MENGAPA TIDAK ADA KEBANGUNAN ROHANI?

MENGAPA TIDAK ADA KEBANGUNAN ROHANI? 

Bacaan Setahun:
1Samuel 26:1 – 28:25
Yohanes 19:1–27
Mazmur 68:21–27

“Dan makin lama makin bertambahlah jumlah orang yang percaya kepada Tuhan, baik laki-laki maupun perempuan” (Kisah Para Rasul 5:14)

Kita sering menikmati cerita masa lalu, terlebih ketika masa itu dipenuhi kejayaan. Dalam sejarah gereja, kita dengan antusias mengingat kebangunan rohani melalui tokoh-tokoh seperti Charles Finney, Alexander Dowie, Evan Roberts, Smith Wigglesworth, dan Oral Roberts. Namun pertanyaannya sederhana: apakah kita hanya hidup dari cerita masa lalu? Tidak. Kita hidup hari ini. Jika gereja saat ini belum dipenuhi kuasa Allah seperti dahulu, apa yang sebenarnya tidak beres? Apakah masalahnya pada jemaat, atau memang belum waktunya Tuhan? Seorang hamba Tuhan pernah mengemukakan beberapa alasan yang patut kita renungkan.

Pertama, gereja kehilangan kerinduan. Aktivitas yang padat dan kesibukan yang tinggi perlahan mengikis rasa lapar akan hal-hal rohani. Kita bisa berjam-jam antusias membicarakan peluang bisnis, tetapi hanya beberapa menit mendengar firman Tuhan sudah terasa berat. Jika hati menjadi dingin, bagaimana kebangunan rohani bisa terjadi? Kerinduan tidak muncul dengan sendirinya; ia harus dijaga di tengah kesibukan hidup.

Kedua, gereja menjadi lemah dalam doa. Ketika seseorang sedang jatuh cinta, ia bisa berlama-lama tanpa merasa bosan. Bahkan gangguan kecil pun tidak mengurangi sukacitanya. Mengapa? Karena ada kasih. Demikian juga dengan kehidupan rohani. Jika kasih kepada Tuhan memudar, doa berubah menjadi rutinitas yang kering. Padahal dahulu, ketika hati masih menyala, doa adalah kebutuhan yang tidak tergantikan.

Ketiga, gereja mulai berkompromi dengan dosa. Ini persoalan serius. Ketika disiplin rohani melemah dan teguran terhadap dosa dihindari, maka kekudusan pun terkikis. Firman Tuhan mengajarkan untuk menegur dengan kasih, tetapi sering kali budaya “sungkan” mengambil alih, terutama jika menyangkut mereka yang memiliki posisi atau kontribusi besar dalam gereja. Akibatnya, standar kebenaran diturunkan.

Karena itu, sudah seharusnya kita memiliki kepekaan rohani. Jika api kemuliaan Allah belum nyata di tengah gereja, jangan cepat menyalahkan keadaan. Mulailah dari diri sendiri. Bangkitkan kembali kerinduan, hidupkan doa, dan kembali kepada kekudusan. Kebangunan rohani bukan sekadar cerita masa lalu. Itu adalah undangan bagi kita hari ini—jika kita mau meresponsinya. (DH)

Questions:
1. Apakah hati kita masih lapar akan Tuhan, atau sudah tergantikan oleh hal lain?
2. Bagaimana kualitas doa kita —hidup atau hanya rutinitas?

Values:
Ketika kasih kepada Tuhan memudar, doa berubah dari kebutuhan menjadi kewajiban.

Kingdom Quotes:
Tidak ada kebangunan tanpa kekudusan; tidak ada kemuliaan tanpa pertobatan.