KASIH YANG BERLANDASKAN HIKMAT
Senin 14 September 2026
Bacaan Setahun: Yes. 33:1–35:10 Gal. 1:1–24 Mzm. 107:10–22
“Lihat, Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala, sebab itu hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati.” (Matius 10:16)
Allah adalah kasih. Benar. Hanya saja, kita harus ingat bahwa kasih tidak selalu berarti mengiyakan semua permintaan. Bayangkan apa yang terjadi kalau orang tua selalu menuruti permintaan anak. Kacau bukan?
Yesus penuh belas kasih. Benar. Kepada orang yang tepat, pada waktu dan tempat yang tepat. Kadang ada pandangan bahwa anak Tuhan tidak boleh menolak dan selalu memberi (waktu, tenaga, uang) kepada semua yang meminta. Saat seseorang tidak melakukannya, kadang ada yang menganggap tidak mengasihi atau “kurang Kristen”. Tapi perhatikan, Yesus pernah membalik meja di Bait Suci, menyebut orang Farisi keturunan ular beludak. Menegur Petrus, meski kata-katanya terdengar “baik” saat membahas penderitaan-Nya yang akan datang (Matius 16:22). Dan membiarkan orang kaya pergi tanpa mengajarnya (Matius 19:16–22). Apakah karena Yesus kurang mengasihi mereka? Tentu tidak.
Ketika saudara kita dengan sengaja melakukan hal yang jelas salah dan merugikan maka menegurnya dengan cara yang benar adalah hal yang paling menunjukkan compassion (belas kasih/kepedulian). Tujuannya untuk kebaikan orang tersebut dan kita sama sekali tidak mendapatkan keuntungan, sekaligus mencegah dampak buruk selanjutnya dalam hidupnya maupun orang lain yang terkena imbasnya.
Ketika ada yang membuat kita merasa semua yang kita lakukan selalu baik dan sempurna—bahkan terus mendukung tanpa hikmat—kita harus waspada dan merujuk pada Firman. Itu BUKAN compassion. Bahkan ini bukan hanya soal manusia (teman palsu, penjilat, dan lain-lain), tapi juga AI yang sering melakukan hal serupa, namanya echo chamber. Kalau kita biarkan, bisa jadi kita salah jalan. Sebaliknya, kita juga jangan melakukan itu, sehingga saudara kita menjadi sesat. Bayangkan seandainya Yesus menyetujui dan mengikuti keinginan Petrus. Hari ini tidak ada keselamatan bagi kita.
Pun demikian, setelah kita menegur, atau memberi nasihat dengan compassion berdasarkan hikmat Tuhan, jika orang itu tetap menolak dan pergi, kadang yang terbaik adalah membiarkannya. Minimal ada dua alasan: pertama, kita bisa saja salah. Kedua, meski kita benar, Tuhan sanggup menggunakan cara dan orang lain untuk ulahnya. Doakan, lalu jika perlu, bertindaklah. Lalu biarkan Allah yang menjadi Allah dalam hidupnya (dan Anda). Karena itu, meski belas kasih itu baik, ini harus selalu kembali pada kebenaran Firman. Marilah kita meminta hikmat dari Allah agar bisa membedakan takarannya. (SO)
Questions:
- Pernahkah Anda mengira bahwa meneladani Yesus berarti harus mengiyakan semua permintaan orang?
- Batasan apa yang mungkin perlu Anda terapkan untuk “mengasihi domba dari kaki anda” (Matius 10:14) terhadap hal yang seharusnya tidak mendapat compassion?
Values:
Compassion selalu mendukung visi dan misi jangka panjang, bukan hanya indah sesaat.
Compassion without wisdom turns it into excuse and permissiveness.