MATI SATU TUMBUH SERIBU

MATI SATU TUMBUH SERIBU 

Bacaan Setahun:

Yoh. 18:19-38, 2 Taw. 27-28, Mzm. 84

“Tetapi Yesus menjawab mereka, kata-Nya: “Telah tiba saatnya Anak Manusia dimuliakan. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah.” (Yohanes 12:23-24)

Salah satu kalimat yang sangat memotivasi dalam masa perjuangan kemerdekaan Indonesia adalah “Mati satu, tumbuh seribu.” Kalimat ini ingin menggambarkan bahwa kematian tidak menghalangi tekad untuk terus berjuang. Bahkan, sebuah kematian dapat memotivasi lahirnya lebih banyak pejuang kemerdekaan. Dalam makna yang lebih luas, kalimat ini juga menunjukkan bahwa untuk mencapai hasil yang maksimal, dibutuhkan sikap rela berkorban.

Keberhasilan merupakan hasrat yang paling sering ingin dicapai manusia dalam hidupnya. Untuk meraih keberhasilan, banyak orang mencari jalan pintas—tips-tips instan dari tokoh-tokoh sukses. Kita sering kagum terhadap hasil akhir yang mereka capai, tetapi lupa belajar dari proses panjang dan perjuangan yang mereka jalani.

Yesus, saat menjadi manusia, tidak ragu menunjukkan keberhasilan dalam pelayananNya. Alkitab mencatat berbagai “prestasi” atau pencapaian yang Yesus alami, yang layak dirayakan sebagai sebuah keberhasilan pelayanan. Misalnya dalam Yohanes 11, tercatat: Yesus membangkitkan Lazarus, yang sudah empat hari meninggal. Banyak orang Yahudi menjadi percaya dan mencari Yesus (Yohanes 11:45; Lukas 12:9). Ini adalah momentum kebangunan rohani (revival), karena orang-orang Yahudi—yang selama ini paling sulit percaya kepada Yesus—justru mulai percaya.

Namun, di puncak keberhasilan pelayanan-Nya, Yesus justru berbicara tentang “benih yang harus mati.” Ini menunjukkan dua hal: pertama, tentang rencana kematian-Nya untuk menebus manusia; dan kedua, sebagai teladan bagi kita—bahwa setiap orang percaya pun akan mengalami pengalaman “benih yang mati.” Yang dimaksud tentu bukan kematian secara fisik, melainkan pengalaman kehilangan: kehilangan harapan, visi, atau bahkan identitas diri. Banyak tokoh Alkitab yang diizinkan Tuhan melewati momen ini, seperti: Abraham, saat harus menyerahkan Ishak. Yusuf, saat dilupakan oleh juru minuman. Musa, saat tidak diizinkan masuk ke Tanah Kanaan.

Pada titik inilah mereka seolah-olah kehilangan segalanya—dan yang tersisa hanyalah kesadaran bahwa hidup mereka sepenuhnya milik Allah, Sang Sumber Kehidupan. Justru dari titik inilah tunas kehidupan yang sejati muncul dan berbuah banyak. Benih tidak akan tumbuh jika tidak mati terlebih dahulu. Demikian pula hidup kita—harus rela melepaskan demi menghasilkan buah yang kekal. (HA)

Questions:

1. Apa hal dalam hidup Anda yang perlu “mati” agar menghasilkan buah yang kekal?
2. Apakah Anda rela melepaskan kenyamanan demi rencana Allah yang lebih besar?

Values:

Pertumbuhan rohani sejati lahir dari kerelaan untuk melepaskan diri, menyerah pada kehendak Allah, dan percaya bahwa dari “kematian” benih, akan lahir kehidupan yang berbuah.

Kingdom Quotes:

Ketika kita mati dengan diri kita, justru kehidupan Allah tumbuh dan hidup dalam diri kita.