MEMIKIRKAN KEMATIAN

MEMIKIRKAN KEMATIAN 

Bacaan Setahun:

Kej. 40:1 – 41:40
Mat. 14:1–21
Ams. 2:12–22

“Demikianlah setiap orang di antara kita akan memberi pertanggungan jawab tentang dirinya sendiri kepada Allah” (Roma 14:12).

Suatu hari, ketika Martin Luther masih muda, ia berjalan bersama salah seorang temannya, Alexis. Tiba-tiba petir menyambar dan menewaskan temannya itu seketika. Peristiwa tersebut mengubah hidup Luther secara drastis. Sejak saat itu, ia mulai memberi perhatian serius pada perkara-perkara rohani.

Apa yang dapat membuat kita tertarik kepada hal-hal rohani? Sering kali kita merasa hidup begitu nyaman sehingga kita menganggap perkara rohani hanyalah gangguan terhadap kenyamanan tersebut. Coba pikirkan berapa banyak waktu yang kita habiskan untuk menyusun strategi bisnis atau merencanakan liburan akhir tahun. Namun, tidak sedetik pun kita mau memikirkan kematian ataupun pengadilan Allah.

Kesadaran akan kematin terjadi dalam hidup saya ketika waktu SMA saya kehilangan nenek saya. Meski sudah lanjut usia, semangatnya bekerja tak pernah padam. Setiap Minggu ia tidak pernah melewatkan ibadah, dan ia dikenal sebagai salah satu jemaat yang paling rajin. Kepergiannya waktu itu menyadarkan saya dari sikap lengah. Selama itu saya jarang memikirkan kematian. Saya menjalani rutinitas hidup yang saya anggap sudah cukup menyenangkan hati Tuhan. Namun, benarkah demikian? Benarkah kita sungguh-sungguh bekerja giat bagi Allah?

Saya menyadari bahwa usia manusia sudah ditentukan. Jika Tuhan bertanya berapa lama Anda ingin hidup, apa jawaban Anda? 50 tahun? 70 tahun? 100 tahun? Umur manusia paling lama hanya sekitar 80 atau 90 tahun—itu pun jika tanpa halangan. Apa artinya waktu itu dibandingkan kekekalan di surga atau di neraka? Itu bagaikan setetes air di tengah samudera.

Anda pasti mati. Semua orang pasti mati. Namun tidak semua mau belajar dari kematian. Manusia cenderung lebih suka menghadiri pesta daripada berkunjung ke rumah duka. Pengkhotbah menegaskan, “Pergi ke rumah duka lebih baik daripada pergi ke rumah pesta, karena di rumah dukalah kesudahan setiap manusia; hendaknya orang yang hidup memperhatikannya. Bersedih lebih baik daripada tertawa, karena muka muram membuat hati lega. Orang berhikmat senang berada di rumah duka, tetapi orang bodoh senang berada di rumah tempat bersukaria” (Pengkhotbah 7:2–4).

Waktu yang Anda miliki di dunia ini diberikan untuk melakukan kehendak Tuhan. Jika Anda tidak menggunakannya dengan sungguh-sungguh, kelak Anda akan menyesal—dan penyesalan itu tidak ada obatnya. (DH)

Questions:

1. “Powerbank” siapa yang sering anda andalkan?Milik sendiri atau orang lain?
2. Cukup pekakah anda untuk mengetahui kapan baterai anda hampir habis?

Values:

Tidak ada yang bisa menggantikan buah hasil kedekatan kita secara pribadi dengan Tuhan.

Kingdom Quotes:

Untuk bisa menjadi terang buat sesama, kita harus memastikan roh kita punya bahan bakar yang cukup.