Healing The Land | Pdt. Eluzai Frengky Utana

dan umat-Ku, yang atasnya nama-Ku disebut, merendahkan diri, berdoa dan mencari wajah-Ku, lalu berbalik dari jalan-jalannya yang jahat, maka Aku akan mendengar dari sorga dan mengampuni dosa mereka, serta memulihkan negeri mereka. (2 Tawarikh 7:14)

Pemulihan sebuah negeri tidak dimulai dari perubahan keadaan di luar diri kita, melainkan dari perubahan yang terjadi di dalam diri umat Tuhan. 2 Tawarikh 7:14 menyatakan bahwa ketika umat Tuhan yang disebut dengan nama-Nya merendahkan diri, berdoa, mencari wajah-Nya, dan meninggalkan jalan-jalan yang jahat, maka Tuhan akan mendengar dari surga, mengampuni dosa, dan memulihkan negeri mereka.

Oleh sebab itu setiap dari kita dipanggil untuk menjadi bagian dari pemulihan yang Tuhan kerjakan bagi negeri kita. Kita tidak dipanggil hanya untuk menyaksikan kerusakan kota dan bangsa, mengeluh tentang keadaan, atau menunggu orang lain melakukan perubahan. Kita dipanggil untuk peduli terhadap kota tempat Tuhan menempatkan kita dan menjadi terang serta garam di dalamnya. Pemulihan memang berada dalam kedaulatan Tuhan, tetapi kita memiliki bagian untuk bersedia diubahkan sehingga dapat menjadi pembawa perubahan.

Untuk itu, menjadi agen pemulihan harus dibangun sebagai budaya. Budaya adalah sesuatu yang terus dilakukan, dilatih, diulang, hingga menjadi kebiasaan yang tertanam dalam hati. Seperti seseorang yang sejak kecil terbiasa menyikat gigi hingga melakukannya secara otomatis, demikian pula kehidupan sebagai agen pemulihan harus menjadi kebiasaan. Kebenaran yang kita dengar tidak cukup hanya diketahui; kebenaran harus dilatih dan dipraktikkan sampai menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Hidup dengan Cara yang Menyenangkan Hati Tuhan

Langkah pertama adalah hidup dengan cara yang menyenangkan hati Tuhan. Berdasarkan 1 Korintus 10:31, segala sesuatu yang dilakukan, baik makan, minum, bekerja, berolahraga, melayani, maupun menjalani kehidupan sehari-hari, harus dilakukan untuk kemuliaan Allah. Kehidupan orang percaya tidak seharusnya berorientasi untuk mengesankan manusia, tetapi untuk menyenangkan hati Tuhan. Ketaatan kepada Tuhan harus terlihat dalam kehidupan nyata, bukan hanya dalam pengakuan bahwa kita mengenal-Nya. Bahkan hal-hal sederhana dapat menjadi kesaksian ketika orang lain melihat Kristus hidup melalui cara kita menjalani kehidupan. Nilai Kerajaan Allah bukan hanya terlihat dalam pelayanan besar, tetapi juga dalam keputusan-keputusan sederhana yang kita ambil setiap hari.

Merendahkan Hati dan Mengutamakan Tuhan

Langkah kedua adalah merendahkan hati dengan mengutamakan Tuhan. Yakobus 4:10 mengajarkan, “Rendahkanlah dirimu di hadapan Tuhan, dan Ia akan meninggikan kamu.” Kerendahan hati bukan berarti menganggap diri tidak berharga, melainkan tidak menjadikan diri sendiri sebagai pusat kehidupan. Kerendahan hati berarti menempatkan Tuhan sebagai yang terutama dan menyadari bahwa kita membutuhkan Dia lebih daripada segala sesuatu. Salah satu ujian dalam hal ini adalah hubungan kita dengan uang. Matius 6:24 mengingatkan bahwa seseorang tidak dapat mengabdi kepada Allah dan mamon. Uang harus tetap menjadi alat, bukan menjadi tuan. Ketika uang mengambil tempat Tuhan di dalam hati, manusia dapat dikendalikan oleh keserakahan, persaingan, dan keinginan untuk memiliki lebih banyak. Sebaliknya, ketika Tuhan menjadi yang utama, kita dapat melihat segala sesuatu sebagai anugerah dan kasih-Nya.

