MENYATAKAN DENGAN KEBERANIAN
Bacaan Setahun:
Wahyu 7, Neh. 9:38-10:39, Mzm. 102
“Berdoalah supaya dengan keberanian aku menyatakannya, sebagaimana seharusnya aku berbicara” (Efesus 6:20)
Menyatakan kebenaran tidak selalu aman. Ada risiko tinggi yang harus dihadapi: intimidasi, penolakan, bahkan ancaman. Paulus sangat memahami hal ini. Karena itu ia meminta jemaat di Efesus mendoakannya, supaya ia tetap berani memberitakan rahasia Injil. Paulus sadar, kebenaran yang disampaikannya dapat mengusik kenyamanan, bahkan menyentuh kepentingan orang-orang berpengaruh. Itu bukan perkara mudah. Namun, tanggung jawab bukan hanya ada pada Paulus, melainkan juga pada jemaat.
Banyak orang sering mengeluh karena pendetanya berkhotbah dengan monoton, membosankan, atau terasa kurang mendalam. Tetapi pernahkah mereka berdoa dengan sungguh-sungguh agar Tuhan memberi pewahyuan, keberanian, dan kuasa kepada pendetanya? Jika kualitas khotbah dianggap hanya sebagai urusan pendeta, sesungguhnya jemaat sedang menipu dirinya sendiri. Paulus saja, seorang rasul besar yang penuh kuasa dan urapan Roh Kudus, masih membutuhkan doa dari jemaat. Apalagi para pendeta masa kini! Doa jemaat adalah nafas bagi pelayanan mimbar; tanpa doa, firman mudah kehilangan roh kehidupan dan hanya menjadi rutinitas kosong.
Fakta di lapangan sering kali menyedihkan. Tidak sedikit pendeta yang justru terlalu sibuk dengan urusan di luar pelayanan. Ada yang menghabiskan waktu dengan hobi, kesibukan sosial, bahkan olahraga berlebihan, sementara persiapan firman diabaikan. Akibatnya, mimbar dipenuhi khotbah instan, sekadar hasil menyalin dari outline, buku panduan, atau pewahyuan orang lain. Membaca buku memang baik, tetapi Tuhan juga ingin menyatakan rahasia-Nya secara pribadi kepada hamba-Nya melalui doa, puasa, dan perenungan firman.
Jika Anda seorang hamba Tuhan (pendeta), jangan puas dengan firman yang siap saji. Jemaat lapar dan haus akan suara Allah yang hidup, bukan sekadar kata-kata manusia. Hanya pewahyuan langsung dari Tuhan yang dapat menghidupkan firman dan mengubahkan jemaat. Dan jika Anda seorang jemaat, jangan pasif. Doakanlah pendeta Anda setiap hari, agar firman yang disampaikan penuh kuasa Roh Kudus, meneguhkan, menegur, dan membangun.
Tidak ada yang lebih indah daripada rahasia firman Allah yang disingkapkan. Jemaat yang berdoa, hamba Tuhan yang haus akan pewahyuan, itulah tanda gereja yang hidup. Sebaliknya, gereja mulai mati saat kehilangan kerinduan akan rahasia ilahi dan berhenti berdoa. Karena itu, mari kita bangkitkan kembali budaya doa di tengah gereja. Dengan doa, keberanian dan pewahyuan akan berjalan seiring. Gereja yang berdoa adalah gereja yang berani, dan gereja yang berani adalah gereja yang hidup dalam kuasa firman Allah. (DH)
Questions:
1. Apakah Anda masih lapar akan rahasia firman Tuhan?
2. Apakah keberanian Anda dalam menyatakan kebenaran lahir dari doa, atau sekadar keberanian manusiawi?
Values:
Gereja mulai redup saat gereja tidak lagi merindukan rahasia ilahi.
Kingdom Quotes:
Paulus saja meminta doa; pendeta masa kini lebih lagi membutuhkannya.