KONTROL EMOSI

KONTROL EMOSI 

Bacaan Setahun:

1 Pet. 5
Yer. 39-40
Mzm. 138

“Orang yang sabar melebihi seorang pahlawan, orang yang menguasai dirinya, melebihi orang yang merebut kota.” (Amsal 16:32)

Ketika saya duduk di bangku sekolah dasar, sekitar tahun 1989–1994, sekolah kami rutin menyarankan setiap siswa untuk mengikuti tes IQ guna mengukur tingkat kecerdasan. Tes IQ berfokus pada bagaimana otak dan pikiran bekerja dalam menyelesaikan masalah. Namun, seiring perkembangan zaman, hasil tes IQ tidak lagi menjadi satu-satunya tolok ukur kecerdasan seseorang. Muncullah tes EQ, yang berfungsi mengukur tingkat kecerdasan emosional seseorang.
Dalam bukunya Emotional Intelligence: Why It Matters More Than IQ (1995), Daniel Goleman menjelaskan bahwa kecerdasan emosional adalah kemampuan seseorang untuk mengelola perasaan sehingga dapat diekspresikan dengan tepat. Ada dua hal penting dalam EQ ini. Pertama, kemampuan menyadari dan mengendalikan emosi diri sendiri. Kedua, kemampuan memahami dan merespons emosi orang lain dengan bijak.

Banyak konflik antarmanusia terjadi karena ketidakmampuan mengendalikan emosi. Sebagai orang Kristen, teladan utama kita adalah Yesus Kristus, yang hidup dalam kendali penuh atas emosi-Nya, selalu tunduk kepada kehendak Bapa, dan bertumbuh dalam kuasa kasih serta damai sejahtera Roh Kudus. Ia tidak membiarkan diri-Nya dikuasai kemarahan, kebencian, iri hati, atau ketakutan, tetapi memilih untuk tetap mengasihi bahkan mereka yang menyakiti-Nya.

Kita pun dipanggil untuk hidup dipimpin oleh Roh Kudus, sebagaimana tertulis dalam Galatia 5:22–23 (TB): “Tetapi buah Roh ialah kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu.” Saat Roh Kudus memimpin hidup kita, kita dimampukan untuk mengendalikan diri di tengah situasi apa pun.

Setelah mampu menguasai emosi pribadi, kita juga perlu belajar membantu meredakan emosi orang lain—baik karena kesalahpahaman yang tidak disengaja maupun karena sikap orang yang memang ingin memancing konflik. Sebagai pengikut Kristus, kita tidak boleh bertindak di luar dasar Firman Tuhan. Kita harus rendah hati untuk meminta maaf ketika bersalah dan rela mengampuni ketika disakiti.

Yesus memberikan perintah yang jelas tentang kasih dan pengampunan: “Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu” (Yohanes 13:34–35). Dan dalam Matius 6:14–15 ditegaskan, “Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di sorga akan mengampuni kamu juga.” Hidup yang dipenuhi kasih dan penguasaan diri adalah tanda nyata dari hati yang dikuasai oleh Roh Kudus. (AS)

Questions:

1. Apakah kita sudah belajar mengendalikan emosi dengan pertolongan Roh Kudus dalam setiap situasi?
2. Ketika orang lain menyakiti kita, apakah respons kita mencerminkan kasih dan pengampunan seperti yang diajarkan Yesus?

Values:

Kendalikan emosimu sebelum Iblis mengambil alih hidupmu.

Kingdom Quotes:

Mengendalikan emosi adalah bukti kedewasaan rohani; mengampuni adalah tanda bahwa kasih Kristus hidup di dalam kita.