MELIHAT JIWA SEPERTI YESUS MELIHAT
Bacaan Setahun:
Ulangan 11:1 – 12:32
Lukas 12:35–59
Mazmur 43:1–5
“Melihat orang banyak itu, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala.” (Matius 9:36 – TB)
Kata belas kasihan berasal dari kata Ibrani “hesed.” Kata ini dipakai ratusan kali dalam Perjanjian Lama dan memiliki makna yang sangat penting. Kata hesed sering diterjemahkan sebagai belas kasihan, tetapi juga dapat diterjemahkan sebagai kasih setia, kebaikan, keramahan, kasih sayang, atau kesetiaan. Semua terjemahan ini merupakan upaya untuk menggambarkan kekayaan makna yang terkandung dalam kata tersebut.
Ketika kita memahami pernyataan Tuhan, “Aku menginginkan belas kasihan, bukan pengorbanan”, hal yang perlu diperhatikan adalah Tuhan sangat menginginkan sesuatu yang lebih dari sekadar belas kasihan. Kata “belas kasihan” berbicara tentang hati yang tergerak, hati yang peduli, hati yang tidak dingin. Artinya Tuhan menginginkan keramahan, kebaikan, kesetiaan, dan kasih setia kita. Tuhan menginginkan “hesed”, yang berarti Tuhan menginginkan semua hal ini dari kita. Bukan hanya pengorbanan saja.
Dalam konteks ini, Yesus melihat banyak jiwa yang terlantar dan terluka. Kenyataan tersebut juga terlihat pada masa kini. Banyak orang hidup dalam keadaan terhilang dan membutuhkan pemulihan. Namun sering kali gereja hanya berfokus menjadi tempat berkumpulnya orang benar, bukan menjadi tempat di mana orang berdosa dipulihkan dan diperlengkapi. Padahal Yesus menghendaki agar gereja sungguh-sungguh menjadi jawaban bagi jiwa-jiwa yang terluka dan berfungsi sebagai rumah kesembuhan rohani. Oleh sebab itu, gereja perlu kembali kepada panggilannya, yaitu memandang jiwa seperti Yesus memandangnya, terutama jiwa-jiwa di luar sana yang belum mengenal keselamatan. Lalu, apa yang dapat kita lakukan agar memiliki cara pandang seperti Yesus?
Pertama, memiliki hati yang penuh belas kasihan. Dalam Matius 12:7 Tuhan berkata, “Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan.” Artinya, Tuhan lebih mengutamakan hati yang penuh kasih daripada sekadar ritual keagamaan. Kedua, berbagi hidup di dalam komunitas. Ibrani 10:24 mengingatkan kita untuk saling memperhatikan agar kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik. Ketiga, penerimaan, jangan melihat kekurangan tapi lihatlah potensi. Roma 15:7 menasihatkan, “Sebab itu terimalah satu akan yang lain, sama seperti Kristus juga telah menerima kita, untuk kemuliaan Allah.”
Di sekitar kita masih banyak jiwa yang membutuhkan kasih Kristus. Gereja dipanggil bukan sekadar memindahkan jemaat dari satu gereja ke gereja lain, melainkan menjangkau jiwa-jiwa baru yang belum mengenal Kristus. Mereka sedang menuju kebinasaan dan sangat membutuhkan keselamatan yang hanya dapat diberikan oleh Yesus Kristus. (TL)
Questions:
1. Apakah anda sudah menghidupi dan mempraktekkan hati yang berbelas kasihan terhadap jiwa-jiwa?
2. Apa yang harus kita lakukan supaya kita bisa melihat jiwa-jiwa seperti cara Yesus? Diskusikan!
Values:
Seorang gembala tidak menunggu domba kembali dengan sendirinya. Ia akan pergi dan berusaha untuk mencarinya agar kembali.
Kingdom Quotes:
Hati yang berbelas kasihan tidak akan berfokus akan kekurangan atau masa lalu seseorang tapi fokusnya kepada potensi dan masa depan seseorang.