Living as Citizens of Heaven | Pdt. Eluzai Frengky Utana

Karena kewargaan kita adalah di dalam surga, dan dari situ juga kita menantikan Tuhan Yesus Kristus sebagai Juruselamat, (Filipi 3:20)

Apakah kita betul-betul termasuk dalam bilangan warga Kerajaan surga? Apakah orang-orang di dalam pekerjaan, bisnis, masyarakat sekitar dan keluarga kita melihat Kerajaan surga dalam kehidupan kita? Hidup sebagai warga Kerajaan surga seharusnya menjadi identitas kita yang sejati.  Kita akan belajar dari nasihat-nasihat yang diberikan Rasul Paulus kepada jemaat di Filipi.

Saudara-saudara, ikutilah teladanku dan perhatikanlah mereka, yang hidup sama seperti kami yang menjadi teladanmu. Karena, seperti yang telah kerap kali kukatakan kepadamu, dan yang kunyatakan pula sekarang sambil menangis, banyak orang yang hidup sebagai seteru salib Kristus. Kesudahan mereka ialah kebinasaan, Tuhan mereka ialah perut mereka, kemuliaan mereka ialah aib mereka, pikiran mereka semata-mata tertuju kepada perkara duniawi. Karena kewargaan kita adalah di dalam sorga, dan dari situ juga kita menantikan Tuhan Yesus Kristus sebagai Juruselamat, yang akan mengubah tubuh kita yang hina ini, sehingga serupa dengan tubuh-Nya yang mulia, menurut kuasa-Nya yang dapat menaklukkan segala sesuatu kepada diri-Nya. (Filipi 3:17-21)

 

HIDUP SEBAGAI WARGA KERAJAAN ALLAH

 

  1. Berani menjadi Teladan

Saudara-saudara, ikutilah teladanku dan perhatikanlah mereka, yang hidup sama seperti kami yang menjadi teladanmu. (Filipi 3:17)

Tidak ada satu gereja pun yang bisa mengubah diri kita, tetapi kitalah yang harus mau diubah oleh Tuhan. Keberanian adalah kualitas hidup yang akan muncul saat menghadapi banyak tantangan. Hidup tidak memerlukan keberanian saat segala sesuatu berjalan dengan mudah. Tuhan tidak pernah salah, yang salah adalah diri kita dan sistem dunia. Tanggung jawab kita adalah hidup dalam ketaatan. Hasil dari ketaatan tersebut merupakan tanggung jawab Tuhan. Tantangan hidup diizinkan Tuhan, bukan untuk membuat kita bingung ataupun putus asa, tetapi untuk menemukan siapa diri kita yang sebenarnya. Kita harus berani menjadi teladan di tengah tantangan. Misalnya seorang pemimpin harus berani meminta maaf kepada orang yang dipimpinnya ketika ia sebagai pemimpin telah melakukan sebuah kesalahan.

  1. Memiliki Hati Tuhan bagi seteru-Nya

Karena, seperti yang telah kerap kali kukatakan kepadamu, dan yang kunyatakan pula sekarang sambil menangis, banyak orang yang hidup sebagai seteru salib Kristus.
(Filipi 3:18)

Tuhan selalu bisa mengampuni dan mengasihi, bahkan kepada orang-orang yang memusuhi-Nya. Tuhan mengizinkan kita melewati berbagai kesukaran dan  tantangan agar kita berkembang dan dimurnikan, sehingga kita bisa berbuah banyak dan tetap. Tuhan selalu memberi yang terbaik bagi semua kita yang menyerahkan pilihannya hanya kepada Tuhan. Kita harus belajar mengasihi tapi juga mendidik. Secara daging hal ini memang menyakitkan, tapi ini akan menjadi berkat, karenanya harus terus kita latih. Keselamatan  yang kita terima oleh karya salib Yesus adalah anugerah. Kita yang tidak layak telah ditebus dan diselamatkan karena kasih-Nya, karena itu kita juga harus memiliki hati Tuhan bagi seteru-Nya.

  1. Fokus hanya Kepada Kebenaran

Kesudahan mereka ialah kebinasaan, Tuhan mereka ialah perut mereka, kemuliaan mereka ialah aib mereka, pikiran mereka semata-mata tertuju kepada perkara duniawi. (Filipi 3:19)

 

Jangan melihat seseorang hanya di saat mereka memiliki jabatan, tetapi lihatlah saat mereka sudah tidak memiliki jabatan, apakah masih ada di Kerajaan Allah. Orang yang fokus kepada kebenaran mengetahui bahwa tidak ada lift untuk menuju sukses, tetapi harus langkah demi langkah, terus berlatih dan belajar melakukannya. Pengikut hanya mencari kesenangan, tetapi murid berfungsi untuk menjadi berkat.  Pengikut hanya belajar tetapi tidak menghidupi, namun murid belajar dan menghidupi. Yang mau pergi menjalani Amanat Agung (Matius 28:19-20) hanyalah orang-orang yang termasuk bilangan murid. Jika kita sudah pergi, memuridkan dan mengajar maka Yesus akan menyertai kita senantiasa sebagaimana janji-Nya. Milikilah visi Amanat Agung di dalam setiap program dan aktivitas yang kita lakukan. Jangan bergerak tanpa tujuan kekekalan.

  1. Miliki Tujuan Hidup untuk Menjadi Serupa dengan Kristus

Karena kewargaan kita adalah di dalam sorga, dan dari situ juga kita menantikan Tuhan Yesus Kristus sebagai Juruselamat, yang akan mengubah tubuh kita yang hina ini, sehingga serupa dengan tubuh-Nya yang mulia, menurut kuasa-Nya yang dapat menaklukkan segala sesuatu kepada diri-Nya. (Filipi 3:20-21)

Tujuan hidup kita bukanlah untuk menang, tetapi untuk bertumbuh, berbuah dan berbagi, sehingga hidup kita mewujudkan gambar Tuhan. Kita harus membawa hidup ini masuk ke dalam rencana Tuhan dan bukan pada rencana kita sendiri. Panjang umur bukanlah soal angka, tetapi semakin panjang umur kita maka hidup kita harus semakin bernilai. Semua pelayanan tidak akan berakhir sampai kita dipanggil Tuhan, bahkan di tengah-tengah masalah yang berat yang sedang kita alami, tetaplah melayani Tuhan dan sesama yang membutuhkan. Amin. (VW).