Lembah Pemurnian | Pdt. Thomas Tanudharma

Tema kita di bulan Maret adalah tentang Lembah, gambaran suatu keadaan yang tidak mengenakkan bagi banyak orang. Banyak orang yang rindu atau mengharapkan berada di puncak kejayaan dan keberhasilan, sebuah pengharapan manusia pada umumnya. Pada realita kehidupan, faktanya tidak seperti yang kita harapkan. Namun, tetaplah percaya bahwa rencana Tuhan adalah yang terbaik dalam kehidupan kita.

Maka, apa tujuan orang percaya dimurnikan atau hal apa saja yang dimurnikan dalam kehidupan orang percaya?

TUJUAN PEMURNIAN DI LEMBAH-LEMBAH KEHIDUPAN

DIMURNIKAN AGAR MEMILIKI MOTIVASI YANG BENAR

(32) Dan orang-orang yang berlaku fasik terhadap Perjanjian akan dibujuknya sampai murtad dengan kata-kata licin; tetapi umat yang mengenal Allahnya akan tetap kuat dan akan bertindak. (33) Dan orang-orang bijaksana di antara umat itu akan membuat banyak orang mengerti, tetapi untuk beberapa waktu lamanya mereka akan jatuh oleh karena pedang dan api, oleh karena ditawan dan dirampas. (34) Sementara jatuh, mereka akan mendapat pertolongan sedikit, dan banyak orang akan menggabungkan diri kepada mereka secara berpura-pura. (35) Sebagian dari orang-orang bijaksana itu akan jatuh, supaya dengan demikian diadakan pengujian, penyaringan dan pemurnian di antara mereka, sampai pada akhir zaman; sebab akhir zaman itu belum mencapai waktu yang telah ditetapkan.
(Daniel 11:32-35)

Seringkali orang Kristen berpikir untuk hanya melakukan perbuatan baik, tetapi menjadi pertanyaan apakah perbuatan itu didasari dengan sikap dan motivasi yang benar? Jika memang motivasinya hanya untuk sekadar konten, hal ini perlu kita sadari. Sebagai bentuk perintah dari Tuhan, perbuatan baik akan menjadi sesuatu yang baik apabila memiliki motivasi yang benar di hadapan Allah.

Demikian pula hidup kita. Jika dalam hidup kita terdapat motivasi yang benar, maka perbuatan baik kita tidak pernah sia-sia.

(10) Aku, Tuhan, yang menyelidiki hati,yang menguji batin, untuk memberi balasan kepada setiap orang setimpal dengan tingkah langkahnya, setimpal dengan hasil perbuatannya.” (Yeremia 17:10)

Hasil perbuatan saja akan dinilai oleh Tuhan, yaitu motivasi melalui hati, apakah dilakukan dengan tulus ikhlas atau tidak, sehingga kita didapati memiliki hati yang murni dan benar di hadapan Allah. Tidak ada seorangpun mengetahui hati manusia kecuali Tuhan dan Dia mau menyelidiki isi hati kita serta mengujinya.

(23) Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan.(Amsal 4:23)

Yang bertugas untuk menjaga hati manusia bukanlah Tuhan melainkan manusia itu sendiri. Mengapa? Sebab Iblis akan mempengaruhi hati kita merasakan kekecewaan, meragukan Tuhan dan persoalan dalam pelayanan.

Jangan ada cela bagi si jahat untuk menembus cela tersebut dan menghancurkan hati kita. Orang yang menjaga hati adalah orang yang mengenal Tuhan. Marilah kita mengenal Tuhan dan berusaha merenungkan kebenaran firman-Nya.

(9) Sebab jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan. (10) Karena dengan hati orang percaya dan dibenarkan, dan dengan mulut orang mengaku dan diselamatkan.(Roma 10:9-10)

Maka, tidak cukup hanya dengan pengakuan dari mulut, tetapi juga percaya dalam hati kita.

