MATI UNTUK MENGHASILKAN BANYAK BUAH

MATI UNTUK MENGHASILKAN BANYAK BUAH 

Bacaan Setahun: 
Bil. 32 , Yoh. 14 

“Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah.” (Yohanes 12:24)

Dalam setiap biji gandum terkandung suatu potensi untuk bertumbuh, menjadi matang dan menghasilkan buah. Akan tetapi agar dapat bertumbuh, biji gandum itu pertamatama harus ditanam/jatuh ke dalam tanah dan menjadi mati, artinya menyerahkan dirinya untuk perubahan selanjutnya. Hanya dengan begitu biji gandum itu dapat menghasilkan kehidupan. Proses kematian dan perubahan sangat diperlukan sebelum sesuatu yang baru dan hidup dapat muncul. Saat benih mati maka benih itu akan mengeluarkan akar, bertunas dan bertumbuh menjadi sebuah pohon yang menghasilkan buah berlipat kali ganda.

Ketika Tuhan Yesus memberikan pernyataan ini, Ia sedang berbicara tentang kematianNya sebagai suatu permulaan dan bukan sebagai tragedi. Dia sedang mengajarkan kepada murid-murid-Nya bahwa jalan mencapai keberhasilan adalah melalui penderitaan dan kematian. Kematian Yesus bukanlah kematian yang mengakhiri kehidupan; namun kematianNyalah yang mengakhiri penyebab kematian, yang menghancurkan dosa, yang menghancurkan pemberontakan, yang menghancurkan setan dan kuasa kematian. Yesus mati sebagai Juruselamat kita untuk menghancurkan kuasa dosa: “Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah” (2 Korintus 5:21).

Demikian juga dalam kehidupan kita, diri kita juga dituntut untuk “mati” terhadap dosa, terhadap keegoisan, terhadap sifat kedagingan yang lama, dan bangkit kembali dengan hati yang baru dan roh yang benar, kita harus menjalani hidup yang baru dengan motif-motif baru yang datang dari Yesus. Di dalam kehidupan yang baru kita berusaha sungguh-sungguh untuk melepaskan keinginan-keinginan materi dan duniawi serta mengendalikan keinginan-keinginan tersebut agar tidak menghalangi hubungan kita dengan Tuhan. Kristus adalah teladan yang dengan rela mengosongkan diri-Nya dan menjadi manusia serta hamba untuk melayani umat manusia. Dengan mati terhadap diri sendiri maka kita akan hidup untuk menjadi berkat bagi sesama dan kita memuliakan Allah.

Ketika kita dipersatukan melalui iman dengan Yesus, maka kehidupan-Nya, kasih-Nya, kemenangan-Nya direproduksi di dalam kita melalui Roh yang berdiam di dalam diri kita. “Namun kita hidup, tetapi bukan lagi kita yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam kita. Dan hidup yang kita jalani sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi dan menyerahkan diri-Nya untuk kita. (Galatia 2:20) (RSN)

Questions:
1. Apa yang ingin Yesus nyatakan melalui perumpamaan biji gandum yang jatuh ke dalam tanah dan mati?
2. Bagaimana hidup kita setelah “mati” terhadap dosa?
Values:
Setiap kita dituntut untuk “mati” terhadap dosa, terhadap keegoisan, terhadap sifat kedagingan yang lama, dan bangkit kembali dengan hati yang baru dan roh yang benar

Kingdom’s Quotes:
Kematian Yesus bukanlah kematian yang mengakhiri kehidupan, justru kematianNyalah yang mengakhiri penyebab kematian.