JANGAN CAPEK JADI ORANG BAIK
Rabu
16 September 2026
Bacaan Setahun:
Yes. 38:1–40:31
Gal. 2:11–21; 3:1–9
Mzm. 107:33–43
“Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah.”
(Galatia 6:9)
Kita hidup di zaman di mana orang baik sering dianggap bodoh. Tulus dianggap punya maunya. Menolong dianggap cari muka. Murah hati dianggap bisa dimanfaatkan. Belum lagi media sosial membuat kita terbiasa melihat orang yang “licik” justru terlihat lebih berhasil. Akhirnya banyak orang mulai bertanya: “Masih ada gunanya jadi orang baik?” Firman Tuhan hari ini menjawab: JANGAN JEMU. Artinya jangan capek. Jangan berhenti. Jangan kehilangan hati untuk tetap berbuat baik, bahkan ketika kebaikanmu tidak dihargai. Karena setiap kebaikan yang ditabur tidak pernah sia-sia.
Hidup itu seperti gema. Apa yang kita lepaskan akan kembali beresonansi dalam hidup kita. Kalau Anda suka menguatkan orang, suatu hari akan ada orang yang menguatkan Anda. Kalau Anda suka menolong, pertolongan juga akan datang pada waktunya. Kalau Anda murah hati, hidup Anda akan dipenuhi kemurahan. Alkitab berkata: “Orang yang murah hati berbuat baik kepada diri sendiri…” (Amsal 11:17) Ternyata saat kita berbuat baik kepada orang lain, sebenarnya kita juga sedang menanam sesuatu untuk hidup kita sendiri.
Masalahnya, banyak orang ingin panen tanpa mau menabur. Padahal hukum rohani selalu sama: Apa yang ditanam, itu yang dituai. Tidak semua panen datang cepat. Ada benih yang bertumbuh diam-diam. Ada air mata yang belum langsung berubah jadi sukacita. Tetapi Tuhan tidak pernah lupa setiap kebaikan yang dilakukan dengan tulus. Bahkan ketika kebaikanmu disalahartikan, tetaplah jadi orang baik. Bahkan ketika ketulusanmu dibalas kecewa, tetaplah punya hati yang lembut. Karena dunia mungkin lupa, tetapi Tuhan tidak pernah lupa. “Siapa menaruh belas kasihan kepada orang yang lemah, memiutangi TUHAN, yang akan membalas perbuatannya itu.” (Amsal 19:17)
Kemurahan hati juga bukan sesuatu yang muncul tiba-tiba. Itu dibangun dari kebiasaan kecil. Dimulai dari pikiran. Lalu menjadi tindakan. Tindakan menjadi kebiasaan. Kebiasaan membentuk karakter. Dan karakter menentukan masa depan. Stephen Covey — seorang penulis, motivator dan pakar kepemimpinan dari Amerika pernah berkata: “Taburlah pikiran, tuailah tindakan. Taburlah tindakan, tuailah kebiasaan. Taburlah kebiasaan, tuailah karakter. Taburlah karakter, tuailah nasib.”
Karena itu jangan berhenti menabur kebaikan. Percayalah, tidak ada kebaikan yang hilang di tangan Tuhan. Akan datang musim panen. Akan datang waktunya Tuhan membuka jalan. Akan datang waktunya Anda menuai sukacita dari setiap air mata dan ketulusan yang pernah ditabur. Jadi, tetaplah jadi terang. Tetaplah murah hati. Tetaplah menolong. Tetaplah berbuat baik. Karena orang yang terus menabur kebaikan, tidak akan pernah kekurangan tuaian kebaikan. Setuju? (DD)
Questions:
- Pernahkah Anda merasa capek dan jenuh berbuat baik? Mengapa?
- Apakah Anda percaya bahwa perbuatan baik Anda ibarat petani yang menabur benih yang kelak akan menuai?
Values:
Kasih bukan hanya sifat Sang Raja tetapi hakiki Sang Raja. Sebagai warga Kerajaan, perbuatan baik adalah wujud kasih Sang Raja yang kita percayai.
Kemurahan hati juga bukan sesuatu yang muncul tiba-tiba. Itu dibangun dari kebiasaan kecil. Dimulai dari pikiran. Lalu menjadi tindakan. Tindakan menjadi kebiasaan. Kebiasaan membentuk karakter. Dan karakter menentukan masa depan.