KRISTEN DEGIL
Bacaan Setahun:
Yoh. 17, 2 Taw. 25, Mzm. 82
“Lalu Ia naik ke perahu mendapatkan mereka, dan anginpun redalah. Mereka sangat tercengang dan bingung, sebab sesudah peristiwa roti itu mereka belum juga mengerti, dan hati mereka tetap degil.” (Markus 6:51-52 – TB)
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata degil berarti keras kepala, tidak mau menurut, atau bandel. Istilah ini digunakan untuk menggambarkan seseorang yang sulit dinasihati atau enggan tunduk pada kebenaran yang sudah jelas. Dalam Injil Markus, istilah ini dikenakan kepada orang-orang Farisi yang menyaksikan mukjizat Yesus, namun tetap menolak untuk percaya bahwa Yesus adalah Mesias.
Namun, apakah sebutan degil juga pantas untuk para murid (Markus 6:52)? Mereka telah mengikuti Yesus dengan setia, menyaksikan karya-karya ajaib-Nya, bahkan mengalami sendiri kuasa-Nya. Mereka pernah berada di tengah badai dan melihat Yesus meneduhkan angin ribut. Mereka juga ikut serta saat lima ribu orang diberi makan dengan lima roti dan dua ikan. Namun, dikatakan bahwa “sesudah peristiwa roti itu, mereka belum juga mengerti, dan hati mereka tetap degil.”
Sungguh ironis. Murid-murid yang seharusnya paling mengenal Yesus justru belum benar-benar memahami siapa Dia. Mereka lambat mengerti, hati mereka tertutup, dan belum sepenuhnya percaya. Bahkan pengalaman spiritual yang luar biasa belum tentu menjamin kedalaman pengenalan akan Tuhan. Hal yang sama bisa saja terjadi pada kita. Kita menyebut diri orang percaya, aktif dalam pelayanan, rajin ke gereja, namun saat menghadapi tekanan hidup, kita lebih mengandalkan diri sendiri daripada bersandar kepada Tuhan. Kita masih mudah khawatir, cepat putus asa, dan bersikap seolah Tuhan tidak sanggup menolong.
Bagaimana agar kita tidak tetap degil? Sadarilah bahwa hanya anugerah Allah dan pekerjaan Roh Kudus yang sanggup membuka hati dan pikiran kita untuk mengerti dan percaya kepada Yesus dengan benar. Namun, kita pun memiliki tanggung jawab untuk memelihara relasi pribadi dengan Tuhan. Jika kita tidak membangun kedekatan dengan-Nya, mudah bagi hati menjadi keras. Peliharalah kehidupan rohani melalui pembacaan dan perenungan firman Tuhan setiap hari. Bangunlah disiplin doa dan keintiman dengan Tuhan. Jangan puas hanya dengan aktivitas rohani, tetapi rindukanlah hubungan yang nyata dan hidup bersama Yesus. Ia rindu menyatakan diri-Nya kepada mereka yang mencari-Nya dengan sungguh-sungguh.
Saat relasi kita dengan Tuhan semakin erat, maka hati kita pun akan semakin lembut dan peka terhadap kehendak-Nya. Kita akan lebih mudah diajar, ditegur, dan dibentuk oleh-Nya. Kita tidak akan lagi bersikap degil, tetapi menjadi pribadi yang rendah hati, taat, dan siap dipakai untuk kemuliaan-Nya. (AU)
Questions:
1. Apakah selama ini kita sudah benar-benar mengenal Yesus atau hanya sekadar tahu tentangNya?
2. Apa yang menghalangi kita untuk memiliki hati yang lembut dan taat kepada Tuhan?
Values:
Iman yang sejati ditandai oleh hati yang lembut, kerendahan untuk belajar, dan kedekatan yang nyata dengan Tuhan.
Kingdom Quotes:
Dekat dengan Tuhan bukan soal seberapa banyak kita melayani, tapi seberapa lembut hati kita untuk percaya dan taat kepada-Nya.