JANJI SEMPURNA DARI DUA PRIBADI YANG TIDAK SEMPURNA
Bacaan Setahun:
1 Kor. 12
2 Raj. 6:1-7:2
Yunus 1
“Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Rahasia ini besar, tetapi yang aku maksudkan ialah hubungan Kristus dan jemaat.” (Efesus 5:31–32)
Pernikahan sering digambarkan sebagai kisah cinta yang indah. Namun, dalam kenyataannya, pernikahan merupakan perpaduan antara sukacita dan perjuangan. Ada sebuah humor yang mengatakan: “Kalau pasanganmu cocok, hidupmu sempurna. Kalau tidak cocok, hidupmu repot. Tapi kalau tidak cocok ditambah hobinya belanja, hidupmu repot… dengan sempurna!” Humor ini mungkin membuat kita tertawa, tetapi sebenarnya banyak pasangan mengalami kesulitan dalam pernikahan karena mengira bahwa pernikahan hanya soal perasaan dan keindahan cinta.
Faktanya, pernikahan adalah rencana Allah, bukan sekadar keputusan pribadi. Dalam Kejadian 2:18, dinyatakan bahwa Allahlah yang pertama kali merancang pernikahan, bukan manusia. Artinya, pernikahan seharusnya dijalani sesuai dengan kehendak-Nya, bukan hanya berdasarkan keinginan kita. Lebih dari itu, pernikahan adalah sebuah misteri ilahi. Efesus 5:31–32 menyebut pernikahan sebagai gambaran dari hubungan antara Kristus dan jemaat. Ini berarti kasih dalam pernikahan tidak didasarkan semata-mata pada perasaan, melainkan pada komitmen yang meneladani kasih Kristus—kasih yang rela berkorban dan tidak pernah menyerah. Dalam pernikahan, suami dan istri adalah satu tim yang saling melengkapi, bukan rival. Suami dipanggil untuk memimpin dengan kasih, dan istri dipanggil untuk menjadi penolong, bukan tunduk secara buta, melainkan bersama-sama menyatakan kehendak Tuhan.
Kita pun harus belajar menghargai perbedaan, sebab karakter pria dan wanita diciptakan berbeda agar dapat saling melengkapi. Karena itu, komunikasi dan saling pengertian menjadi kunci dalam membangun keharmonisan. Di atas semua itu, Tuhan harus menjadi pusat dalam pernikahan. Tanpa kehadiran Tuhan, pernikahan rentan mengalami keretakan. Namun, jika Kristus hadir—seperti di Kana—maka air pun dapat diubah menjadi anggur: cinta yang biasa dapat menjadi luar biasa.
Pernikahan bukanlah janji antara dua pribadi yang sempurna, melainkan janji antara dua orang yang tidak sempurna, dengan sebuah janji yang sempurna: setia sampai maut memisahkan, di hadapan Allah yang sempurna. Matius 19:6 menegaskan: “Apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia.” Karena itu, agar tetap setia tanpa keterpaksaan, bertumbuhlah dalam kasih, saling memahami, dan tetaplah berdoa bersama. Pernikahan Kristen adalah tempat di mana kasih terus dibangun—hari demi hari—bersama Yesus. (DD)
Questions:
1. Apakah Tuhan sungguh menjadi pusat pernikahan Anda, ataukah hanya mengandalkan cinta dan kekuatan sendiri?
2. Dalam hal apa Anda dan pasangan bisa lebih saling melengkapi, bukan saling menuntut?
Values:
Pernikahan adalah rancangan ilahi yang menggambarkan kasih Kristus—bukan didasarkan pada kesempurnaan pasangan, tetapi pada komitmen dan kasih yang rela berkorban.
Kingdom Quotes:
Jika Kristus menjadi pusat pernikahan, maka dua pribadi yang tidak sempurna dapat terus bertumbuh dalam kasih yang sempurna yang berasal dari Tuhan.