Mengasihi dan Dikasihi Oleh Tuhan | Pdt. Thomas Tanudharma

“Setiap kerajaan yang terpecah-pecah pasti binasa, dan setiap rumah tangga yang        terpecah-pecah, pasti runtuh.” Lukas 11:17

 

Alkitab menunjukkan betapa pentingnya keluarga dalam rencana Allah. Dari kisah Adam dan Hawa hingga pernikahan Anak Domba dalam kitab Wahyu, Tuhan menegaskan bahwa keluarga adalah tempat utama untuk membangun iman dan kesaksian. Karena itu, yang terutama dalam kehidupan Kristen bukan sekadar kesetiaan menjalankan ibadah, melainkan memiliki hubungan yang benar dengan Tuhan. Nuh menjadi teladan seorang yang mengasihi Tuhan dan hidup dalam kasih karunia-Nya, dan ia juga sangat dikasihi oleh Tuhan.

 

Memimpin Keluarga Berjalan Bersama Tuhan (Kejadian 6:8-10)

(8) Tetapi Nuh mendapat kasih karunia di mata TUHAN. (9) Inilah riwayat Nuh: Nuh adalah seorang yang benar dan tidak bercela di antara orang-orang sezamannya; dan Nuh itu hidup bergaul dengan Allah. (10) Nuh memperanakkan tiga orang laki-laki: Sem, Ham dan Yafet. (Kejadian 6:8-10)

Nuh adalah seorang yang benar, hidup bergaul dengan Allah, dan memimpin seluruh keluarganya untuk tetap percaya kepada Tuhan. Ia yakin bahwa Tuhan memiliki rencana yang baik bagi masa depan keluarganya, sehingga tetap taat sekalipun menghadapi tantangan besar. Ketekunannya membangun bahtera selama bertahun-tahun menunjukkan bahwa iman sejati diwujudkan melalui ketaatan yang konsisten. (Kejadian 6:14-17).

Pesan bagi orang percaya adalah jangan menyalahkan keadaan atau menganggap hidup ditentukan oleh nasib buruk. Tuhan tetap memiliki rancangan yang baik bagi umat-Nya. Ketika pernah mengambil keputusan yang salah, kita dipanggil untuk bertobat, belajar, dan tetap tekun menjalani proses pemulihan yang Tuhan kerjakan.

 

Nubuat dan Kuasa Tuhan Lebih Dahsyat daripada Kesulitan (Kejadian 7:2-3)

(2) Dari segala binatang yang tidak haram haruslah kauambil tujuh pasang, jantan dan betinanya, tetapi dari binatang yang haram satu pasang, jantan dan betinanya; (3) juga dari burung-burung di udara tujuh pasang, jantan dan betina, supaya terpelihara hidup keturunannya di seluruh bumi. (Kejadian 7:2-3)

Perintah Tuhan kepada Nuh untuk membangun bahtera dan mengumpulkan berbagai jenis binatang tampak mustahil dilakukan. Nuh juga tidak memiliki pengalaman membuat kapal, menangkap binatang, ataupun mempersiapkan kebutuhan selama air bah. Namun ia memilih mempercayai Firman Tuhan daripada membiarkan kesulitan menguasai hatinya.

Iman tidak berarti bebas dari tantangan, tetapi tetap taat meskipun belum melihat hasilnya. Kuasa Tuhan selalu lebih besar daripada hambatan yang dihadapi manusia. Ketika kita berpegang pada janji-Nya, Tuhan sanggup membuka jalan yang tidak dapat kita pikirkan sebelumnya.

 

Melakukan dengan Percaya dan Motivasi yang Benar (Kejadian 7:13-16).

(13) Pada hari itu juga masuklah Nuh serta Sem, Ham dan Yafet, anak-anak Nuh, dan isteri Nuh, dan ketiga isteri anak-anaknya bersama-sama dengan dia, ke dalam bahtera itu,
(14) mereka itu dan segala jenis binatang liar dan segala jenis ternak dan segala jenis binatang melata yang merayap di bumi dan segala jenis burung, yakni segala yang berbulu bersayap; (15) dari segala yang hidup dan bernyawa datanglah sepasang mendapatkan Nuh ke dalam bahtera itu. (16) Dan yang masuk itu adalah jantan dan betina dari segala yang hidup, seperti yang diperintahkan Allah kepada Nuh; lalu TUHAN menutup pintu bahtera itu di belakang Nuh. (Kejadian 7:13-16)

Nuh menaati setiap perintah Tuhan dengan hati yang tulus. Karena motivasinya benar, Tuhan sendiri bertindak menolongnya. Binatang-binatang datang kepada Nuh, Tuhan menutup pintu bahtera, dan seluruh proses berlangsung sesuai rencana-Nya.

Demikian pula dalam kehidupan orang percaya. Ketika hati tetap murni dan motivasi kita adalah menyenangkan Tuhan, Dia sanggup mengatur setiap berkat dengan indah. Kita tidak perlu mengejar berkat, tetapi mengejar Tuhan. Seperti taman bunga yang menarik kupu-kupu, kehidupan yang berkenan kepada Tuhan akan menjadi tempat datangnya berkat dan penyertaan-Nya (Mazmur 112:1-3).

Nuh Melakukan yang Benar (Kejadian 8:18-21).

 

(18) Ketika air itu makin bertambah-tambah dan naik dengan hebatnya di atas bumi, terapung-apunglah bahtera itu di muka air. (19) Dan air itu sangat hebatnya bertambah-tambah meliputi bumi, dan ditutupinyalah segala gunung tinggi di seluruh kolong langit, (20) sampai lima belas hasta di atasnya bertambah-tambah air itu, sehingga gunung-gunung ditutupinya. (21)  Lalu mati binasalah segala yang hidup, yang bergerak di bumi, burung-burung, ternak dan binatang liar dan segala binatang merayap, yang berkeriapan di bumi, serta semua manusia. (Kejadian 7:18-21)

 

Teladan Nuh mengajarkan bahwa tujuan hidup orang percaya bukan sekadar mengejar kesenangan pribadi, melainkan menyenangkan hati Tuhan. Seluruh anggota keluarga perlu diajak untuk hidup takut akan Tuhan sehingga keluarga menjadi saluran berkat bagi banyak orang. Ketika keluarga hidup memuliakan Tuhan, nama-Nya akan dikenal melalui kehidupan mereka, dan berkat-Nya akan dinyatakan dari generasi ke generasi. (VW)