KETIDAKPEDULIAN

KETIDAKPEDULIAN 

Bacaan Setahun:

1 Tes. 4, Yes. 20-22, Mzm. 115

“Kata Abraham kepadanya: Jika mereka tidak mendengarkan kesaksian Musa dan para nabi, mereka tidak juga akan mau diyakinkan, sekalipun oleh seorang yang bangkit dari antara orang mati.” (Lukas 16:31)

Banyak orang mungkin berpendapat terlalu sering menonton format video pendek di media sosial bisa menyebabkan ‘brain rot,’ bahkan tidak membangun iman. Namun ada juga gambar yang mungkin membuat kita tertegun dan meluangkan waktu berefleksi sejenak. Beberapa gambar hasil akal imitasi menceritakan seorang karyawan yang dimarahi oleh pimpinannya di kantor dengan kata-kata yang tergolong ‘cemeti lidah,’ menikam seperti pedang (Amsal 12:18). Sesampainya di rumah, istrinya sedang ‘scrolling’ dan ‘update’ status di gadgetnya, lalu menegur kenapa ia pulang malam, sebaiknya tidak usah pulang sekalian, lalu sang istri kembali melanjutkan aktivitas ‘phubbing,’ asyik dengan telpon pintarnya dan tidak memedulikannya lagi; sementara anaknya protes kenapa sang ayah membeli makanan yang sama terus.

Dalam perumpamaan tentang orang kaya dan Lazarus, Tuhan Yesus mengungkapkan sebuah kenyataan menyedihkan tentang ketidakpedulian manusia terhadap penderitaan sesama. Wujud penderitaan tidak selalu sekontras kisah orang kaya yang hidup dalam kemewahan dan berpesta setiap hari dengan pengemis miskin yang sedang sakit dan berharap remah makanan yang jatuh dari meja orang kaya tersebut. Namun penderitaan dapat berupa suatu keadaan ketika seseorang diabaikan, tidak dipedulikan, tidak ditolong, tidak dihargai atau ditolak; karena penolakan bagi sementara orang akan terasa menyakitkan. Sementara sesama kita pastinya selalu dimulai dari keluarga, ibarat dari Yerusalem, lalu ke Yudea, Samaria dan sampai ke ujung dunia (Kisah Para Rasul 1:8).

Orang kaya dalam kisah tersebut tidak tercatat bahwa ia memperhatikan, peduli atau menolong Lazarus. Ia tidak berbuat jahat secara langsung, tetapi ia bersalah karena ia tidak berbelas kasihan, membiarkan penderitaan orang lain, padahal ia mampu menolong. Wajah nyata ketidakpedulian bukan selalu kebencian dan kekerasan, tetapi mengabaikan kesusahan orang di sekitar kita dan terlalu fokus pada kenyamanan diri sendiri. Sebagai akibatnya, orang kaya itu menerima hukuman kekal, suatu pemisahan total dari kenyamanan dan kasih Tuhan.

Perumpamaan ini menegaskan bahwa ketidakpedulian bukanlah dosa kecil. Tuhan menuntut kita untuk peduli, bukan hanya lewat kata, tetapi melalui tindakan nyata. Banyak Lazarus modern yang kita temui, yakni mereka yang miskin, tersingkir dan menderita, yang menanti uluran kasih. Sebagai warga Kerajaan, kita dipanggil tidak sekedar melihat namun tergerak oleh belas kasihan dan bertindak, karena kasih sejati tidak tinggal diam, seperti Tuhan Yesus yang senantiasa tergerak oleh belas kasihan-Nya. (YL)

Questions:

1. Mengapa Abraham menolak permintaan orang kaya untuk mengutus Lazarus memperingatkan saudara-saudaranya?
2. Apakah relevansi kisah tersebut bagi kehidupan kita saat ini?

Values:

Gaya hidup warga Kerajaan Sorga ialah memedulikan kesusahan orang lain.

Kingdom Quotes:

Dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga. (Filipi 2:4)