DIMURNIKAN AGAR BIJAKSANA DALAM MENENTUKAN PRIORITAS

(24) Lalu pada malam itu TUHAN menampakkan diri kepadanya serta berfirman: “Akulah Allah ayahmu Abraham; janganlah takut, sebab Aku menyertai engkau; Aku akan memberkati engkau dan membuat banyak keturunanmu karena Abraham, hamba-Ku itu.” (25) Sesudah itu Ishak mendirikan mezbah di situ dan memanggil nama TUHAN. Ia memasang kemahnya di situ, lalu hamba-hambanya menggali sumur di situ.(Kejadian 26:24-25)

Ishak Menentukan Prioritas Adalah Keputusan Penting:

  1. Mendirikan Mezbah dan Panggil Nama Tuhan = Bangun hubungan dengan Tuhan
  2. Memasang Kemah = Membangun hubungan didalam Keluarga
  3. Menggali Sumur = Membangun untuk Kebutuhan Hidup / Usaha

Ketika dalam keadaan sulit, kita tetap bisa menentukan prioritas yang benar sebab orang yang pandai mengelola, layak untuk diberkati dan menerima berkat dari Tuhan.

 

DIMURNIKAN AGAR MENGERTI TENTANG RENCANA ALLAH DI DALAM KASIH & KUASA-NYA

(20) Siapakah kamu, hai manusia, maka kamu membantah Allah? Dapatkah yang dibentuk berkata kepada yang membentuknya: ”Mengapakah engkau membentuk aku demikian?” (21) Apakah tukang periuk tidak mempunyai hak atas tanah liatnya, untuk membuat dari gumpal yang sama suatu benda untuk dipakai guna tujuan yang mulia dan suatu benda lain untuk dipakai guna tujuan yang biasa?.(Roma 9:20-21)

Hidup orang percaya bagaikan tanah liat di tangan Tukang Periuk. Maka, orang percaya harus menyadari bahwa dirinya sedang dibersihkan oleh Tuhan dan menimbulkan rasa sakit. Tetapi percayalah bahwa Tuhan sedang meningkatkan nilai dan kualitas kehidupan kita.

(1) Firman yang datang dari TUHAN kepada Yeremia, bunyinya:(2)”Pergilah dengan segera ke rumah tukang periuk! Di sana Aku akan memperdengarkan perkataan-perkataan-Ku kepadamu.” (3) Lalu pergilah aku ke rumah tukang periuk, dan kebetulan ia sedang bekerja dengan pelarikan. (4)Apabila bejana, yang sedang dibuatnya dari tanah liat di tangannya itu, rusak, maka tukang periuk itu mengerjakannya kembali menjadi bejana lain menurut apa yang baik pada pemandangannya.” (Yeremia 18:1-4)

Kita bersyukur, bahwa kehidupan orang percaya dibentuk oleh orang-orang terdekat kita, baik dalam komsel, pelayanan, tempat bekerja, ataupun tempat studi. Hal demikian diizinkan oleh Tuhan untuk memurnikan motivasi kita di hadapan-Nya.

 

DIMURNIKAN AGAR KITA TIDAK SERUPA DUNIA DAN MEMILIKI POLA PIKIR

(2) Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.(Roma 12:2)

(35) Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus? Penindasan atau kesesakan atau penganiayaan, atau kelaparan atau ketelanjangan, atau bahaya, atau pedang? (36) Seperti ada tertulis: “Oleh karena Engkau kami ada dalam bahaya maut sepanjang hari, kami telah dianggap sebagai domba-domba sembelihan.” (37) Tetapi dalam semuanya itu kita lebih dari pada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita.(Roma 8:35-37)

Ketika kita diizinkan mengalami persoalan, Tuhan sedang mengajak untuk kita memperbaiki pola pikir sehingga memiliki pola pikir Kerajaan. Meskipun faktanya pola pikir Kerajaan itu tidak nyaman, tetaplah percaya bahwa dalam Tuhan ada jalan keluar. Ketika pola pikir diubahkan, maka kita disiapkan menerima pemulihan dari Tuhan. (AH)