MENGUBAH NASIB | Pdt Thomas Tanudharma

Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.
(Yeremia29:11)

Ada rencana Tuhan yang indah bagi orang yang sungguh-sungguh mencari wajah Tuhan. Tuhan berjanji menuntun kita. Dia memberikan kuasa dan urapan-Nya untuk memampukan kita melakukan Firman-Nya. Namun di tengah situasi yang sulit akhir-akhir ini, banyak orang lebih mempercayai tukang ramal, daripada mempercayai bahwa Tuhan sanggup mengubah nasib mereka. Seringkali kita memegang paradigma lama “ini sudah nasib saya”. Jadi apakah nasib kita bisa diubahkan? Untuk itu kita harus tahu perbedaan takdir dengan nasib. Terlahir sebagai pria atau wanita adalah contoh dari takdir, dan ini tidak bisa kita ubahkan. Namun nasib adalah hal-hal yang bisa diubahkan, ketika kita percaya kepada janji Tuhan.

Untuk mengubah nasib, maka kita harus tahu akar permasalahannya, sehingga bisa memiliki solusi yang tepat. Kita akan belajar dari bangsa Israel, untuk mengerti mengapa nasib buruk kita tidak berubah.

Bersungut-sungut di Hadapan Tuhan

Pada suatu kali bangsa itu bersungut-sungut di hadapan TUHAN tentang nasib buruk mereka, dan ketika TUHAN mendengarnya bangkitlah murka-Nya, kemudian menyalalah api TUHAN di antara mereka dan merajalela di tepi tempat perkemahan. (Bilangan 11:1)

Biasanya orang takut bersungut-sungut di hadapan boss mereka, namun bangsa Israel begitu berani bersungut-sungut di hadapan Tuhan. Amsal 4:23 berkata bahwa kita harus menjaga hati dengan segala kewaspadaan. Waspadalah untuk tetap bersyukur dan tidak bersungut-sungut. Nasib rumah tangga kita, pekerjaan, dan bisnis kita tergantung bagaimana kita menjaga hati. Jagalah hati kita, jangan bersungut-sungut, tetapi percaya bahwa segala perkara dapat kita tanggung di dalam Dia yang memberikan kekuatan kepada kita.

Tidak Menghormati Pemimpin yang Dipercayai Otoritas

Lalu berteriaklah bangsa itu kepada Musa, dan Musa berdoa kepada TUHAN; maka padamlah api itu. Sebab itu orang menamai tempat itu Tabera, karena telah menyala api TUHAN di antara mereka. (Bilangan 11:2-3)

Saat kita menghormati otoritas, maka ada covering yang melindungi kita. Bapak presiden Jokowi memberikan contoh yang sangat baik. Sekalipun beliau adalah orang nomor satu di negeri ini, namun beliau tetap sungkem di hadapan orang tuanya, sebagai tanda mengasihi dan menghormati mereka. Untuk dapat mengubah nasib, maka kita perlu mengubah sikap terhadap otoritas-otoritas di atas kita.

Membiarkan Diri Dipengaruhi oleh Pergaulan yang Buruk

Mengapakah TUHAN membawa kami ke negeri ini, supaya kami tewas oleh pedang, dan isteri serta anak-anak kami menjadi tawanan? Bukankah lebih baik kami pulang ke Mesir?” Dan mereka berkata seorang kepada yang lain: “Baiklah kita mengangkat seorang pemimpin, lalu pulang ke Mesir.” (Bilangan 14:3-4)

Kita perlu menjaga diri dari pengaruh pergaulan di sekitar kita. Untuk itu kita harus bisa membedakan toleransi dengan kompromi. Toleransi artinya kita tetap bisa menjaga hubungan baik, namun memberi pengaruh yang baik bagi orang-orang di sekitar kita. Sebaliknya, kompromi artinya dipengaruhi dan menjadi sama dengan cara berpikir mereka.

Menjadi Malas dan Suka Mengingat-ingat Masa Lalu

Kita teringat kepada ikan yang kita makan di Mesir dengan tidak bayar apa-apa, kepada mentimun dan semangka, bawang prei, bawang merah dan bawang putih.
(Bilangan 11:5)

Sekalipun ada keputusan-keputusan yang salah yang telah kita buat di masa lalu, maka kita tidak boleh terbelenggu. Kita harus mau move on, dan tidak terikat dengan masa lalu. Masa depan kita dapat diramalkan, yaitu dengan cara menciptakan masa depan itu sendiri. Masa depan dapat diciptakan ketika kita bersedia mengubah kebiasan-kebiasaan buruk kita saat ini. Seringkali kita sulit meraih masa depan karena hati dan pikiran kita masih berada di masa lalu.

Mementingkan Diri Sendiri, Tanpa Peduli Kepada Tuhan.

Tetapi sekarang kita kurus kering, tidak ada sesuatu apapun, kecuali manna ini saja yang kita lihat. (Bilangan 11:6)

Bangsa Israel hanya berfokus kepada masalah-masalah mereka, mereka lupa memandang kepada Tuhan dan kuasa-Nya¬† yang begitu dahsyat yang menyertai mereka. Ada tiang awan di waktu siang yang membuat sejuk dan ada tiang api di waktu malam yang memberi kehangatan dan perlindungan dari binatang-binatang liar. Supaya bisa ‘GO’ kepada kehidupan yang lebih baik, maka huruf E (evil) dari EGO harus dibuang.

Kita harus bertobat dari hal-hal diatas. Bukan sekedar berpaling namun berbalik sepenuhnya, dari cara-cara manusia, kepada cara-cara yang berkenan kepada Tuhan. Ketika kita mau berbalik kepada Tuhan, maka sebagaimana anak yang hilang kembali kepada bapaknya, maka nasib kita akan diubahkan. Dari nasib yang begitu malang dan melarat kepada nasib sebagai anak seorang bangsawan. Sebuah kehidupan yang penuh dengan kelimpahan berkat, sukacita dan kemuliaan. Amin. (VW).