Karena itu, hati harus tetap menjadi tempat bagi Tuhan. Kekecewaan, kebencian, sakit hati, dan kepahitan dapat mengganggu hubungan kita dengan-Nya. Orang percaya dipanggil untuk hidup dalam kasih dan pengampunan sehingga tetap melekat kepada Tuhan dan menikmati kebebasan yang berasal dari-Nya.

Memiliki Komunikasi Kerajaan Allah

Langkah ketiga adalah memiliki komunikasi Kerajaan Allah. Yesaya 65:24 menggambarkan Tuhan sebagai Allah yang mendengar bahkan sebelum umat-Nya selesai memanggil-Nya. Karena itu, perkataan orang percaya harus lahir dari iman dan selaras dengan firman Tuhan.

Kolose 4:6 mengajarkan agar kata-kata kita senantiasa penuh kasih dan tidak hambar. Komunikasi Kerajaan Allah berarti belajar menggunakan perkataan untuk membangun, memberi pengharapan, menyatakan kebenaran, dan memuliakan Tuhan. Perubahan paradigma harus menghasilkan perubahan dalam cara kita berbicara. Firman bukan hanya untuk diketahui, tetapi harus dihidupi dan diperbincangkan dalam kehidupan sehari-hari.

Hubungan Bukan Tugas

Langkah keempat adalah memahami bahwa hubungan bukan tugas. Yohanes 15:4-5 menggambarkan Yesus sebagai pokok anggur dan kita sebagai ranting. Ranting hanya dapat berbuah jika tetap melekat pada pokok. Demikian pula orang percaya hanya dapat menghasilkan buah ketika memiliki hubungan yang terus-menerus dengan Kristus.

Hubungan dengan Tuhan bukan sekadar kewajiban agama atau aktivitas pelayanan. Hubungan dibangun melalui kasih, keterbukaan, dan kejujuran. Prinsip yang sama berlaku dalam keluarga, pelayanan, dan hubungan dengan sesama. Manusia bukan proyek yang harus dikelola, melainkan pribadi yang harus dikasihi, dibangun, dan dijalani bersama. Karena itu, hubungan harus lebih dahulu daripada tugas.

Mengalami Transformasi Hidup

Langkah kelima adalah mengalami transformasi hidup. 2 Korintus 5:17 menyatakan bahwa setiap orang yang ada di dalam Kristus adalah ciptaan baru; yang lama telah berlalu dan yang baru telah datang.

Transformasi bukan sekadar melakukan lebih banyak kegiatan rohani. Transformasi berarti mengalami perubahan identitas dan cara hidup di dalam Kristus. Kita mengenal Kristus, mengikuti Dia, dibentuk oleh-Nya, menjadi semakin serupa dengan-Nya, lalu membawa dampak bagi dunia. Dengan demikian, orang percaya bukan hanya penerima pemulihan, tetapi juga pembawa perubahan.

Pada akhirnya, Healing the Land adalah panggilan untuk tidak berhenti pada pemulihan, tetapi bergerak menuju kebangkitan. Kita tidak boleh hanya menjadi saksi terhadap persoalan negeri, melainkan mengambil bagian dalam pekerjaan Tuhan. Ketika umat Tuhan berubah, hidup dalam nilai-nilai Kerajaan Allah, dan menjadi pembawa Kristus di tempat mereka berada, Tuhan dapat memakai kehidupan mereka untuk membawa perubahan bagi kota dan bangsa.

Jangan hanya menjadi saksi kerusakan negeri. Jadilah bagian dari pemulihan yang Tuhan kerjakan melalui hidup kita. Sebab ketika kita bersedia diubahkan oleh Tuhan dan melatih budaya hidup yang benar, kita menjadi agen pemulihan yang membawa terang, garam, kasih, dan kehidupan bagi lingkungan kita. Pada akhirnya, tujuan dari semuanya bukanlah kemuliaan manusia, melainkan agar nama Tuhan dipermuliakan melalui perubahan yang terjadi di negeri tempat kita berada. Amin (RCH).