Dalam hal inilah Bapa-Ku dipermuliakan, yaitu jika kamu berbuah banyak dan dengan demikian kamu adalah murid-murid-Ku.” (Yohanes 15:8)
Tujuan setiap orang percaya bukan hanya menjadi pengikut Kristus, tetapi menjadi murid yang berbuah. Seorang murid Kristus bukan hanya hadir di gereja, melayani, atau mengaku percaya kepada Yesus, tetapi menghasilkan buah yang nyata dalam kehidupannya. Buah itulah yang memuliakan Bapa dan menjadi bukti bahwa seseorang sungguh-sungguh hidup sebagai murid Kristus.
Murid adalah orang yang bersedia belajar, menerima pengajaran, teguran, dan koreksi. Ketika Yesus memanggil murid-murid-Nya dengan berkata, “Ikutlah Aku,” mereka meninggalkan kehidupan lama mereka untuk belajar hidup menurut kehendak Sang Guru. Demikian pula dengan kita. Menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat bukanlah akhir perjalanan iman, melainkan awal dari proses pembentukan. Banyak orang berpikir bahwa setelah percaya dan dibaptis, semuanya sudah selesai. Padahal Tuhan menghendaki adanya perubahan yang terus-menerus dalam hidup kita. Orang yang benar-benar mengikut Yesus akan bersedia diubahkan dari karakter lama menjadi karakter yang semakin serupa dengan Kristus.
Setiap ranting pada-Ku yang tidak berbuah, dipotong-Nya dan setiap ranting yang berbuah, dibersihkan-Nya, supaya ia lebih banyak berbuah. (Yohanes 15:2)
Proses pemangkasan tentu tidak menyenangkan. Ada kalanya Tuhan mengizinkan kesulitan, teguran, atau proses kehidupan yang menyakitkan untuk membersihkan hal-hal yang menghambat pertumbuhan rohani kita.
Sering kali manusia ingin mempertahankan kenyamanan dan sifat lamanya. Namun murid yang berbuah adalah murid yang memiliki komitmen untuk berubah. Ia berkata, “Tuhan, bentuklah aku sesuai kehendak-Mu.” Walaupun proses itu tidak mudah, ia tetap percaya bahwa Tuhan sedang mengerjakan sesuatu yang baik dalam hidupnya.
(4) Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku.(5) Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa. (Yohanes 15:4-5)
Rahasia utama untuk menghasilkan buah adalah tinggal di dalam Kristus. Yesus berkata bahwa ranting tidak dapat berbuah jika tidak melekat pada pokok anggur. Demikian juga orang percaya tidak dapat menghasilkan buah rohani dengan kekuatannya sendiri.
Tinggal di dalam Kristus berarti memiliki hubungan yang dekat dan akrab dengan-Nya setiap hari. Hubungan itu dibangun melalui doa, membaca Firman Tuhan, mendengarkan pengajaran firman, dan hidup dalam ketaatan. Firman Tuhan memiliki kuasa untuk membersihkan, memperbarui pikiran, menguatkan hati, dan memberikan hikmat dalam setiap keputusan hidup. Meskipun kadang-kadang kita belum memahami seluruh isi Alkitab, kebiasaan membaca dan merenungkannya akan menumbuhkan kepekaan terhadap suara Tuhan. Firman yang tersimpan di dalam hati akan menjadi sumber kekuatan ketika kita menghadapi pergumulan hidup.
Pentingnya Komunitas Rohani
Pertumbuhan rohani tidak dirancang untuk dijalani sendirian. Tuhan menyediakan komunitas orang percaya agar kita dapat saling menguatkan dan membangun. Melalui kelompok kecil atau komunitas rohani, seseorang belajar berdoa, memahami firman, berbagi pergumulan, dan menerima nasihat yang membangun. Banyak kali Tuhan memakai kesaksian orang lain untuk menguatkan kita ketika sedang menghadapi masalah yang serupa. Karena itu, orang percaya perlu memelihara hubungan dengan komunitas rohani yang sehat agar dapat terus bertumbuh dan berbuah.
Buah Roh Sebagai Bukti Kedewasaan
(22) Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, (23) kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu.
(Galatia 5:22-23)
Buah yang Tuhan kehendaki bukan terutama keberhasilan duniawi, melainkan karakter Kristus yang dinyatakan melalui kehidupan kita. Rasul Paulus menjelaskan buah Roh dalam Galatia 5:22-23, yaitu kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, dan penguasaan diri. Sebelum mengenal Kristus, manusia cenderung hidup menurut keinginan daging: mudah marah, iri hati, menyimpan kebencian, dan sulit mengampuni. Namun ketika Roh Kudus bekerja dalam hidup seseorang, karakter tersebut mulai diubahkan. Perubahan itu mungkin tidak terjadi seketika, tetapi terjadi secara bertahap seiring dengan kesediaan kita untuk dibentuk oleh Tuhan. Buah Roh adalah bukti bahwa Kristus hidup dan bekerja di dalam diri seseorang.
Jangan Menjadi Buah yang Gagal
Ada orang percaya yang gagal menghasilkan buah. Ada yang gugur ketika menghadapi kesulitan. Ada yang menjadi “buah kecut” karena hidup dalam luka batin, kepahitan, dan kekecewaan. Ada pula yang menjadi “buah busuk” karena dipenuhi kebencian dan keinginan membalas dendam.
Tuhan tidak ingin kita hidup dalam kondisi demikian. Luka masa lalu harus dibawa kepada Tuhan untuk disembuhkan. Kepahitan harus digantikan dengan pengampunan. Kekecewaan harus diserahkan kepada Tuhan agar tidak merusak kehidupan rohani kita.
Beberapa tokoh Alkitab menunjukkan bagaimana seseorang tetap berbuah meskipun mengalami penderitaan:
- Yusuf dikhianati oleh saudara-saudaranya, dijual sebagai budak, difitnah, dan dipenjara. Namun ia memilih untuk mengampuni dan tetap setia kepada Tuhan. Akhirnya Tuhan mengangkatnya menjadi pemimpin di Mesir.
- Daud mengalami penganiayaan dari Saul dan pengkhianatan dari anaknya sendiri. Namun ia tetap memilih mengampuni dan menyerahkan pembalasan kepada Tuhan.
- Rut, seorang janda dari bangsa Moab, rela meninggalkan segala sesuatu untuk mengikuti Naomi dan percaya kepada Allah Israel. Kesetiaannya membuat Tuhan mengangkatnya menjadi bagian dari garis keturunan Mesias.
Pada akhirnya, tujuan seorang murid yang berbuah bukanlah untuk mendapatkan pujian manusia, melainkan untuk memuliakan Tuhan. Ketika kasih, kesabaran, pengampunan, kesetiaan, dan karakter Kristus terlihat dalam hidup kita, orang lain dapat melihat kemuliaan Tuhan melalui kehidupan kita. Karena itu, marilah kita terus melekat kepada Kristus, membiarkan firman-Nya membersihkan hidup kita, dan memberi ruang bagi Roh Kudus untuk mengubah karakter kita dari hari ke hari. Dengan demikian, kita akan menjadi murid yang berbuah lebat, membawa berkat bagi banyak orang, dan mempermuliakan nama Tuhan dalam setiap aspek kehidupan kita. Amin (RCH)