MENJADIKAN RUMAH SEBAGAI MEZBAH

MENJADIKAN RUMAH SEBAGAI MEZBAH

Bacaan Setahun:
Amos 6:1 – 7:17
Roma 4:16 – 5:11
Mazmur 86:11–17

“Tetapi jika kamu anggap tidak baik untuk beribadah kepada TUHAN, pilihlah pada hari ini kepada siapa kamu akan beribadah; allah yang kepadanya nenek moyangmu beribadah di seberang sungai Efrat, atau allah orang Amori yang negerinya kamu diami ini. Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN!” (Yosua 24:15)

Di tengah kesibukan dan tuntutan zaman yang semakin kompleks, keluarga Kristen dipanggil untuk tidak kehilangan identitas utamanya: menjadi tempat di mana Tuhan disembah dan dimuliakan. Ibadah bukan sekadar kegiatan satu jam di hari Minggu. Ibadah sejati terjadi ketika setiap anggota keluarga menjadikan Tuhan sebagai pusat kehidupan sehari-hari. Yosua menyatakan keputusan imannya dengan tegas, “aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN.”

Pernyataan ini menunjukkan bahwa penyembahan kepada Allah adalah keputusan bersama yang dimulai dari kepemimpinan rohani di dalam keluarga. Seorang kepala keluarga dipanggil untuk meneladani iman, bukan hanya menuntut ketaatan. Keluarga yang menyembah Tuhan bukanlah keluarga yang bebas dari persoalan. Justru di tengah pergumulan, keluarga tersebut memilih untuk kembali kepada Tuhan sebagai sumber kekuatan dan damai sejahtera. Ada tiga wujud nyata penyembahan di dalam keluarga.

Pertama, menjadikan waktu bersama sebagai waktu persekutuan dengan Tuhan. Meja makan, ruang keluarga, bahkan kamar tidur dapat menjadi tempat pertemuan dengan Allah. Dimulai dengan doa syukur sebelum makan, berbagi pengalaman iman, atau membaca satu pasal Firman Tuhan sebelum beristirahat. Mazmur 107:9 mengingatkan, “Sebab dipuaskan-Nya jiwa yang dahaga, dan jiwa yang lapar dikenyangkan-Nya dengan kebaikan.” Ketika keluarga berhenti sejenak untuk mengakui kebaikan Tuhan, di sanalah iman ditanamkan.

Kedua, membangun komunikasi yang jujur dan dilandasi kasih Kristus. Keluarga yang menyembah Tuhan berani berbicara jujur tentang pergumulan, ketakutan, dan harapan. Kejujuran ini kemudian dibawa dalam doa bersama. Kolose 3:16 menasihatkan, “Hendaklah perkataan Kristus diam dengan segala kekayaannya di antara kamu.” Ketika Firman Tuhan menjadi dasar percakapan, keluarga akan bertumbuh dalam pengertian dan saling menguatkan.

Ketiga, menetapkan prioritas rohani di tengah tuntutan dunia. Teknologi, pekerjaan, dan hiburan sering kali menyita waktu keluarga. Namun keluarga yang menyembah Tuhan belajar untuk menetapkan batas dan memprioritaskan waktu bersama Tuhan. Ulangan 6:7 memerintahkan, “Haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu.” Pengajaran yang berulang-ulang itu menunjukkan bahwa iman kepada Tuhan adalah hal yang utama dan tidak dapat ditunda.

Dampak dari keluarga yang menyembah Tuhan akan terlihat dalam jangka panjang. Anak-anak mungkin tidak mengingat semua khotbah yang didengar, tetapi mereka akan mengingat suasana rumah di mana nama Tuhan dimuliakan, pengampunan dipraktikkan, dan doa menjadi kebiasaan. Rumah tersebut menjadi saksi bagi lingkungan sekitar bahwa Allah itu hidup dan berkuasa. (RJ)

Questions:
1.Sejauh mana saat ini keluarga Anda menjadikan Tuhan sebagai pusat kehidupan sehari-hari?
2.Langkah praktis apa yang dapat Anda mulai minggu ini untuk membangun suasana penyembahan di rumah?

Values:
Keluarga yang menjadikan Tuhan pusat akan bertumbuh dalam kasih dan iman yang teguh.

Kingdom Quotes:
Keluarga yang menyembah bersama akan tetap teguh bersama ketika badai kehidupan datang.