MENJADI PEMENANG | Pdm. Antonius Aribowo

Karena itulah kuperingatkan engkau untuk mengobarkan karunia Allah yang ada padamu oleh penumpangan tanganku atasmu. Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban. (2 Timotius 1:6-7).

Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku.(Mazmur 23:4)

Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan. (Yohanes 10:10b)

Bagaimana kita bisa menjadi pemenang?

MEMILIKI HATI YANG FOKUS KEPADA TUHAN.

Kita harus memiliki hati dan pikiran yang fokus kepada Tuhan, bukan kepada masalah. Ketika orang Israel berhadapan dengan orang Filistin, mereka ketakutan karena berfokus kepada Goliat yang tinggi besar dan menyeramkan. Sosok Goliat yang setinggi 3,2 meter membuat mereka gentar dan kalah sebelum bertanding. Sebaliknya Tuhan justru memakai Daud yang masih remaja, badannya kecil dan tidak diperhitungkan. Ketika kita fokus kepada Tuhan, maka Tuhan dapat memakai sesuatu yang kecil untuk menyelesaikan masalah yang besar.

Berkatalah Daud kepada Saul: “Janganlah seseorang menjadi tawar hati karena dia; hambamu ini akan pergi melawan orang Filistin itu.” (1 Samuel 17:32)

Jika engkau tawar hati pada masa kesesakan, kecillah kekuatanmu. (Amsal 24:10)

Orang Israel tawar hati, tetapi Daud berfokus kepada Tuhan, sehingga memiliki keberanian, bahkan sanggup menguatkan bangsanya.

Tetapi Saul berkata kepada Daud: “Tidak mungkin engkau dapat menghadapi orang Filistin itu untuk melawan dia, sebab engkau masih muda, sedang dia sejak dari masa mudanya telah menjadi prajurit.” Tetapi Daud berkata kepada Saul: “Hambamu ini biasa menggembalakan kambing domba ayahnya. Apabila datang singa atau beruang, yang menerkam seekor domba dari kawanannya. (1 Samuel 17:33, 34)

Daud adalah orang yang setia menggembalakan kambing domba, sekalipun jumlahnya hanya sedikit. Mungkin kita diremehkan seperti Daud, dengan perawakan, wajah, dan pekerjaan kita yang remeh-temeh, tapi ketika kita setia melakukan perkara kecil, jangan takut karena Tuhan memperhatikan kesetiaan kita. Bahkan ketika ada pencobaan, tetaplah setia, karena hal itu dipakai Tuhan bukan untuk menghancurkan kita, tetapi untuk membuat kita naik ke level berikutnya.

Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya. (1 Korintus 10:13)

HIDUP MELEKAT KEPADA TUHAN.

Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya.
(Yakobus 5:16b)

Doa yang berkuasa adalah doa orang yang benar, yaitu orang yang melekat kepada Tuhan dengan cara membaca firman Tuhan dan melakukannya. Kita harus belajar memilih untuk menyenangkan hati Tuhan daripada menyenangkan dunia dan kedagingan kita. Kita harus memilih untuk berkata tidak kepada keinginan dosa, mengampuni orang yang menyakiti kita, dan menerima pasangan kita apa adanya.

Siapa gerangan ada padaku di sorga selain Engkau? Selain Engkau tidak ada yang kuingini di bumi. Sekalipun dagingku dan hatiku habis lenyap, gunung batuku dan bagianku tetaplah Allah selama-lamanya. (Mazmur 73:25-26)

Hasil dari kehidupan yang melekat kepada Tuhan adalah menerima apa yang kita minta dan doakan, karena apa yang kita minta sesuai dengan kehendak-Nya.

Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya. (Yohanes 15:7)

MELAKUKAN DENGAN SUNGGUH-SUNGGUH APAPUN YANG TUHAN PERCAYAKAN KEPADA KITA.

Seringkali kita berjanji akan hidup sungguh-sungguh saat diberi posisi atau jabatan tertentu, atau  diberi kesempatan melakukan sesuatu yang besar. Tapi sesungguhnya Tuhan ingin melihat kesetiaan dan kesungguhan kita sejak kita melakukan perkara yang kecil, saat berada di jabatan yang rendah dan sederhana. Tuhan lebih memperhatikan proses daripada hasil, karena ketika proses dilakukan dengan kesungguhan hati, maka hasilnya pasti luar biasa. ‘Hasil tidak pernah mengkhianati usaha’. Hasil adalah buah. Usaha adalah apa yang kita tabur.

Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. (Kolose 3:23)

Kita tidak mungkin mendapatkan hasil yang luar biasa ketika kita menjadi ‘kaum rebahan’, yaitu bangun siang, lalu makan, main game, tidur lagi, menikmati hidup, dan seterusnya. Hasil yang luar biasa hanya didapat dengan usaha dan pengorbanan yang seringkali disertai dengan cucuran keringat dan air mata. Amin. (VW)

Orang-orang yang menabur dengan mencucurkan air mata, akan menuai dengan bersorak-sorai. (Mazmur 126:5)