MENJADI PRIBADI YANG BERINISIATIF SEPERTI KRISTUS

MENJADI PRIBADI YANG BERINISIATIF SEPERTI KRISTUS 

Bacaan Setahun:

1 Kor. 10
2 Raj. 3
Amos 8

“Dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula oleh Yesus Kristus untuk menjadi anak-anak-Nya, sesuai dengan kerelaan kehendak-Nya,” (Efesus 1:5)

Alasan paling mendasar mengapa kita perlu membangun kualitas pribadi yang berinisiatif adalah karena Allah kita adalah Pribadi yang berinisiatif. Alkitab merupakan kitab yang mencatat karya-karya inisiatif Allah sepanjang perjalanan narasi besar Alkitab: sejak penciptaan (Creation), kejatuhan manusia dalam dosa (Fall), karya penebusan (Redemption), hingga karya pemulihan Allah (Restoration). Bahkan dalam kasih-Nya, Allah memilih dan memanggil kita untuk melayani Dia dan menjadi berkat bagi banyak orang. Seperti yang tertulis dalam Yohanes 15:16, “Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah, dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu.”

Apa arti inisiatif itu sendiri? Inisiatif adalah kemampuan untuk mengenali kebutuhan dan bertindak untuk memenuhinya, bahkan tanpa perlu diperintah atau diminta terlebih dahulu. Alkitab juga mencatat beberapa tokoh yang sebenarnya memiliki privilege atau keistimewaan dari Allah—seperti panggilan, karunia, dan berkat—namun tidak mengoptimalkan potensi mereka karena kurangnya inisiatif. Contohnya adalah Simson. Ia memiliki panggilan, karunia, kekuatan, dan bahkan penampilan yang mengesankan. Namun, tindakannya terhadap orang Filistin lebih sering didasarkan pada dorongan emosional pribadi, bukan karena inisiatif untuk menggenapi rencana Allah. Tokoh berikutnya adalah Saul. Ia kerap tidak menunjukkan inisiatif dalam menjalankan kehendak Allah. Ia lebih sering menunggu perintah atau bertindak karena tekanan, bukan karena kesadaran pribadi. Hal ini tampak sejak tugas awalnya mencari keledai, ketika menghadapi Goliat, maupun saat ditugaskan memusnahkan bangsa Amalek. Bahkan, inisiatif yang ia ambil lebih banyak ditujukan untuk mempertahankan posisinya dengan mencoba membunuh Daud.

Sebaliknya, teladan inisiatif sejati ditunjukkan oleh Yesus. Dalam Markus 6:34 tertulis: “Ketika Yesus mendarat, Ia melihat sejumlah besar orang banyak, maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka seperti domba yang tidak mempunyai gembala. Lalu mulailah Ia mengajarkan banyak hal kepada mereka.” Dalam Lukas 9 diceritakan bahwa Yesus tidak hanya mengajar, tetapi juga menyembuhkan banyak orang. Meskipun kehadiran orang banyak itu berada di luar agenda semula, Yesus melihat kebutuhan mereka dan dengan belas kasihan bertindak secara inisiatif: mengajar, menyembuhkan, bahkan sampai memperhatikan kebutuhan fisik mereka—kelaparan dan kelelahan—dengan memberi mereka makan.

Pertanyaannya adalah: Apa respons kita ketika melihat sebuah kebutuhan dalam pelayanan atau kesempatan untuk bertindak yang sebelumnya tidak direncanakan? Apakah kita cukup peka dan tergerak oleh belas kasihan, lalu berinisiatif untuk menjawabnya? Atau kita hanya menunggu, ragu, atau malah mengabaikannya? Mari meneladani Kristus dalam membangun karakter inisiatif—karakter yang tidak hanya menunggu, tetapi melihat, peduli, dan bertindak. (HA)

Questions:
1. Apakah kita sudah peka terhadap kebutuhan di sekitar kita, dan segera bertindak tanpa diminta?
2. Apakah kita sudah meneladani inisiatif Kristus dalam pelayanan dan kehidupan sehari-hari?

Values:
Pribadi yang berinisiatif adalah pribadi yang peka terhadap kebutuhan dan tidak menunggu perintah untuk bertindak demi kebaikan orang lain.

Kingdom Quotes:
Merespons kebutuhan karena diminta adalah kewajaran, tetapi bertindak tanpa menunggu perintah menunjukkan kedewasaan dan karakter inisiatif.