KESATUAN YANG BERDASAR PADA KEBENARAN

KESATUAN YANG BERDASAR PADA KEBENARAN 

Bacaan Setahun:

1 Pet. 1, Yer. 31-32, Mzm. 134

“Tetapi aku menasihatkan kamu, saudara-saudara, demi nama Tuhan kita Yesus Kristus, supaya kamu seia sekata dan jangan ada perpecahan di antara kamu, tetapi sebaliknya supaya kamu erat bersatu dan sehati sepikir.” (1 Korintus 1:10)

Perselisihan di dalam komunitas orang percaya? “Ah, sudah biasa”, kata seorang teman ketika mendengar ada perselisihan di dalam jemaat. Memang benar, gereja bukanlah kumpulan malaikat. Namun, jika perselisihan tidak diselesaikan dan berujung pada perpecahan, bukankah hal itu sungguh menyedihkan?

Banyak gereja tidak bertumbuh bukan karena Tuhan tidak melawat, melainkan karena di dalamnya ada perselisihan yang dibiarkan. Pertikaian yang tidak kunjung diselesaikan melahirkan perpecahan dan akhirnya menjadi batu sandungan bagi jemaat. Hal serupa juga dialami jemaat di Korintus (1 Korintus 1:11–12). Salah satu penyebab perpecahan mereka adalah klaim-klaim golongan yang didasarkan pada penghormatan berlebihan kepada pemimpin tertentu. Mereka mengagungkan satu pemimpin, tetapi merendahkan yang lain. Pemujaan berlebihan seperti ini pada akhirnya dapat menjadi wujud pemujaan diri, karena orang lebih bangga dengan identitas kelompok daripada dengan Kristus yang sejati.

Kepada jemaat Korintus, Paulus memberi nasihat tegas: Bersatulah! Kesatuan seperti apa yang dimaksud Paulus? Dalam bahasa aslinya, frasa sehati sepikir berarti satu dalam akal budi dan pengertian (rasio). Artinya, Paulus tidak sekadar berkata, “Tidak masalah berbeda pendapat, yang penting tetap rukun.” Ia justru mendesak jemaat untuk menundukkan selera pribadi dan kepentingan kelompok di bawah kebenaran Firman. Kesatuan yang sejati bukanlah kompromi murahan, melainkan kesepahaman yang bertumpu pada kebenaran Allah. Hal ini sejalan dengan Roma 15:5–6, di mana Paulus menegaskan bahwa kesatuan jemaat harus didasarkan pada kebenaran sehingga dengan satu suara mereka dapat memuliakan Tuhan. Tujuan utama kesatuan bukanlah demi kenyamanan, tetapi agar nama Allah ditinggikan.

Bagaimana dengan kita? Jika ada perbedaan dalam komunitas kita, mari duduk bersama mencari tuntunan Tuhan. Mohonlah Roh Kudus menjelaskan melalui Firman, mana yang benar dan berkenan kepada-Nya. Jika ternyata pendapat kita keliru, belajarlah rendah hati untuk mengakuinya dan menyesuaikan diri dengan kebenaran. Jika pendapat kita benar, tetaplah rendah hati untuk merangkul mereka yang keliru. Sebab, bisa jadi suatu saat kitalah yang perlu diluruskan.

Inilah kedewasaan rohani yang sejati: kesediaan untuk tunduk pada kebenaran dan membangun kesatuan demi Kristus. Rasul Paulus mengingatkan, “Sampai kita semua telah mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus” (Efesus 4:13). (AU)

Questions:

1. Menurut Anda, apa sumber perpecahan yang terjadi dalam gereja?
2. Menurut Anda, kedewasaan rohani seperti apakah yang harus ada dalam komunitas rohani?

Values:

Kerendahan hati adalah kunci untuk menyelesaikan perbedaan dan membangun kedewasaan rohani.

Kingdom Quotes:

Kesatuan jemaat bukanlah kompromi demi rukun, tetapi kerendahan hati untuk tunduk bersama pada kebenaran Kristus.