HATI YANG RINDU

HATI YANG RINDU 

Bacaan Setahun:
1Samuel 10:9 – 12:25
Yohanes. 12:37 – 13:17
Mazmur 66:1–12

“Sekarang orang itu sedang dalam perjalanan pulang dan duduk dalam keretanya sambil membaca kitab nabi Yesaya” (Kisah Para Rasul 8:28)

Keselamatan bukan lagi milik orang Yahudi saja. Kisah dalam Kisah Para Rasul memperlihatkan bagaimana seorang non-Yahudi—seorang sida-sida, pejabat tinggi yang mengurus perbendaharaan Sri Kandake, ratu Etiopia—mengalami perjumpaan dengan Allah.

Jika dipikirkan, orang Etiopia ini tentu memiliki sistem kepercayaan sendiri. Berpaling kepada iman Israel bukanlah keputusan yang sederhana. Namun ada sesuatu yang lebih kuat dari latar belakangnya: hatinya telah terbuka untuk mencari Allah yang benar.

Kerinduan itu terlihat jelas. Dalam perjalanan panjangnya, ia tidak memilih bacaan biasa, tetapi membuka kitab nabi Yesaya. Bagi sebagian orang, itu mungkin terasa berat dan membosankan. Tetapi bagi hati yang lapar akan Tuhan, firman bukan beban—melainkan kebutuhan. Hati yang rindu tidak pernah merasa cukup; ia terus mencari sampai menemukan kepuasan di dalam Allah.

Saudara, dari surga, mata Tuhan tertuju kepada orang-orang yang memiliki kerinduan seperti ini. Karena kerinduan itulah, Allah mengutus Filipus untuk menjumpai sida-sida tersebut dan menyingkapkan kebenaran kepadanya. Alkitab menggambarkan hati yang rindu demikian: “Ya TUHAN, kami juga menanti-nantikan saatnya Engkau menjalankan penghakiman; kesukaan kami ialah menyebut nama-Mu dan mengingat Engkau. Dengan segenap jiwa aku merindukan Engkau pada waktu malam, juga dengan sepenuh hati aku mencari Engkau pada waktu pagi …..” (Yesaya 26:8–9).

Betapa indahnya hidup dengan hati yang merindukan Tuhan. Orang seperti ini tidak kekurangan secara rohani. Ia hidup dalam aliran kasih karunia Allah, dipenuhi sukacita yang terus mengalir. Waktunya—pagi, siang, dan malam—menjadi berarti, karena hatinya terus terarah kepada Tuhan, dan Tuhan sendiri yang memuaskan jiwanya.

Bayangkan, jika ada dua belas orang saja yang sungguh-sungguh memiliki hati yang rindu seperti ini, sebuah bangsa bisa digerakkan oleh kemuliaan Allah. Karena itu, waspadalah. Ketika hati mulai dingin terhadap hal-hal rohani, ketika kerinduan untuk mendekat kepada Tuhan mulai memudar, itu bukan hal sepele—itu tanda bahaya. Itu adalah gejala kematian rohani. Dan itu tidak boleh dibiarkan. (DH)

Questions:
1. Apakah anda masih memiliki kerinduan yang nyata untuk mencari Tuhan setiap hari?
2. Apakah hati anda sedang menyala atau mulai menjadi dingin secara rohani?

Values:
Kerinduan kepada Tuhan bukan emosi sesaat, tetapi arah hidup yang terus mencari Dia.

Kingdom Quotes:
Ketika kerinduan memudar, kehidupan rohani mulai kehilangan denyutnya.