MIRROR, MIRROR ON THE WALL
Bacaan Setahun:
Wahyu 10, Neh. 13, Mzm. 104:24-35
“Perhiasanmu janganlah secara lahiriah, … tetapi perhiasanmu ialah manusia batiniah yang tersembunyi dengan perhiasan yang tidak binasa … yang sangat berharga di mata Allah.” (1 Petrus 3:3-4)
Akhir-akhir ini, media sering mengangkat isu “narsis” – kondisi di mana seseorang terobsesi pada image mereka dan bagaimana orang menilai mereka. Kata ini berasal dari mitos Yunani tentang pemuda bernama Narsisus yang jatuh cinta pada pantulan wajahnya sendiri di air. Dia mati karena sedih cintanya pada pantulannya sendiri itu bertepuk sebelah tangan.
Cermin di alam tidak seperti cermin kita sekarang. Seperti Narsisus, manusia dulu hanya bisa berkaca saat permukaan air tenang dan ada cukup cahaya. Sampai zaman para rasulpun cermin terbaik hanyalah logam yang dipoles sangat halus dan pantulannya masih kurang baik. Prosesnya pembuatannya sulit, sehingga ukurannya kecil dan harganya mahal.
Mungkin justru keadaan dulu lebih baik, karena sebenarnya kita tidak dimaksudkan untuk menekankan penampilan luar. Kita akan jadi lebih banyak memperhatikan sekeliling kita dibandingkan pantulan wajah kita sendiri di kaca yang sekarang ada di mana-mana. Ingat cerita Putri Salju? Dalam cerita tersebut, setiap hari sang ratu bertanya pada cerminnya siapa yang paling cantik. Saat jawabannya negatif, timbullah rasa tidak suka yang membuahkan dosa dengan menyingkirkan Putri Salju.
Banyak pengguna sosmed memperlakukan “likes”, “follow” dan komentar seperti ibaratnya cermin. Citra diri diukur dari banyaknya “likes” dan “follower”, bukan Firman Tuhan. Demi mendapatkannya, banyak upaya dikorbankan (tenaga, uang dan waktu), bahkan sampai membahayakan kesehatan. Ada juga yang justru saking seringnya memakai “filter” atau riasan, kadang akhirnya justru tidak suka wajah aslinya. Tidak sedikit yang depresi karena komentar negatif, minder lalu menghindar dari pergaulan, dan masih banyak lagi fenomena masa kini yang memprihatinkan. Ibarat bercermin pada air yang bergejolak dalam cahaya yang suram.
Mungkin itulah sebabnya sampai saat ini belum ada gambar wajah Yesus yang jelas. Karena Tuhan mau kita fokus pada karya-Nya, bukan penampilan-Nya. Marilah kita ikuti jejakNya. Kita tinggalkan kata dunia yang mengalihkan perhatian kita dari tugas utama kita. Fokus pada pengembangan diri dan mengasah talenta untuk menjadi berkat, supaya hidup kita bisa mempermuliakan nama Tuhan. (SO)
Questions:
1. Mengapa trend menciptakan standar penampilan yang tidak wajar?
2. Siapa yang anda ijinkan untuk menjadi “cermin” anda?
Values:
Terus berkarya sesuai talenta tanpa terfokus pada pendapat dunia.
Kingdom Quotes:
“True beauty is not what we see with our eyes but what we cultivate in our hearts.” (Joyce Meyer)