HIDUP PADAHAL MATI
Bacaan Setahun:
Kej. 32:1 – 33:20
Mat. 12:22–45
Ams. 2:1–11
“Dan tuliskanlah kepada malaikat jemaat di Sardis: Inilah firman Dia, yang memiliki ketujuh Roh Allah dan ketujuh bintang itu: Aku tahu segala pekerjaanmu: engkau dikatakan hidup, padahal engkau mati! Bangunlah, dan kuatkanlah apa yang masih tinggal yang sudah hampir mati, sebab tidak satupun dari pekerjaanmu Aku dapati sempurna di hadapan Allah-Ku.” (Wahyu 3:1-2)
Mengacu pada Kisah Para Rasul 19:10, Jemaat di kota Sardis adalah buah pelayanan Rasul Paulus dan rekan-rekannya di Efesus selama 2 tahun sehingga semua penduduk Asia mendengar firman Tuhan, baik orang Yahudi maupun orang Yunani. Kota Sardis pernah mengalami masa kejayaan sebagai ibukota kuno kerajaan Lydia yang terkenal karena kekayaan emas dari Sungai Pactolus, industri pakaian dan pewarna kain serta benteng yang berdiri di atas tebing curam yang seolah-olah tidak mungkin ditembus. Namun, sejarah mencatat bahwa kota Sardis pernah dua kali jatuh ke tangan musuh karena lengah di mana penjaganya tertidur dan tidak waspada.
Ini menjadi latar simbolis yang kuat bagi pesan Yesus agar mereka bangun dan berjaga-jaga. Gereja di Sardis memiliki reputasi baik di luar, terkenal sebagai gereja besar dan aktif, namun tidak diimbangi dengan kehidupan rohani sejati, tanpa pertobatan dan kuasa Roh Kudus. Jadi, gambaran “gereja yang tampak hidup padahal mati” sangat cocok sekali dengan kondisi kota Sardis yang dulu berjaya, namun pada masa itu sudah kehilangan kemuliaannya.
Pesan Sardis sangat relevan bagi gereja saat ini, terutama gereja-gereja yang lebih berfokus pada penampilan luar daripada isi rohani. Gereja lebih berfokus pada sound system megah, LED besar, pencahayaan menarik, atmosfer konser dari pada penyembahan sejati dan penjangkauan jiwa-jiwa. Gereja yang banyak acara dan program tetapi sedikit pertobatan dan perubahan hidup. Bahkan Firman yang disampaikan ringan agar “menyenangkan telinga” tetapi kehilangan kuasa konfrontasi dosa. Bukan berarti teknologi, musik modern, atau LED screen itu dosa, tidak! Semua itu hanya alat, bukan inti. Masalah muncul ketika gereja lebih mencintai kemasan daripada isi, lebih mengejar penampilan sukses daripada kedalaman rohani.
Yesus tidak langsung menghakimi. Ia memanggil mereka untuk sadar dan bertobat karena masih ada “sedikit sisa kehidupan” yang bisa diselamatkan, bila mereka mau kembali ke dasar Firman Tuhan, pertobatan sejati dan bergantung sepenuhnya pada pimpinan Roh Kudus. “Bangunlah dan kuatkanlah apa yang masih tinggal yang hampir mati….” Sebuah teguran juga bagi kita untuk bangun dari tidur rohani, kembali pada inti Injil dan waspada terhadap kematian rohani yang bersembunyi di balik kegiatan rohani. Karena gereja bukan entertainment untuk menarik banyak orang tetapi pribadi-pribadi yang punya hati untuk pergi menjangkau jiwa yang terhilang dan melahirkan murid Kristus yang sejati. (RSN)
Questions:
1. Bagaimana keadaan jemaat di Sardis ketika Tuhan tegur ?
2. Pelajaran apa yang bisa kita petik dari kehidupan jemaat di Sardis?
Values:
Waspadalah terhadap kematian rohani yang bersembunyi di balik kegiatan rohani, jadilah pribadi yang punya hati untuk menjangkau jiwa yang terhilang dan melahirkan murid Kristus.
Kingdom Quotes:
Jangan puas dengan penampilan rohani yang indah, sementara hati kita tidak lagi hidup di hadapan Tuhan.