KEMBALI PADA KASIH MULA-MULA
Bacaan Setahun:
Luk. 1:57-80
Yeh. 35-36
Yes. 59
“Namun demikian Aku mencela engkau, karena engkau telah meninggalkan kasihmu yang semula. Sebab itu ingatlah betapa dalamnya engkau telah jatuh! Bertobatlah dan lakukanlah lagi apa yang semula engkau lakukan. Jika tidak demikian, Aku akan datang kepadamu dan Aku akan mengambil kaki dianmu dari tempatnya, jikalau engkau tidak bertobat.” (Wahyu 2:4-5)
Kota Efesus Terletak di Asia Kecil (sekarang Turki bagian barat), dekat Laut Aegea yang merupakan kota metropolitan besar, pusat perdagangan, budaya, dan agama pada masa Romawi. Kota Efesus terkenal dengan Kuil Artemis (Dewi Diana) yang juga menjadi pusat penyembahan berhala dan praktik okultisme. Gereja di Efesus didirikan oleh Rasul Paulus sekitar tahun 52 M (lihat Kisah Para Rasul 19:1–10) dan Rasul Paulus pernah tinggal di Efesus selama tiga tahun dan ia menjadikannya sebagai pusat pelayanan Injil di seluruh Asia Kecil (Kisah Para Rasul 20:31). Namun Yesus menegur mereka karena mereka telah meninggalkan kasih mula-mula.
Di masa awal mereka percaya, jemaat Efesus sangat mencintai Tuhan Yesus dengan tulus dan penuh gairah, namun seiring waktu kasih kepada Kristus mulai berkurang. Kasih itu telah berubah menjadi rutinitas keagamaan. Memang Yesus juga memberikan apresiasi bagi mereka: “Aku tahu segala pekerjaanmu: baik jerih payahmu maupun ketekunanmu. Aku tahu bahwa engkau tidak dapat sabar terhadap orang jahat…” Mereka masih rajin, disiplin, bahkan kuat melawan ajaran sesat, tetapi hati mereka mulai dingin.
Seperti halnya seseorang yang baru jatuh cinta, ia memiliki gairah yang besar, dan serasa ingin selalu dekat dengan kekasihnya, ia tidak merasa terbeban melakukan apa pun untuk kekasihnya dan segala sesuatu dilakukan dengan sukacita dan penuh semangat, namun gairah itu mulai redup dan padam karena tidak dijaga. Yesus memperingatkan mereka agar bertobat dan lakukan kembali perbuatan-perbuatan yang dulu dilakukan dengan kasih. Dengan bertobat berarti mengakui bahwa hati mulai dingin dan minta Tuhan menyalakan kembali api kasih itu. Perbuatan-perbuatan yang dulu pernah dilakukan dengan kasih yaitu: berdoa dengan kerinduan kepada Tuhan, membaca firman dengan sukacita, melayani dengan hati tulus dan menyembah karena cinta, bukan sekadar kewajiban agamawi.
Gereja Efesus bisa menjadi peringatan bagi kita semua warga Keranaan Allah dalam menyongsong kedatangan Sang Raja yang kedua. Jika saat ini, seiring dengan berjalannya waktu kita mulai sibuk bekerja untuk Tuhan tapi melupakan Tuhan yang kita layani. Kita hanya berfokus pada kesempurnaan pelayanan bukan pada hubungan pribadi dengan Kristus. Atau kita hanya aktif dalam pelayanan dan memiliki ajaran yang benar, tapi tanpa keintiman dengan Tuhan maka semuanya itu kosong. Ingat kembali kasih mula-mula saat kita mengenal Kristus. Kita rajin berdoa dan membaca firman bukan karena kewajiban, tapi karena rindu mengenal Tuhan. Kita melayani dengan hati yang penuh kasih bukan sekadar tanggung jawab atau mencari posisi. Kita mengasihi sesama tanpa menghitung untung-rugi dan bukan karena paksaan. Ingat dan mulai lagi kembali masa ketika kasih kita kepada Tuhan begitu hidup karena Tuhan kita lebih menghargai hubungan pribadi daripada sekedar aktivitas keagamaan. (RSN)
Questions:
1. Mengapa Yesus memberikan teguran kepada Jemaat di Efesus?
2. Pelajaran apa yang bisa kita petik dari kehidupan jemaat di Efesus?
Values:
Kasih mula-mula adalah cinta yang murni, bergairah, dan penuh kerinduan akan Tuhan — cinta yang membuat kita melayani bukan karena kewajiban, tapi karena kita jatuh cinta kepada Yesus.
Kingdom Quotes:
Tuhan lebih menghargai hubungan pribadi daripada sekadar aktivitas keagamaan.