MEMOTIVASI DARI HATI YANG KELIRU

MEMOTIVASI DARI HATI YANG KELIRU 

Bacaan Setahun: 
Yosua 13:1 – 14:15
Lukas 24:36–53
Mazmur 52:1–9

“Yang seorang menolong yang lain dan berkata kepada temannya: “Kuatkanlah hatimu!” Tukang besi menguatkan hati tukang emas, dan orang yang memipihkan logam dengan martil menguatkan hati orang yang menempa di atas landasan; ia berkata tentang patrian: “Itu baik,” lalu menguatkannya dengan paku-paku, sehingga tidak goyang.” (Yesaya 41:6-7)

Sekilas, jika kita membaca ayat ini, ayat tersebut seolah-olah mengajak kita untuk saling menguatkan satu dengan yang lain. Nasihatnya tampak cocok dijadikan motivasi antartim atau antardivisi dalam sebuah organisasi, yaitu saling menguatkan dalam pekerjaan bersama. Di sana digambarkan bahwa tukang besi, tukang emas, dan tukang pemipih logam saling menguatkan dalam komunitas mereka.

Tapi jika konteks keseluruhan ayat ini dipelajari, maka ada motivasi hati yang lebih dalam yang melatar belakangi ayat ini. Pesan ini ditujukan pada orang Israel yang tertawan dalam pembuangan karena pemberontakan kepada Allah, mereka terbuang, tertekan tetapi dalam keadaan demikian mereka justru tetap melawan Allah, mereka terlibat dalam penyembahan berhala, dengan melakukan ritual-ritual penyembahan terhadad patung-patung atau objek-objek buatan manusia.

Situasi pada saat itu juga menjadi peluang bisnis bagi para pembuat patung untuk kebutuhan ritual penyembahan. Beberapa penafsir menjelaskan bahwa ayat yang kita baca merupakan respons dari komunitas para pengrajin atau tukang besi pembuat patung berhala. Mereka tidak mau menaati peringatan Tuhan yang disampaikan melalui Nabi Yesaya. Bahkan, mereka melakukan upaya untuk “menguatkan komunitas” agar tetap membuat dan mendukung penyembahan patung berhala, sebagai bentuk perlawanan terhadap Allah.

Penyembahan berhala melambangkan hati yang tidak lagi bergantung kepada Allah, tetapi kepada hal-hal lain, seperti karier, materi, orang lain, atau keadaan. Para penyembah berhala juga dapat membentuk komunitas yang saling menguatkan satu sama lain. Mereka bahkan bisa mengajarkan prinsip-prinsip yang tampaknya benar atau inspiratif, tetapi pada akhirnya justru membuat orang lebih bergantung kepada diri sendiri, materi, atau manusia lain, bukan kepada Tuhan. Artinya, dalam konteks komunitas, tanpa ketulusan akan kebenaran Firman Tuhan, maka kita bisa jadi pribadi-pribadi dalam komunitas yang menguatkan sesuatu yang bersumber dari hal negatif.

Saya pernah mendengar seseorang memotivasi temannya yang sedang mengalami kesulitan keuangan untuk menggunakan kartu kreditnya, lalu melarikan diri dan tidak perlu membayar utangnya. Contoh ini menunjukkan bagaimana nasihat yang tampak seperti dukungan justru mengarahkan seseorang kepada tindakan yang salah. Karena itu, marilah kita kembali memeriksa hati kita. Apakah Tuhan masih menjadi pusat dalam hidup kita, ataukah ada “berhala” lain yang mengambil tempat-Nya di hati kita? Apakah kita benar-benar menjadikan nilai kebenaran dan karakter Kristus sebagai prinsip utama dalam hidup kita? (HA)

Questions:
1. Apakah dalam hidup anda ada “berhala” yang tanpa sadar lebih anda andalkan daripada Tuhan?
2. Apakah nasihat atau dukungan yang anda berikan kepada orang lain benar-benar membawa mereka semakin dekat kepada Tuhan?

Values:
Bangunlah komunitas yang saling menguatkan untuk hidup dalam kebenaran firman Tuhan, bukan saling mendukung hal-hal yang menjauhkan kita dari Allah.

Kingdom Quotes:
Motivasi yang benar harus dimulai dari pusat hidup dan prinsip hidup yang benar.