KOIN JANDA MISKIN

KOIN JANDA MISKIN 

Bacaan Setahun:

Gal. 1
Yer. 47-48
Mzm. 142

“Ketika Yesus mengangkat muka-Nya, Ia melihat orang-orang kaya memasukkan persembahan mereka ke dalam peti persembahan. Ia melihat juga seorang janda miskin memasukkan dua peser ke dalam peti itu. Lalu Ia berkata: ”Aku berkata kepadamu, sesungguhnya janda miskin ini memberi lebih banyak dari pada semua orang itu. Sebab mereka semua memberi persembahannya dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, bahkan ia memberi seluruh nafkahnya.” (Lukas 21:1-4)

Beberapa di antara kita mungkin tidak sadar akan salah satu hal selama ini. Sesuatu yang terlihat sederhana namun bermakna. Hal yang kita anggap biasa, kini menjadi luar biasa. Hal-hal tersebut adalah tentang kehidupan kita sehari-hari. Bagaimana kita memiliki pakaian yang layak untuk pantas dipakai, tempat tinggal untuk kita berteduh, sahabat dalam perjalanan kehidupan dan hal lainnya. Pemeliharaan Allah atas hidup kita sungguh nyata melalui hal-hal yang sederhana. Lalu, bagaimana kita dapat membalas karya dan kasih-Nya atas kita?

Dalam bacaan Injil hari ini, kita membaca kisah mengenai “Persembahan Janda Miskin”. Diceritakan bahwa Kristus hadir di Bait Allah dan memperhatikan setiap orang yang memberikan persembahan. Tuhan tahu bahwa banyak orang memberi melalui kelebihan mereka sebab Ia mengenal isi hati orang-orang. Allah tidak memandang remeh persembahan yang diberikan, tetapi Ia mengajak kita untuk mendalami arti dari persembahan. Persembahan bukan soal nilai yang diberikan, tetapi sikap dan motivasi yang mendasari persembahan tersebut.

Pada lingkup masyarakat Israel, perempuan dipandang harus menetap di rumah dan menjalankan perannya sebagai istri dan ibu rumah tangga. Perempuan juga dibatasi ruang geraknya ke sana ke mari, termasuk untuk pergi ke Bait Allah. Sungguh suatu keadaan yang tidak baik bagi seorang perempuan pada masa itu. Kebutuhan sehari-hari dapat dipastikan juga tidak terpenuhi secara cukup, oleh karena ruang gerak yang terbatas. Meski demikian, janda miskin tersebut masih mampu memberikan persembahan dengan nilai yang kecil, yakni dua peser. Uang tersebut dibuat dengan bahan dasar perunggu. Peser juga merupakan mata uang yang nilainya kecil dan bentuknya juga mungil.

Tuhan Yesus memuji janda miskin tersebut bukan karena nilai uang melainkan kerelaan, pengorbanan dan motivasi persembahannya tersebut. Bagi kita, mungkin dua peser tidaklah bermakna, tetapi tidak dengan janda miskin tersebut. Dua peser tersebut berarti baginya karena dapat membeli makanan untuk kebutuhannya. Tetapi, ia justru memberikan seluruh nafkahnya melalui kekurangannya dan memberikan semua keperluannya untuk hidup bakti bagi Allah. Dalam kehidupan kita sehari-hari, apakah kita juga mempersembahkan segala sesuatunya kepada Tuhan dengan kerelaan atau keterpaksaan? Sudahkah kita meletakkan kepercayaan kepada Allah dengan jaminan bahwa Ia mampu mencukupkan dan tidak membuat kita berkekurangan? (AH)

Questions:

1. Mengapa Tuhan memuji janda miskin yang memberikan persembahan dua peser?
2. Apa motivasi kita dalam mempersembahkan sesuatu kepada Kristus?

Values:

Persembahan kita yang nampaknya tidak seberapa, Tuhan mampu memakainya sebagai alat untuk mendatangkan kebaikan.

Kingdom Quotes:

Tuhan tidak memperhitungkan nilai yang akan kita persembahkan bagi-Nya, tetapi Dia melihat motivasi dibaliknya.