Karena itu berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu pada hari mana Tuhanmu datang. Tetapi ketahuilah ini: Jika tuan rumah tahu pada waktu mana pada malam hari pencuri akan datang, sudahlah pasti ia berjaga-jaga, dan tidak akan membiarkan rumahnya dibongkar. Sebab itu, hendaklah kamu juga siap sedia, karena Anak Manusia datang pada saat yang tidak kamu duga.” (Matius 24:42-44)
Kita sering mendengar orang mengatakan ‘seandainya saja saya tahu’, setelah mereka melakukan hal yang salah atau membuat keputusan yang salah. Hal ini terjadi karena kita tidak berjaga-jaga dalam kata-kata, sikap atau perbuatan kita, sehingga merusak hubungan dengan orang lain dan merusak masa depan kita.
Karena itu kita harus menantikan Tuhan dalam kesiapsediaan dan berjaga-jaga, agar tidak ada penyesalan karena kita telah melakukan hal yang salah. Tuhan Yesus pasti datang sesuai janji-Nya. Janji ini tidak pernah berubah, hanya saja kita tidak tahu kapan Dia akan datang.
Contoh Orang yang Menantikan Tuhan dalam Kesiapsediaan:
Nuh dan Keluarganya
Tuhan berkata bahwa Ia akan membinasakan manusia dengan air bah, karena keadaan manusia saat itu sudah sangat rusak. Sejak pesan itu diberikan sampai air bah benar-benar terjadi, berjarak 120 tahun. Ini bukan waktu yang pendek. Saat itu Nuh mengingatkan orang-orang, namun mereka tidak mau mendengar, sehingga hanya 8 orang saja yang siap dan masuk ke dalam bahtera.
Inilah riwayat Nuh: Nuh adalah seorang yang benar dan tidak bercela di antara orang-orang sezamannya; dan Nuh itu hidup bergaul dengan Allah. Nuh memperanakkan tiga orang laki-laki: Sem, Ham dan Yafet. Tetapi dengan engkau Aku akan mengadakan perjanjian-Ku, dan engkau akan masuk ke dalam bahtera itu: engkau bersama-sama dengan anak-anakmu dan isterimu dan isteri anak-anakmu. (Kejadian 6: 9-10, 18).
Nuh adalah orang yang hidup benar, tidak bercela, dan bergaul dengan Tuhan. Di tengah ejekan dan penolakan dari orang-orang di sekitarnya, ia tetap setia membangun bahtera. Di tengah berbagai celaan dan hinaan, ia tidak menunjukkan kebencian. Dia tetap bergaul erat dengan Tuhan, dan menjadi teladan bagi anak-anaknya.
Apakah orang-orang di dekat kita, keluarga kita, dapat melihat teladan hidup seperti Nuh dalam hidup kita? Orang yang siap menyambut Tuhan adalah orang yang menjaga hati dan hidupnya. Bebas dari kebencian dan kemarahan, serta bergaul erat dengan Tuhan.
Hamba yang Setia dan Bijaksana
Hamba yang setia dan bijaksana melakukan tugasnya dengan penuh tanggung jawab, sehingga pada waktu tuannya datang, mereka diberi kehormatan, mendapat promosi, karena setia, jujur, dan bekerja dengan sungguh-sungguh. Di manapun kita berada, dalam keluarga, pekerjaan, pergaulan, biarlah kita menjadi hamba yang setia dan bijaksana, sehingga pada waktunya kita dipromosi oleh Tuhan.
“Siapakah hamba yang setia dan bijaksana, yang diangkat oleh tuannya atas orang-orangnya untuk memberikan mereka makanan pada waktunya? Berbahagialah hamba, yang didapati tuannya melakukan tugasnya itu, ketika tuannya itu datang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya tuannya itu akan mengangkat dia menjadi pengawas segala miliknya. (Matius 24: 45-47)
Contoh Orang yang Tidak Siap Menantikan Kedatangan Tuhan:
Orang Pada Zaman Nuh
“Sebab sebagaimana halnya pada zaman Nuh, demikian pula halnya kelak pada kedatangan Anak Manusia. Sebab sebagaimana mereka pada zaman sebelum air bah itu makan dan minum, kawin dan mengawinkan, sampai kepada hari Nuh masuk ke dalam bahtera, dan mereka tidak tahu akan sesuatu, sebelum air bah itu datang dan melenyapkan mereka semua, demikian pulalah halnya kelak pada kedatangan Anak Manusia. (Matius 24:37-39)
Peringatan tentang air bah sudah dilakukan Nuh dengan berbagai cara, tapi orang-orang saat itu tidak memperhatikan karena sibuk. Ini adalah gambaran tentang hidup kita, yang sering mengabaikan hal-hal rohani, padahal seharusnya mencari dahulu Kerajaan Allah. (Matius 6:33). Kadang-kadang kita mengabaikan waktu untuk berdoa, beribadah dan berkomsel, malah sibuk dengan pekerjaan, kawin-mawin, pesta pora. Seandainya mereka mendengarkan kata-kata Nuh, mereka pasti tidak akan binasa. Air dari berbagai tempat mengalir selama 40 hari 40 malam setinggi gunung Ararat adalah gambaran suara dan perkataan Roh Kudus. Saat ini adalah masa-masa yang sulit. Jangan sampai kita lalai dan ketinggalan.
Hamba Allah yang Jahat
Akan tetapi apabila hamba itu jahat dan berkata di dalam hatinya: Tuanku tidak datang-datang, lalu ia mulai memukul hamba-hamba lain, dan makan minum bersama-sama pemabuk-pemabuk, maka tuan hamba itu akan datang pada hari yang tidak disangkakannya, dan pada saat yang tidak diketahuinya, dan akan membunuh dia dan membuat dia senasib dengan orang-orang munafik. Di sanalah akan terdapat ratapan dan kertakan gigi.” (Matius 24:48-51)
Hamba Allah yang jahat mulai meragukan kedatangan tuannya dalam hatinya, lalu ia tidak peduli lagi kepada hal-hal yang suci dan hidup sembrono. Ia makan-minum, hidup dalam keserakahan, memukul hamba-hamba yang lain, mengejar kesenangan dan kenikmatan dunia.
Jangan sampai kita menjadi sama seperti hamba yang jahat ini. Lupa bahwa kekayaan dan kehormatan yang diberikan Tuhan hanya sementara, sehingga pada waktu Tuhan datang, kita tidak siap.
Kita Ada Di Mana?
Saat ini adalah masa yang sukar. Ada orang-orang yang berkuasa lalu memanfaatkan dan menginjak orang lain. Perhatikan dengan siapa kita bergaul, dengan siapa anak-anak kita bergaul. Jaga diri baik-baik. Kita harus memilih di antara dua pilihan. Siap sedia atau acuh tak acuh.
Peliharalah hidup kita dan orang-orang di sekitar kita, sehingga kita menjadi teladan dan memberi pengaruh yang baik. Buatlah komitmen untuk hidup jujur, setia dalam perkawinan, tidak mau bergaul dengan pemabuk.
Apakah dengan yakin kita bisa berkata bahwa kita ada dalam bahtera keselamatan bersama Tuhan? Apakah kita bisa berdoa dengan tulus “Tolong saya Tuhan Yesus, agar saya bisa hidup yang benar, sehingga saat Engkau datang kembali saya didapati setia, jujur dan benar”? Amin. (VW)