JANGAN MENGHUKUM DENGAN SEKS

JANGAN MENGHUKUM DENGAN SEKS 

Bacaan Setahun:

Kel. 15:1 – 16:36, Mat. 28:1–20, Mzm. 21:8–13

“Janganlah kamu saling menjauhi, kecuali dengan persetujuan bersama untuk sementara waktu, supaya kamu mendapat kesempatan untuk berdoa. Sesudah itu hendaklah kamu kembali hidup bersama-sama, supaya Iblis jangan menggodai kamu, karena kamu tidak tahan bertarak.” (1 Korintus 7:5)

Pernahkah Anda mendengar ungkapan berikut: “Wanita memberikan seks untuk mendapatkan cinta, sedangkan pria memberikan cinta untuk mendapatkan seks.”Kalimat ini agak nakal, tapi jujur. Karena sesungguhnya pria dan wanita memang punya “software bawaan” yang beda dalam hal seks.

Bagi banyak pria, seks bisa dilakukan tanpa romantisme. Tapi bagi kebanyakan wanita, romantisme itu sendiri adalah bagian dari seks. Kalau tidak ada sentuhan perasaan, ya rasanya kayak makan sayur tanpa garam — hambar dan bikin malas. Masalahnya, setelah menikah, banyak pasangan lupa memperbarui “versi firmware” mereka. Akibatnya, koneksi suami-istri jadi sering error. Suami merasa, “Istriku kok dingin, ya?” Istri membalas, Suamiku kok kasar, ya?” Dan sebelum sadar, jarak pun makin jauh — bukan hanya di ranjang, tapi juga di hati.

Padahal Rasul Paulus sudah memberi peringatan serius: “Istri tidak berkuasa atas tubuhnya sendiri, tetapi suaminya; demikian juga suami tidak berkuasa atas tubuhnya sendiri, tetapi istrinya. (1 Korintus7:4) Artinya, hubungan suami-istri itu bukan soal “punya siapa”, tapi “melayani siapa”. Suami perlu belajar lebih lembut dan romantis, sementara istri belajar lebih hangat dan terbuka. Seks bukan ajang negosiasi, apalagi senjata ‘politik’ rumah tangga. Sayangnya, banyak istri (dan juga suami) tanpa sadar pakai seks seperti tombol punishment dan reward: “Kamu nyakitin aku? Oke, tidur sana di sofa!” atau “Kamu tidak mau bantu di rumah? Oke, kita puasa dulu!”

Hati-hati! Paulus bilang, “Jangan saling menjauhi — supaya Iblis jangan menggoda kamu.” Artinya: kalau terlalu lama jaga jarak, nanti bukan cuma doa yang khusyuk, tapi juga godaan yang makin kuat. Bisa-bisa muncul WIL atau PIL yang siap jadi “malaikat penghibur”. Jadi, tolong ya, para istri dan suami: Jangan menghukum pasanganmu dengan seks, dan jangan juga memanfaatkannya untuk mengontrol. Seks bukan alat tawar-menawar, tapi bahasa cinta yang menyatukan dua jiwa jadi satu tubuh.

Tuhan menciptakan seks bukan supaya kita saling tunduk, tapi supaya kita saling terhubung. Bukan untuk saling melukai, tapi untuk saling menyembuhkan. Bukan untuk dimanipulasi, tapi untuk dinikmati — dengan rasa hormat dan kasih. Ingatlah, pernikahan tanpa keintiman bukanlah pernikahan yang hangat, melainkan kontrak tinggal serumah. Dan keintiman tanpa kasih, hanyalah aktivitas fisik tanpa makna rohani. Jadi, kalau marah, silakan bicarakan. Kalau kecewa, ungkapkan. Tapi jangan menghukum dengan seks — karena cinta yang dewasa tahu cara memperbaiki, bukan membalas. (DD)

Questions:

1. Apakah selama ini Anda menjadikan hubungan intim sebagai alat untuk mengontrol pasangan, bukan untuk mengekspresikan kasih?
2. Adakah area dalam pernikahan Anda yang perlu dipulihkan agar keintiman fisik dan rohani bisa berjalan selaras?

Values:

Pernikahan yang sehat bukan diukur dari seberapa sering kita “menang” dalam pertengkaran, tapi seberapa dalam kita tetap memilih untuk terhubung dan memulihkan.

Kingdom Quotes:

Seks bukan alat kekuasaan, tapi ekspresi kasih dan pelayanan timbal balik antara suami dan istri.