HIDUP BERSAMA ALLAH DAN MENGHASILKAN BUAH
Bacaan Setahun:
2Samuel 2:8 – 3:21
Yohanes 21:1–25
Mazmur 69:1–12
“Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku. Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.” (Yohanes 15:4-5)
Ketika Allah menciptakan manusia dan menempatkannya dalam taman Eden, manusia Kmasih memiliki hubungan yang sempurna dengan Allah. Hubungan yang harmonis di antara Allah dan manusia ini hilang karena Adam dan Hawa tidak taat dan jatuh dalam dosa. Melalui pengorbanan Yesus di kayu salib membuka jalan bagi semua umat manusia yang menerima panggilan dan percaya kepada-Nya untuk dapat memiliki kembali hubungan yang intim dengan Allah.
Sering kali hidup kita berfokus pada hasil: ingin hidup berhasil, berdampak, dan menghasilkan sesuatu yang berarti dengan berbagai usaha. Namun Yesus menegaskan bahwa buah tidak dihasilkan dari usaha manusia semata, melainkan dari kedekatan dengan-Nya. Seperti ranting yang tidak dapat berbuah jika terpisah dari pokok anggur, demikian juga hidup kita tidak dapat menghasilkan kehidupan yang berarti tanpa tinggal di dalam persekutuan dengan Allah karena dari hubungan inilah, kehidupan yang berbuah sejati dimulai.
Hubungan yang intim dan persekutuan dengan Allah menghasilkan perubahan dari dalam. Ketika hidup kita melekat kepada-Nya, maka karakter kita dibentuk—kasih menggantikan kebencian, damai menggantikan kegelisahan, dan kesabaran menggantikan kemarahan. Inilah buah pertama yang terlihat yaitu buah karakter yang mencerminkan natur Allah.
Hubungan yang intim dan melekat kepada Allah akan membawa pengaruh dan terang bagi sekitar. Perkataan kita membangun, tindakan kita membawa damai, dan kehadiran kita menjadi saluran berkat tanpa harus memaksakan diri, sehingga secara alami hidup kita akan menjadi pengaruh bagi orang lain. Lebih jauh lagi, kehidupan bersama Allah menghasilkan buah pertumbuhan dan multiplikasi. Kehidupan dalam nilai-nilai dan karakter Kerajaan Allah di dalam diri kita tidak berhenti pada diri sendiri, tetapi mengalir kepada orang lain. Sehingga hidup kita menjadi alat bagi Kerajaan Allah untuk menjangkau, memulihkan, dan membawa kehidupan baru bagi orang lain.
Namun penting untuk diingat bahwa kehidupan yang berbuah bukan tujuan utamanya, melainkan kehidupan yang berbuah adalah hasil dari hubungan yang intim dengan Allah. Ketika kita mengejar buah tanpa membangun hubungan, kita akan menjadi lelah dan kosong, tetapi ketika kita mengejar keintiman dengan Allah, maka buah akan mengikuti dengan sendirinya. Mari kita bangun hubungan yang hidup dan tinggal di dalam hadirat Allah setiap hari, karena dari situlah akan mengalir kehidupan yang berbuah—bukan karena kekuatan kita, tetapi karena kehidupan-Nya ada di dalam kita. (RSN)
Questions:
1. Apa yang menjadi fokus hidup kita, kehidupan yang berbuah atau keintiman dengan Allah?
2. Bagaimana kita menghasilkan kehidupan yang berbuah?
Values:
Hubungan yang intim dan persekutuan dengan Allah mengubah hidup dari dalam, membawa terang bagi sekitar, dan menghasilkan buah dalam kehidupan.
Kingdom Quotes:
Kehidupan bersama Allah menghasilkan kehidupan yang berbuah bukan karena kekuatan kita, tetapi karena kehidupan-Nya ada di dalam kita.