KASIH HARUS DISERTAI KEBENARAN

KASIH HARUS DISERTAI KEBENARAN 

Bacaan Setahun:

Ayb. 8:1 – 10:22
Mat. 19:16–30
Ams. 3:11–20

“Dan tuliskanlah kepada malaikat jemaat di Tiatira: Inilah firman Anak Allah, yang mata-Nya bagaikan nyala api dan kaki-Nya bagaikan tembaga: Aku tahu segala pekerjaanmu: baik kasihmu maupun imanmu, baik pelayananmu maupun ketekunanmu. Aku tahu, bahwa pekerjaanmu yang terakhir lebih banyak dari pada yang pertama. Tetapi Aku mencela engkau,…” (Wahyu 2:18-20a)

Pesan ini diterima rasul Yohanes melalui pengelihatan di Pulau Patmos dan ditujukan kepada Jemaat di Tiatira. Kota Tiatira adalah kota kecil di Asia Kecil (kini Akhisar, Turki) yang terkenal sebagai kota dagang dan industri. Kota Tiatira bukanlah kota besar seperti Efesus atau Pergamus, tetapi sangat aktif secara ekonomi dan perdagangan karena disana banyak terdapat serikat pekerja, pengrajin kain ungu, tukang logam, pembuat tembaga, tukang roti, dan tukang kulit. Serikat pekerja ini sering mengadakan perjamuan berhala, yang disertai penyembahan dan pesta tidak bermoral. Karena itu, menjadi orang percaya di Tiatira berarti harus menolak sistem ekonomi dan sosial yang tercemar dosa.

Benih awal berdirinya jemaat di Tiatira dimulai dari pertobatan Lidia seorang perempuan penjual kain ungu yang setelah bertobat membuka rumahnya menjadi tempat pertemuan jemaat (Kisah Para Rasul 16:14, 40). Yesus memuji jemaat Tiatira sebagai gereja yang aktif, penuh pelayanan, penuh kasih dan iman. Tetapi Yesus mencela mereka karena ada satu kelemahan fatal yaitu membiarkan ajaran palsu (Izebel) memengaruhi gaya hidup mereka. Artinya, mereka tidak menegur dosa, mereka menoleransi ajaran palsu dan gaya hidup yang tidak kudus atas nama kasih dan kebebasan rohani.

Kejatuhan rohani diawali dari adanya kompromi, lalu toleransi dan akhirnya pembiaran atas dosa. Yesus memakai istilah “Izebel” sebagai simbol dari nabi palsu yang mengajar hal-hal yang kelihatannya rohani, tetapi mendorong orang percaya berbuat dosa dan menyesuaikan diri dengan dunia. Seperti ratu Izebel dalam Perjanjian Lama yang menjerumuskan Israel dalam penyembahan Baal, “Izebel rohani” di Tiatira menjerumuskan gereja dalam penyembahan diri dan hawa nafsu.

Pesan Tiatira tetap relevan untuk kita hari ini, sebagai gambaran gereja modern yang lemah lembut, ramah, dan penuh kasih, tapi takut menegur dosa. Kasih tanpa kebenaran menghasilkan toleransi yang salah. Jangan gunakan kasih sebagai alasan untuk menoleransi dosa sebab kasih sejati tidak mengabaikan kebenaran tetapi menuntun kepada pertobatan. Yesus sendiri penuh kasih, namun juga tegas terhadap dosa. Jemaat Tiatira tidak menolak Tuhan, tetapi mereka tidak lagi membedakan antara yang kudus dan yang najis.

Mungkin banyak dari kita yang tetap beribadah tapi hidup dalam dosa tersembunyi (pornografi, ketamakan, kebohongan, ketidakjujuran) dan sepertinya segala sesuatu masih baik-baik saja. Tuhan tidak langsung menghukum karena Ia masih memberi kesempatan untuk kita berubah. Namun, kesempatan itu tidak berlangsung selamanya. Hari ini pun Tuhan masih memberi kita waktu untuk memperbaiki hidup, meninggalkan dosa, dan kembali hidup dalam kekudusan. Bertobatlah! Karena ada ganjaran bagi yang setia dan tidak kompromi. “Barangsiapa menang dan melakukan pekerjaan-Ku sampai kesudahannya, kepadanya akan Kuberikan kuasa atas bangsa-bangsa.” (Wahyu 2:26) (RSN)

Questions:

1. Masih adakah dosa tersembunyi yang kita biarkan “tinggal” tanpa kita bereskan?
2. Pelajaran apa yang bisa kita petik dari kehidupan jemaat di Tiatira?

Values:

Jangan gunakan kasih sebagai alasan untuk menoleransi dosa sebab kasih sejati tidak mengabaikan kebenaran tetapi menuntun kepada pertobatan.

Kingdom Quotes:

Kasih tanpa kebenaran menjadi kompromi dan kebenaran tanpa kasih menjadi kekerasan.