Keputusan | Pdt. Christy Indra Tjiptamulja

“Aku telah memilih jalan kebenaran, telah menempatkan hukum-hukum-Mu di hadapanku.” (Mazmur 119:30)

Setiap hari manusia diperhadapkan pada berbagai pilihan. Ada keputusan yang tampak sederhana, namun ada pula yang menentukan arah hidup seseorang untuk selamanya. Dalam khotbah bertema “Keputusan”, Kehidupan kita sebagai orang percaya tidak ditentukan oleh keadaan, melainkan oleh keputusan-keputusan yang kita ambil berdasarkan firman Tuhan.

Mazmur 119:30 menjadi dasar bahwa Daud secara sadar memilih jalan kebenaran dan menempatkan hukum Tuhan di hadapannya. Sikap ini menjadi teladan bagi setiap orang percaya. Keputusan yang benar bukanlah keputusan yang mengikuti tren dunia, melainkan keputusan yang selaras dengan kehendak Allah. Sebagai warga Kerajaan Allah, orang percaya memang akan hidup berbeda dengan dunia. Nilai-nilai Kerajaan Allah sering kali bertentangan dengan nilai dunia yang semakin jauh dari Tuhan. Karena itu, setiap keputusan harus diukur dengan firman Tuhan, bukan dengan logika, budaya, atau keuntungan sesaat.

Keputusan Dimulai dari Keluarga

Yosua berkata, “Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN.” (Yosua 24:15). Pernyataan ini bukan sekadar slogan, tetapi sebuah keputusan iman yang harus diwujudkan dalam kehidupan keluarga.

Sebagai keluarga Kristen kita harus mengajarkan kepada anak-anak untuk mengenal dan menyembah Tuhan yang benar, yaitu Yesus Kristus. Di tengah dunia yang penuh pengaruh, orang tua bertanggung jawab membangun fondasi iman sehingga anak-anak tidak mudah terbawa arus penyembahan kepada “allah-allah” lain dalam berbagai bentuknya.

Pilihan yang Bijaksana

Firman Tuhan memberikan contoh orang-orang yang mengambil keputusan dengan benar. Salah satunya adalah Rut. Rut memilih meninggalkan Moab dan mengikuti Naomi sambil berkata, “Allahmulah Allahku”. Keputusan ini mengubah seluruh masa depannya hingga ia menjadi bagian dari garis keturunan Mesias.

 

Demikian pula Maria, saudara Marta, memilih duduk di kaki Yesus mendengarkan firman-Nya. Yesus menyatakan bahwa Maria telah memilih bagian yang terbaik. Pelayanan memang penting, tetapi hubungan dengan Tuhan harus selalu menjadi prioritas utama.

Pelajaran pentingnya adalah bahwa orang percaya dipanggil bukan sekadar memilih yang baik, melainkan memilih yang benar menurut firman Tuhan. Yang benar pasti baik, tetapi yang terlihat baik belum tentu benar.

Jalan yang Sempit Membawa Kehidupan

Yesus mengajarkan bahwa pintu menuju kehidupan adalah sempit, sedangkan jalan menuju kebinasaan sangat lebar. Dunia menawarkan banyak kenikmatan, kenyamanan, dan kesenangan yang tampak menarik. Namun jalan tersebut sering kali membawa manusia menjauh dari Tuhan. Sebaliknya, jalan Tuhan menuntut penyangkalan diri, ketaatan, dan kesetiaan.

Melalui Ulangan 30:19-20, Tuhan mengajak umat-Nya memilih kehidupan dengan cara mengasihi Tuhan, mendengarkan suara-Nya, dan berpaut kepada-Nya. Berkat Tuhan bukanlah hasil keberuntungan, melainkan buah dari hidup yang melekat kepada-Nya.

Mengambil Keputusan yang Tepat

Setelah seseorang memiliki banyak pilihan, tibalah saat untuk mengambil keputusan. Pilatus memberikan pilihan kepada orang banyak antara Yesus dan Barabas. Mereka memilih Barabas, seorang penjahat, dan menolak Yesus Sang Juruselamat. Keputusan yang salah itu menjadi gambaran bahwa manusia sering memilih apa yang memuaskan keinginan sesaat daripada kebenaran.

Yesus juga bertanya kepada murid-murid-Nya, “Apakah kamu tidak mau pergi juga?” (Yohanes 6:67). Banyak murid meninggalkan Yesus ketika ajaran-Nya terasa sulit. Namun murid-murid yang tetap tinggal menunjukkan bahwa mengikuti Kristus adalah sebuah keputusan yang harus dipertahankan sekalipun menghadapi penderitaan.

Waspada terhadap Ilah-Ilah Palsu

Ilah palsu tidak selalu berbentuk patung. Apa pun yang mengambil tempat Tuhan dalam hati manusia dapat menjadi berhala: uang, jabatan, hobi, kesenangan, bahkan kenyamanan hidup. Dunia menawarkan begitu banyak hal yang tampak menguntungkan, tetapi akhirnya membawa kebinasaan karena dapat membuat seseorang meninggalkan Tuhan. Karena itu, orang percaya harus tetap setia kepada Tuhan yang hidup dan tidak menukar kemuliaan Allah dengan sesuatu yang sementara.

Menjadi Umat Pilihan Tuhan

Ulangan 26 mengajarkan bahwa Tuhan memilih umat-Nya agar menjadi umat kesayangan yang hidup menurut ketetapan-Nya. Ketika umat Tuhan setia mendengarkan firman dan menaati perintah-Nya, Tuhan sendiri akan mengangkat mereka menjadi umat yang terpuji, ternama, dan terhormat. Ketaatan kepada firman bukanlah beban, melainkan jalan menuju kehidupan yang diberkati. Tuhan tidak pernah meninggalkan orang-orang yang tetap berpaut kepada-Nya sekalipun dunia mengalami berbagai goncangan.

Tuhan Membuktikan Diri-Nya

Di Gunung Karmel, ketika Elia tetap berdiri bagi Tuhan yang benar, Allah menjawab dengan api dari langit sehingga seluruh bangsa mengakui bahwa Tuhanlah Allah. Peristiwa ini mengajarkan bahwa Tuhan sanggup membuktikan kuasa-Nya kepada mereka yang setia kepada-Nya. Tugas orang percaya bukan mengikuti arus dunia, melainkan hidup sebagai pelaku firman sehingga kehidupan mereka menjadi kesaksian yang membawa orang lain mengenal Kristus.

Hidup adalah rangkaian keputusan. Setiap keputusan akan menentukan arah kehidupan, keluarga, bahkan generasi berikutnya. Karena itu, orang percaya dipanggil untuk memilih jalan kebenaran, mengutamakan Kerajaan Allah, menjauhi ilah-ilah palsu, serta tetap berpaut kepada Tuhan dalam segala keadaan. Ketika firman Tuhan menjadi dasar setiap keputusan, orang percaya tidak perlu takut menghadapi dunia yang semakin gelap. Tuhan yang hidup akan memimpin, melindungi, membuka jalan, dan menyatakan kemuliaan-Nya melalui kehidupan setiap orang yang tetap setia kepada-Nya. Seperti pengakuan bangsa Israel pada zaman Elia, kiranya melalui kehidupan kita banyak orang dapat berkata, “TUHAN, Dialah Allah!”  Amin. (RCH)