KESOMBONGAN ADALAH MUSUH DALAM DIRI YANG HARUS DITAKLUKKAN

KESOMBONGAN ADALAH MUSUH DALAM DIRI YANG HARUS DITAKLUKKAN 

Bacaan Setahun:

Kis. 24:10-27
Hak. 21
Mzm. 46

“Manusia yang sombong akan direndahkan, dan orang yang angkuh akan ditundukkan; dan hanya TUHAN sajalah yang maha tinggi pada hari itu.” (Yesaya 2:11)

Kesombongan adalah musuh dalam diri yang sering kali tidak kita sadari. Ia bekerja secara halus, menyelinap ke dalam pikiran dan hati, membuat kita merasa lebih unggul dari orang lain. Tanpa disadari, kesombongan membuat kita menganggap diri lebih penting, lebih pintar, atau lebih berjasa dibandingkan orang lain. Ini adalah sifat dasar manusia yang telah jatuh dalam dosa—keinginan untuk menjadi pusat dari segala sesuatu.

Sejarah kesombongan bermula dari kejatuhan manusia di Taman Eden. Iblis menipu Hawa dengan mengatakan bahwa jika ia memakan buah dari pohon pengetahuan, ia akan menjadi seperti Allah. Sejak saat itu, manusia berusaha hidup secara independen, tidak bergantung pada Allah, dan ingin menguasai kehidupannya sendiri. Kesombongan berkembang dalam berbagai bentuk, bahkan dalam sikap yang terselubung, seperti iri hati dan rasa terancam. Contohnya adalah Raja Saul yang cemburu kepada Daud karena lebih dipuji rakyat.

Kesombongan sering kali semakin nyata saat seseorang memperoleh kekuasaan, kekayaan, atau kedudukan tinggi. Abraham Lincoln pernah berkata, “Jika ingin melihat karakter seseorang, beri dia kekuasaan.” Sering kali, orang yang awalnya rendah hati berubah saat mencapai kesuksesan. Oleh karena itu, kita harus menjaga hati agar tidak terjebak dalam kesombongan. Salah satu caranya adalah dengan tetap melayani orang lain dan mengingat perjalanan hidup kita sebagai bentuk refleksi diri.

Bagaimana cara mengalahkan kesombongan? Pertama, kita harus belajar untuk tidak selalu ingin menjadi pusat perhatian. Kesombongan tumbuh dari pujian dan ketenaran, sehingga kita perlu lebih memikirkan kepentingan orang lain daripada mencari pengakuan. Kedua, sadari bahwa semua yang kita miliki hanyalah titipan dari Tuhan—jabatan, harta, dan talenta bukanlah milik kita, melainkan anugerah Tuhan yang harus digunakan dengan bijaksana. Ketiga, hiduplah dalam pimpinan Roh Kudus. Rasul Paulus berkata, “Hiduplah oleh Roh, maka kamu tidak akan menuruti keinginan daging.” (Galatia 5:16). Dengan membiarkan Roh Kudus memimpin, kita dapat menghindari kesombongan. Keempat, doa dan puasa adalah cara ampuh untuk melawan kesombongan. Saat kita berdiam diri dalam doa dan merenungkan firman Tuhan, kita semakin menyadari bahwa pencapaian duniawi bukanlah hal utama.

Kesombongan bukanlah sesuatu yang bisa dikalahkan dalam semalam, tetapi harus diperangi setiap hari. Jika tidak dikenali sejak dini, kesombongan dapat mengakar dalam hati dan menghancurkan hidup kita. Mari belajar hidup dengan rendah hati, karena Tuhan menentang orang yang congkak dan mengasihani orang yang rendah hati. (DD)

Questions:
1. Dalam hal apa kesombongan sering kali muncul dalam hidup kita ?
2. Bagaimana kita mengubah pola pikir dan kebiasaan agar tidak terjebak dalam sikap sombong?

Values:
Persyaratan menjadi warga Kerajaan Sorga adalah menanggalkan mahkota kesombongan kita dan mengijinkan Sang Raja berdaulat atas hidup kita.

Kingdom Quotes:
Kerendahan hati sejati telah diteladankan oleh Sang Raja yang rela berkorban sampai di kayu Salib.