KONFLIK ANTAR PELAYAN

KONFLIK ANTAR PELAYAN 

Bacaan Setahun:

Rm. 6
1 Sam. 15
Mzm. 60

“Euodia kunasihati dan Sintikhe kunasihati, supaya sehati sepikir dalam Tuhan.” (Filipi 4:2 – TB)

Konflik adalah bagian dari kehidupan, dan sering kali kita mendengarnya dalam berbagai pemberitaan di media sosial maupun televisi. Secara umum, konflik merupakan fenomena sosial yang terjadi akibat pertentangan antara individu dengan individu, individu dengan kelompok, kelompok dengan kelompok, atau bahkan kelompok dengan pemerintah (Sumber: Wikipedia). Konflik muncul karena perbedaan ciri, latar belakang, dan cara pandang dalam suatu interaksi.

Namun, apakah konflik bisa terjadi di dalam gereja? Dalam bacaan kali ini, Rasul Paulus menyoroti pertikaian antara dua wanita pelayan jemaat di Filipi, Euodia dan Sintikhe. Meskipun penyebab konflik mereka tidak dijelaskan secara rinci, Paulus menegaskan bahwa perbedaan di antara mereka telah menghambat kesatuan dalam Tuhan. Padahal, mereka telah berjuang bersama Paulus demi Injil. Paulus ingin mengingatkan bahwa bagaimana mungkin gereja dapat menjadi saksi kebenaran Injil jika para pelayannya sendiri tidak dapat hidup dalam keharmonisan? Bagaimana jemaat dapat bersatu jika para pemimpinnya justru menjadi pemicu perpecahan?

Konflik antar pelayan bukanlah hal baru, tetapi bukan berarti boleh dianggap remeh. Ketidakcocokan ajaran, perbedaan pendapat antar pemimpin, serta pertentangan konsep sering kali terjadi seiring perkembangan gereja. Sayangnya, kondisi ini sering membuat jemaat kebingungan mencari ajaran yang paling benar dan teratur. Sebagai tubuh Kristus, kita dipanggil untuk hidup dalam kasih dan kesatuan, bukan dalam perpecahan. Gereja yang sehat adalah gereja yang menerapkan sikap saling menasihati, saling peduli, saling peka, dan saling menolong.

Hanya satu yang harus kita perjuangkan, yaitu kebenaran Injil di tengah dunia. Oleh karena itu, marilah kita berupaya untuk sehati sepikir, mengutamakan kepentingan bersama di atas ego pribadi, dan melayani dengan rendah hati. Seperti yang Paulus tuliskan dalam Filipi 2:24: “Karena itu sempurnakanlah sukacitaku dengan ini: hendaklah kamu sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan, dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya, hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama daripada dirinya sendiri; dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga.” Amin. (AU)

Questions:
1. Mengapa konflik dalam gereja dapat menghambat kesaksian Injil kepada dunia?
2.Bagaimana cara kita menjaga kesatuan dan keharmonisan dalam pelayanan di gereja?

Values:
Gereja harus menjadi tempat yang mencerminkan kasih dan persatuan, bukan perpecahan. Pelayanan harus dilakukan dengan sehati sepikir dalam Tuhan.

Kingdom Quotes:
Gereja yang sehat bukanlah gereja tanpa konflik, tetapi gereja yang mampu menyelesaikan konflik dengan kasih dan kerendahan hati.