KESETARAAN LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN DALAM TUHAN
Bacaan Setahun:
2 Tes. 3, Yes. 29-30, Mzm. 119:1-32
“Namun demikian, dalam Tuhan tidak ada perempuan tanpa laki-laki dan tidak ada lakilaki tanpa perempuan. Sebab sama seperti perempuan berasal dari laki-laki, demikian pula laki-laki dilahirkan oleh perempuan; dan segala sesuatu berasal dari Allah.” (1 Korintus 11:11-12)
Syair lagu “Sabda Alam”: Diciptakan alam pria dan wanita. Dua makhluk dalam asuhan dewata. Ditakdirkan bahwa pria berkuasa. Adapun wanita lemah lembut manja. Wanita dijajah pria sejak dulu. Dijadikan perhiasan sangkar madu. Namun ada kala pria tak berdaya. Tekuk lutut di sudut kerling wanita.”
Syair ini melukiskan bagaimana perempuan kerap hidup dalam bayang-bayang kekuasaan laki-laki. Namun, hal itu bukanlah rencana Allah sejak awal. Kitab Kejadian menegaskan bahwa laki-laki dan perempuan diciptakan menurut gambar Allah untuk bersamasama memuliakan-Nya. Sayangnya, budaya yang berlaku pada masa itu sering kali merendahkan perempuan. Dalam masyarakat Yahudi, hanya laki-laki yang diperbolehkan memimpin doa di sinagoge, sementara perempuan dibatasi. Di Korintus pun, budaya penyembahan berhala kepada dewi kesuburan memperlakukan perempuan sebagai pelacur bakti. Bahkan dalam tradisi Yahudi, perempuan tidak memiliki hak dan kebebasan yang setara dengan laki-laki.
Di tengah situasi itu, Rasul Paulus membawa perubahan. Ia memberi ruang bagi perempuan untuk melayani di dalam jemaat, termasuk berdoa dan bernubuat. Akan tetapi, Paulus juga menekankan pentingnya sikap hormat. Ia meminta agar perempuan yang melayani tetap mengenakan penudung kepala (1 Korintus 11:7). Ada dua alasan utama. Pertama, pada dunia kuno Mediterania, rambut perempuan dianggap pusat daya tarik yang menimbulkan nafsu laki-laki. Perempuan menikah yang tidak menudungi kepalanya akan dianggap tidak setia, bahkan disamakan dengan perempuan tunasusila yang mencari pasangan lain. Kedua, dalam pandangan Yunani dan Yahudi, suami adalah kepala dari istri (1 Korintus 11:3, 8). Maka, perempuan yang tidak menudungi kepala dianggap merendahkan suaminya. Dengan demikian, penudung kepala menjadi simbol kesetiaan, kesopanan, dan penghormatan. Namun, pesan utama Paulus bukanlah soal aturan berpakaian, melainkan esensi pelayanan yang harus memuliakan Allah. Kebebasan melayani yang diberikan kepada perempuan bukan untuk kebanggaan diri, melainkan untuk menegaskan identitas mereka sebagai pribadi yang setia dan tunduk kepada Allah.
Bagaimana dengan gereja masa kini? Kita melihat banyak perempuan dipanggil menjadi hamba Tuhan sepenuh waktu, melayani sebagai pendeta, pengajar, maupun pemimpin rohani. Perbedaan gender tidak lagi menjadi halangan dalam pelayanan. Sebaliknya, setiap orang percaya—baik laki-laki maupun perempuan—dipanggil untuk menggunakan kebebasan rohani yang Allah berikan demi memuliakan Kristus. Kebebasan dalam pelayanan bukan sekadar hak, tetapi tanggung jawab. Allah memberi kita kesempatan untuk melayani agar melalui hidup kita, kemuliaan-Nya semakin nyata. Karena itu, mari gunakan karunia, kesempatan, dan kebebasan yang kita miliki untuk memuliakan Sang Kepala Gereja, yaitu Kristus sendiri. (AU)
Questions:
1. Sudahkah Anda melayani untuk memuliakan Allah?
2. Apakah sikap Anda mencerminkan hormat kepada Kristus?
Values:
Kebebasan dalam pelayanan adalah anugerah, tetapi harus dijalani dengan sikap hormat dan tujuan memuliakan Kristus.
Kingdom Quotes:
Dalam setiap pelayanan, hormat kita tertuju pada Kristus, Sang Kepala.