Allah, mungkin buah yang dihasilkan belum sesuai dengan yang kita harapkan; misalnya: masih ada hubungan yang belum sepenuhnya dipulihkan, pengampunan yang tertahan, atau belum mampu hidup tidak mementingkan diri sendiri. Memang semuanya merupakan proses tiada henti, dan kita harus senantiasa mengangkat tangan berdoa memohon kekuatan dan kemampuan Allah untuk bisa menyelesaikan misi itu.

Perbedaan antara harapan dengan kenyataan yang terjadi merupakan tantangan bagi orang percaya untuk mengupayakan tercapainya kekudusan sebagai tanda kehidupan rohaninya. Orang yang percaya kepada Kristus sesungguhnya sudah dikuduskan secara status, artinya kita dipisahkan dari dunia dan dosa, serta dikhususkan menjadi umat Allah melalui korban Kristus di kayu salib (Ibrani 10:10); jadi ini adalah anugerah, bukan usaha manusia. Namun di lain pihak, kekudusan adalah proses pertumbuhan menjadi serupa Kristus dan tidak menjadi serupa dengan dunia ini (Roma 12:2). Hal ini memerlukan penyangkalan diri, taat kepada Firman Tuhan, hidup dalam Roh dan menjauhi keinginan daging. Ketidaksediaan melakukannya dan hidup bertentangan dengan standar Allah menjadi penghalang untuk hidup dalam kekudusan. Mari kita menutup celah antara harapan dan kenyataan itu dengan terus hidup dalam pertobatan, kerendahan hati dan menyenangkan Tuhan. (YL)

Questions:
1. Apakah yang dimaksud dengan orang percaya sebenarnya sudah dikuduskan secara status?
2. Bagaimanakah seharusnya orang percaya bertindak agar tetap hidup dalam kekudusan?

Values:
Banyak orang percaya tidak bersedia membayar harga supaya mampu menjalani hidup kudus.

Kingdom Quotes:
Banyak orang percaya tidak bersedia membayar harga supaya mampu menjalani hidup kudus.