“Keadilan dan hukum adalah tumpuan takhta-Mu, kasih dan kesetiaan berjalan di depan-Mu.” (Mazmur 89:15)
“Tetapi biarlah keadilan bergulung-gulung seperti air dan kebenaran seperti sungai yang selalu mengalir.” (Amos 5:24)
Sebagai Representatives of Christ’s Kingdom, kita dipanggil untuk menghadirkan Kerajaan Allah melalui kehidupan yang berlandaskan keadilan dan kebenaran di manapun Tuhan menempatkan kita. Pemulihan suatu bangsa hanya bisa dimulai oleh umat Tuhan, yang bertobat, dan berdoa mencari wajah Tuhan.
Mengapa Keadilan dan Kebenaran harus Menjadi Fondasi Pemulihan?
Karena Allah bukan hanya Raja yang berkuasa, tetapi juga Raja yang benar.
“Keadilan dan hukum adalah tumpuan takhta-Mu.” (Mazmur 89:15)
Pemulihan yang dikehendaki Allah bukan hanya pemulihan yang bersifat sementara, tetapi yang berkelanjutan, karena itu dibutuhkan sebuah fondasi yang kuat, yaitu keadilan dan kebenaran. Allah yang kita sembah bertakhta di atas kebenaran dan keadilan. Pemerintahan-Nya didasarkan di atas fondasi keadilan dan kebenaran, karena itu otoritas seorang pemimpin dalam Kerajaan Allah bukanlah kesempatan untuk menjadi lebih besar dan untuk mengendalikan orang lain, tetapi kesempatan untuk menjadi lebih berguna.
Karena ketidakadilan merusak kehidupan bersama
“Biarlah keadilan bergulung-gulung….”. (Amos 5:24)
Di zaman nabi Amos, ibadah kepada Tuhan tetap berjalan, tetapi terjadi ketidakadilan, di mana orang-orang kaya menindas orang miskin. Di tempat ibadah mereka terlihat menyembah Tuhan dengan sungguh-sungguh, dengan segenap hati, namun di hidup kesehariannya mereka memperlakukan sesama dengan semena-mena. Keadilan seharusnya menjadi bagian penting dalam kehidupan bersama. Hubungan kita dengan Allah tidak dapat dipisahkan dari cara kita memperlakukan sesama. Kualitas ibadah kita terlihat dari kualitas hubungan kita dengan sesama.
Apa yang Dimaksud dengan Keadilan dan Kebenaran?
Keadilan berarti memberi ruang bagi orang lain untuk mengalami kebaikan Allah
Keadilan bukan hanya tentang aturan, tetapi juga tentang memberi ruang bagi orang lain untuk mengalami kebaikan Allah melalui hidup kita, bukan hanya menuntut hak kita. Firman Tuhan selalu mengingatkan agar kita memperhatikan orang-orang asing, orang miskin, para yatim piatu dan para janda. Kita dipanggil untuk menjadi pelaksana ‘khesed’ (kasih) Allah.
Kebenaran berarti hidup dalam integritas di hadapan Raja
Mengetahui kebenaran berbeda dengan hidup dalam kebenaran. Hidup dalam kebenaran berarti hidup sesuai dengan apa yang Allah katakan benar. Sebagai contoh, kita tahu korupsi dan gosip adalah perilaku yang tidak benar di hadapan Allah, tapi ketika godaan tersebut muncul di hadapan kita, apakah kita menjaga integritas dan tetap hidup dalam kebenaran? Contoh dalam Alkitab adalah Yusuf di kitab Kejadian. Kesulitan hidup maupun kesuksesan tidak mengubah karakternya. Ketika hidupnya dipulihkan dan ada kesempatan untuk membalas dendam kepada saudara-saudaranya, ia tidak melakukannya dan memilih untuk hidup dalam kebenaran.
“Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan, dengan maksud melakukan seperti yang terjadi sekarang ini, yakni memelihara hidup suatu bangsa yang besar.” (Kejadian 50:20)
Bagaimana Cara Membangun Budaya Kerajaan Allah?
Mulailah dengan menciptakan budaya integritas, yaitu ada kesatuan antara hati, pikiran, perkataan dan perbuatan kita. Gunakan posisi untuk mengangkat, bukan menekan. Dalam Kerajaan Allah, kita dipanggil untuk melayani dan mengangkat orang yang lemah.
Berdirilah bersama mereka yang tidak memiliki suara. Menjadi orang yang membuka pintu-pintu kesempatan dan pembelaan bagi mereka yang terpinggirkan, bagi mereka yang tidak memiliki posisi dan kemampuan.
Berani menyampaikan kebenaran dengan kasih. Berani bersuara saat ada sesuatu yang salah, menjadi terang dan garam di tengah kegelapan dunia.
Keadilan dan kebenaran harus mengalir keluar dari kehidupan warga Kerajaan Allah. Pemulihan tidak lagi menjadi sekadar doa—pemulihan menjadi kehidupan yang nyata.
HEALING THE LAND!
Pemulihan negeri akan terjadi ketika warga Kerajaan menghidupi karakter Rajanya. Karena itu, sebagai Representatives of Christ’s Kingdom, kita dipanggil untuk membawa keadilan, kebenaran, integritas, kemurahan hati, dan kasih dalam kehidupan bersama. AMIN. (VW)