MENJADI AYAH YANG BERPENGARUH

MENJADI AYAH YANG BERPENGARUH 

Bacaan Setahun:

1 Kor. 9
2 Raj. 1-2
Amos 7

“Tetapi jika ada seorang yang tidak memeliharakan sanak saudaranya, apalagi seisi rumahnya, orang itu murtad dan lebih buruk dari orang yang tidak beriman.” (1 Tîmotius 5:8)

Kita semua tentu pernah mendengar ungkapan, “Like father, like son”—atau dalam bahasa Indonesia, “Buah tidak jatuh jauh dari pohonnya.” Ungkapan ini bukan sekadar peribahasa, melainkan cerminan realitas kehidupan. Seorang anak kerap kali menjadi cerminan dari pribadi ayahnya. Perkataan, sikap, bahkan nilai-nilai hidup yang dianutnya, sering kali merupakan hasil dari keteladanan yang diperlihatkan oleh figur seorang ayah di rumah.

Dunia masa kini tidak kekurangan teknologi, ilmu pengetahuan, ataupun sistem hukum. Namun, yang dunia ini butuhkan adalah kehadiran para ayah yang utuh—bukan sematamata hadir secara fisik, melainkan juga secara emosional dan spiritual. Banyak luka batin anakanak bukan disebabkan oleh kerasnya dunia luar, melainkan karena absennya sosok gembala di rumah mereka.

Yesus adalah Gembala dan Pemelihara jiwa kita (1 Petrus 2:24–25). Ia merupakan teladan sejati bagi seorang ayah—yang rela berkorban, menanggung penderitaan kita, dan membimbing kita kembali ke jalan yang benar. Jika kita ingin menjadi ayah yang memberi pengaruh positif, kita harus terlebih dahulu meneladani karakter Kristus.

Dalam 1 Timotius 3:2–5, Rasul Paulus menekankan bahwa sebelum seseorang layak melayani di jemaat, ia harus mampu mengelola keluarganya dengan baik. Seorang ayah yang membawa dampak positif dalam keluarganya adalah seorang pria yang: Hidup dengan penuh pertimbangan, bukan sembarangan; Memberikan keteladanan, bukan sekadar memberi perintah; Menyediakan waktu untuk anak, bukan hanya uang bagi anak; Menghormati dan mengasihi istrinya tanpa syarat; Menjadi guru rohani pertama bagi anak-anaknya.

Mengapa hal ini penting? Karena dalam 1 Timotius 5:8 dikatakan dengan tegas bahwa orang yang tidak memelihara keluarganya lebih buruk daripada orang yang tidak beriman. Menjadi seorang ayah bukan sekadar status, melainkan panggilan hidup. Panggilan untuk hadir, membimbing, menghibur, menegur, dan yang terutama: mengasihi tanpa pamrih. Rasa hormat dari anak bukanlah sesuatu yang dapat diminta, tetapi buah dari kehidupan yang patut dihormati.

Marilah kita para ayah (atau calon ayah) berhenti sejenak dan merenungkan dalam hati: “Apakah aku sedang membentuk atau justru melukai hati anak-anakku?” Mari kembali kepada panggilan kita, dan mohon pertolongan Tuhan agar kita menjadi ayah yang berdampak—ayah yang membawa anak-anaknya semakin dekat kepada Sang Bapa di surga. (DD)

Questions:
1. Apakah selama ini Anda sudah lebih banyak hadir secara fisik atau hadir secara emosional dan rohani bagi anak-anak Anda?
2. Teladan hidup seperti apa yang anak-anak lihat dari Anda setiap hari?

Values:
Menjadi ayah yang berpengaruh dimulai dari meneladani Yesus—Gembala yang hadir, peduli, dan penuh kasih.

Kingdom Quotes:
Tuhan memanggil setiap ayah untuk memimpin keluarganya dengan hati yang tulus, dan Tuhan sendiri yang akan memberi kemampuan untuk melakukannya.