LAMPU LALU LINTAS

LAMPU LALU LINTAS

Bacaan Setahun:

Bilangan 19:1 – 21:3
Lukas 5:33 – 6:11
Amsal 8:1–11

“Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.” (Roma 12:2 – TB)

Di jalan raya, kita tentu sudah akrab dengan lampu lalu lintas. Lampu merah berarti berhenti, lampu kuning berarti waspada atau berhati-hati, dan lampu hijau berarti berjalan. Setiap pelanggaran terhadap rambu lalu lintas dapat berakibat fatal, menyebabkan kecelakaan, serta melukai diri sendiri dan orang lain. Jika waktunya berhenti, maka kita harus berhenti dan tidak memaksakan diri untuk berjalan. Sebaliknya, jika waktunya berjalan, kita tidak seharusnya berhenti. Isyarat lampu lalu lintas ini dapat menjadi pengingat yang baik untuk kehidupan rohani kita.

Dalam kehidupan nyata, kita perlu memahami kapan harus berhenti, waspada, dan berjalan sesuai dengan kebenaran dan firman Tuhan. Berhenti berarti menghentikan segala perbuatan yang merugikan diri sendiri maupun sesama. Kita perlu menjaga pikiran, perkataan, dan perbuatan. Berhenti menyombongkan diri, berhenti mencari pengakuan dunia demi popularitas semata, berhenti dari amarah, hawa nafsu, dan tipu muslihat. Yang terpenting, kita harus berhenti melukai hati Tuhan dengan hidup taat kepada perintah-Nya, sebagaimana tertulis dalam Sepuluh Perintah Allah di Kitab Keluaran 20:1-17.

Waspada atau berhati-hati berarti hidup dengan kesadaran rohani yang tinggi. Kita dipanggil untuk selalu berjaga-jaga terhadap segala godaan iblis yang berusaha masuk ke dalam pikiran dan merusak kehidupan kita. Iblis kerap menggoda manusia melalui kenikmatan dunia, kekayaan, kekuasaan, dan hawa nafsu, sehingga membuat kita tersesat dan berpaling dari Tuhan. Firman Tuhan mengingatkan dalam 1 Petrus 5:8-9, “Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya. Lawanlah dia dengan iman yang teguh.”

Berjalan berarti terus melangkah dalam iman dan melayani Tuhan dengan segenap hati dan pikiran. Kolose 3:23 menasihatkan, “Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.” Dunia boleh terus berubah dan semakin tidak baik, tetapi orang percaya dipanggil untuk tetap berjalan dalam iman, tidak menyerah, dan senantiasa mengandalkan Tuhan dalam segala hal. Tujuan hidup kita adalah memikul salib Kristus sampai akhir kehidupan.

Ingatlah bahwa keputusan untuk berhenti, waspada, dan berjalan ada di tangan kita masing-masing, dan setiap pilihan membawa konsekuensi rohani yang nyata. Kiranya Roh Kudus menolong kita mengambil keputusan yang benar setiap hari, sehingga hidup kita berkenan dan memuliakan Tuhan. (AS)

Questions:

1. Dalam aspek apa Tuhan sedang memanggil anda untuk berhenti, waspada, atau melangkah dengan iman?
2. Apakah keputusan hidup anda saat ini sudah selaras dengan kebenaran dan firman Tuhan?

Values:

Iblis membunuh kita dengan kenikmatan dunia, tetapi penderitaan salib membawa kita kepada kekekalan.

Kingdom Quotes:

Hidup yang taat bukan soal seberapa cepat kita melangkah, tetapi kapan kita tahu harus berhenti, waspada, dan berjalan bersama Tuhan.