HAUS PENGAKUAN
Bacaan Setahun:
Wahyu 15, Est. 6:14-8:17, Mzm. 107:1-22
“Ingatlah, jangan kamu melakukan kewajiban agamamu dihadapan orang supaya dilihat mereka, karena jika demikian, kamu tidak beroleh upah dari Bapamu yang di sorga.” (Matius 6:1)
Beberapa tantangan olah raga ekstrim membutuhkan kekuatan fisik dan mental luar biasa, misalnya dalam suatu acara TV realita olahraga, kontestan diminta mengangkat kuk berat dan memanggulnya melewati parit. Para petarung tersebut tidak hanya berjuang memperebutkan hadiah uang, namun mereka ingin membuktikan layak memakai mahkota pengakuan atas aksi mereka. Keinginan diafirmasi dan diakui ini pun sering kali terlihat dalam berbagai aspek kehidupan sehari-hari, seperti di tempat kerja. Dunia kerja yang penuh persaingan dikenal sebagai ‘rat race,’ yakni suatu perlombaan berburu prestasi, jabatan dan unjuk performa dengan “menghalalkan” berbagai cara. Namun orang percaya seharusnya tetap mengingat dan memegang perkataan Firman Tuhan bahwa promosi bukan dari mana pun, tetapi peninggian itu berasal dari Tuhan (Mazmur 75:6).
Hasrat mencari pengakuan juga terlihat dalam pergaulan sosial, kelompok komunitas, bahkan di pertemuan-pertemuan, ketika seseorang terjangkit sindrom ‘maju ke tampil,’ yakni memiliki hasrat menjadi pusat perhatian lewat berbicara tentang hal yang sama tanpa henti sambil menunjukkan repertoar prestasi dan keterampilannya. Karena itu, sebagai pengingat orang percaya yang sedang menjalani hidup sebagai warga Kerajaan, sebuah catatan diletakkan di mimbar kotbah berbunyi, “Bapak/Ibu pembicara, kami ingin mendengar dan melihat Tuhan Yesus.” Ketika membaca catatan tersebut, sang pembicara diharapkan ingat bahwa Tuhanlah yang harus makin besar, sementara dirinya harus makin kecil (Yohanes 3:30).
Manusia pada dasarnya memiliki dorongan untuk diakui dan dihargai sebagai akibat gambar diri yang rusak ketika ia jatuh ke dalam dosa; dalam pengembaraannya di luar taman Eden ia berada dalam suatu pencarian. Kerinduan untuk diterima kembali mendorongnya berupaya mendapatkan pengakuan dari orang lain agar ia merasa nyaman terhadap dirinya sendiri (McGee, Robert: Pemulihan Gambar Diri). Namun sebagai orang percaya yang sudah ditebus dan hidup sebagai warga Kerajaan, kita mengetahui dahulu memang terpisah dari-Nya, tetapi sekarang sudah diampuni, diperdamaikan di dalam kematian Kristus dan diterima penuh oleh Allah (Kolose 1:21-22). Dengan kasih karunia Tuhan, kita mampu hidup sebagai warga Kerajaan yang kudus, tak bercela dan tak bercacat di hadapan-Nya. (YL)
Questions:
1. Apakah yang terjadi jika perbuatan baik didasarkan atas dorongan untuk diakui dan dihargai?
2. Manakah yang lebih relevan: menyampaikan Firman Tuhan pada sesama orang percaya atau pada orang yang belum mengenal Tuhan?
Values:
Tuhan menerima kita karena Ia mengasihi kita.
Kingdom Quotes:
Dan janganlah kita gila hormat, janganlah kita saling menantang dan saling mendengki. (Galatia 5:26)