LAKI-LAKI TIDAK BERCERITA

LAKI-LAKI TIDAK BERCERITA

Bacaan Setahun:

Bilangan 15:1 – 16:35
Lukas 4:38 – 5:16
Mazmur 37:1–9

“Percayalah kepada-Nya setiap waktu, hai umat, curahkanlah isi hatimu di hadapanNya; Allah ialah tempat perlindungan kita.” (Mazmur 62:8)

Kita mungkin sering mendengar ‘meme’ di dunia maya “Laki-laki tidak bercerita”. Meme ini tidak hanya sekadar humor, tetapi juga mencerminkan realitas sosial yang dihadapi laki-laki dalam mengekspresikan perasaan mereka. Pola didikan sejak kecil yang diajarkan bahwa ‘laki-laki harus kuat’, ‘jangan menangis’ atau harus hadapi sendiri membentuk laki-laki menjadi pribadi yang terbiasa menahan cerita dan emosi, karena takut dianggap lemah. Tidak menutup kemungkinan seorang wanita yang terbiasa dididik secara keras dari kecilpun bisa berlaku demikian.

Padahal ketika kita menghadapi masalah yang begitu berat, salah satu cara yang terbukti efektif untuk menjaga kesehatan mental adalah dengan berbagi cerita. Kita perlu melihat keberanian dengan cakrawala baru. Keberanian untuk berbagi cerita dan mau terbuka ketika hidup terasa berat, karena keberanian bukan hanya tentang kuat berdiri sendirian.

Ketika seseorang menyimpan masalahnya sendirian maka pikirannya akan terus berputar (overthinking), emosi terpendam menumpuk sehingga stres meningkat tanpa adanya jalan keluar. Diam dan memendam membuat beban batin menggerogoti dari dalam. Secara mental keterbukaan membantu otak “mengurai” masalah, memberi rasa lega dan menurunkan tekanan emosional. Karena kesehatan mental bukan tentang tidak punya masalah, tetapi bagaimana seseorang mengolah emosi dengan benar.

Tentunya ketika kita berbagi cerita bukanlah mengadu, mengeluh atau menggerutu bahkan bersungut-sungut. Kita berbagi cerita dan terbuka pada pribadi dan tempat yang tepat, yaitu kepada Tuhan, kepada pasangan atau mentor (orang tua rohani) yang dipercaya. Terkadang kita tidak butuh saran tetapi hanya perlu didengarkan.

Mengungkapkan beban bukan kehilangan harga diri, itu justru memperoleh kelegaan. Tanda orang yang dewasa bukanlah yang memendam semuanya dalam diam, melainkan yang berani datang kepada Tuhan dan berani membangun komunikasi yang jujur dengan orang-orang yang dikasihinya. Diam dan memendam tidak membuat kita semakin kuat tetapi keterbukaan di hadapan Tuhan dan dalam kasih membuat kita bertumbuh menjadi pribadi yang dewasa dan semakin sehat secara rohani.

Yesus sendiri juga mengungkapkan ketakutan dan kesedihan (Matius 26:38), la menangis dan mengungkapkan dukacita-Nya (Yohanes 11:35) serta berbagi cerita dengan murid-murid-Nya dan berbicara terus terang kepada Bapa. Jika Yesus sendiri terbuka, maka setiap kita, khususnya laki-laki tidak dipanggil untuk memendam semuanya dalam diam. Bahkan Dia sendiri mengundang setiap kita yang letih lesu dan berbeban berat untuk datang kepada Nya dan diberikan kelegaan (Matius 11:28). (RSN)

Questions:

1. Bagaimana sikap anda ketika mengalami tekanan yang berat?
2. Kepada siapa kita bisa berbagi cerita dan bersikap terbuka?

Values:

Jaga kesehatan mental dengan berbagi cerita di tempat yang tepat, bukan mengeluh, karena terkadang kita hanya perlu didengarkan.

Kingdom Quotes:

Kesehatan mental bukan tentang tidak punya masalah, tetapi bagaimana seseorang mengolah emosi dengan benar.