MATA HATI

MATA HATI 

Bacaan Setahun: 
Kej. 18 
Luk. 12 

“Mata adalah pelita tubuh. Jika matamu baik, teranglah seluruh tubuhmu; jika matamu jahat, gelaplah seluruh tubuhmu. Jadi jika terang yang ada padamu gelap, betapa gelapnya kegelapan itu.” (Matius 6:22-23)

Mata adalah pelita tubuh. Ini artinya kita mempunyai mata rohani atau mata hati, bukan penglihatan mata jasmani tetapi nilai-nilai yang dipahami di dalam hati kita yang dapat menentukan arah hidup kita. Mata rohani, atau mata hati bekerja didorong perasaan belas kasihan dan bukan karena hal menguntungkan secara logika, saat kita sedang berbelas kasihan kita sedang bertindak berdasarkan ‘mata hati ‘ atau mata rohani.

Istilah mata hati atau mata rohani secara spesifik tak ada di Alkitab, namun ada Firman Tuhan yang berkata, “berbahagialah orang yang suci hatinya karena ia akan melihat Allah” (Matius 5:8). Dengan mata jasmani memang kita tak bisa melihat Allah, seperti dikatakan di Yohanes 1:18, Tidak seorangpun yang pernah melihat Allah. Namun dengan mata hati kita bisa merasakan kehadiran Allah dan juga memahami jalan-jalan-Nya di dalam kita. Itu sebabnya saat kita memutuskan langkah hidup kita berdasarkan MATA HATI, maka kita sedang memutuskan berdasarkan kehendak Tuhan atau jalan Tuhan. Dan jalan Tuhan seringkali bukan jalan yang dimengerti secara logika, tetapi bisa dirasakan secara hati, seperti yang ditulis di Hosea 6:6, “Sebab Aku menyukai kasih setia (belas kasihan), dan bukan korban sembelihan, dan menyukai pengenalan akan Allah, lebih dari pada korban-korban bakaran.”

Tuhan lebih menyukai jika hati kita berbelas kasihan, yaitu aktivitas kita yang dimotivasi oleh hati yang penuh kasih, yaitu hati yang mengenal hati Tuhan. Bukan melakukan ketaatan beribadah tetapi hati kita buta, sehingga cenderung membiarkan saudara yang membutuhkan pertolongan. Kalau kita baca Alkitab, kita sering membaca kalimat “maka tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan”. Ini karena Yesus melakukan tindakan berdasarkan ‘mata hati’, Ia melakukan berdasarkan belas kasihan, bukan berdasar kewajiban secara agama. Itu sebabnya Yesus juga seringkali menegur Ahli Taurat yang memegang teguh peraturan Sabat dan aturan persembahan tapi tak punya belas kasihan, seperti mengabaikan memelihara orangtuanya, atau abai menolong orang-orang terlantar. Seperti yang tertulis didalam Markus 7:11-12, “Tetapi kamu berkata: Kalau seorang berkata kepada bapanya atau ibunya: Apa yang ada padaku, yang dapat digunakan untuk pemeliharaanmu, sudah digunakan untuk korban yaitu persembahan kepada Allah, maka kamu tidak membiarkannya lagi berbuat sesuatupun untuk bapanya atau ibunya.” (Markus 7:11-12)

Bagaimana dengan mata hati Anda? Mari instropeksi diri, jadilah semakin peka, jangan sampai Anda taat melakukan peribadatan dan ritual agama namun mata hati Anda buta, jadilah melihat, karena mata hati adalah pelita bagi kehidupan Anda. (DD)

Questions:
1. Benarkah kita punya MATA HATI?
2. Bagaimana cara bekerjanya mata hati kita?

Values:
Tanpa memakai mata hati, tak mungkin kita bisa menjadi warga Kerajaan, karena nilai dan prinsip Kerajaan Sorga hanya dapat dimengerti dengan mata hati.

Kingdom Quote:
Lebih baik seorang yang buta matanya tapi melek mata hatinya dari pada seorang yang melek matanya tapi buta mata hatinya.