LOGIKA MANUSIA VS RANCANGAN KEKEKALAN
Bacaan Setahun:
Bilangan 16:36 – 18:32
Lukas 5:17–32
Mazmur 37:10–20
“Maka Yesus berpaling dan berkata kepada Petrus: ”Enyahlah Iblis. Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia.” (Matius 16:23)
Matius 16:22-23 mencatat sebuah ketegangan yang tajam antara kasih yang manusiawi dan kehendak ilahi. Ketika Petrus menarik Yesus ke samping dan menegor-Nya, ia merasa sedang melakukan sebuah tindakan heroik Tuhan, kiranya Allah menjauhkan hal itu adalah teriakan tulus dari seorang murid yang tidak rela melihat Sang Guru menderita. Namun, jawaban Yesus sangat mengejutkan: “Enyahlah Iblis. Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku.”
Reaksi Petrus bukanlah reaksi personal semata, melainkan representasi dari harapan kolektif bangsa Yahudi kala itu. Dalam benak banyak orang Yahudi, Mesias adalah sosok pembebas politik-seorang pahlawan yang akan mematahkan belenggu Romawi dan memulihkan kejayaan fisik Israel. Konsep tentang “Mesias yang kalah,” yang ditangkap dan dihukum mati di atas kayu salib, sama sekali tidak ada dalam kamus berpikir mereka. Bagi Petrus, penderitaan Yesus adalah kegagalan total.
Namun, di sinilah letak jurang pemisah antara pikiran manusia dan pikiran Allah. Apa yang dianggap Petrus sebagai bencana, justru merupakan puncak dari rancangan kekekalan Salib, yang secara visual melambangkan kehinaan dan kutuk, bagi Allah adalah alat bagi-Nya untuk penebusan manusia. Kristus harus “kalah” di mata dunia agar la dapat menang secara absolut atas maut.
Dunia selalu memuja kemuliaan yang terlihat, kenyamanan, dan kemenangan instan. Sebaliknya, nilai salib adalah kontradiksi bagi logika duniawi -Kemuliaan salib dianggap sebagai kehinaan oleh dunia. Pengorbanan diri dipandang sebagai kebodohan oleh mereka yang mencari kuasa. Penderitaan karena iman sering kali dicap sebagai kesialan atau ketidakberdayaan. Tetapi bagi mereka yang memiliki hikmat ilahi, salib adalah satu-satunya jalan menuju kemuliaan sejati. Jalan ini menuntut kita untuk menanggalkan cara pandang manusiawi yang egois dan mulai mengenakan pikiran Kristus.
Pada akhirnya, kehidupan setiap orang percaya berdiri di atas sebuah pilihan biner: Jalan Salib atau Jalan Dunia. Tidak ada jalan tengah Jalan salib memang jalan yang sempit, penuh sesak, dan terkadang dibasahi oleh air mata. Ini adalah jalan di mana kita harus berjuang menahan diri dari godaan, bersabar saat dihina karena iman, dan tetap setia meski dunia menertawakan prinsip kita. Namun, di balik setiap beban yang dipikul dalam kesetiaan, ada janji yang tak tergoyahkan. Segala air mata dan perjuangan di jalan yang sulit ini akan sirna dan digantikan oleh kemuliaan yang kekal saat Sang Raja menyatakan diri-Nya kepada para pecinta jalan salib. (DH)
Questions:
1. Di area mana dalam hidup Anda saat ini, Anda sedang mencoba “menegor” Tuhan?
2. Apakah definisi “kemenangan” Anda masih serupa dengan Petrus?”
Values:
Dunia menawarkan jalan lebar menuju kepuasan yang fana, tetapi Kristus menawarkan jalan sempit yang berujung pada kekekalan yang nyata.
Kingdom Quotes:
Berpikir seperti Allah berarti siap dianggap ‘kalah’ oleh dunia, demi memenangkan perkenanan dari Surga.