Obedience to The King | Pdm. David Limanto

Janji Tuhan bagi bangsa Israel adalah janji yang luar biasa. Mereka diberikan janji tanah yang luas membentang dari Laut Tengah sampai ke wilayah Irak,  negeri yang penuh dengan susu dan madu, serta janji perlindungan dan pemeliharan yang berlimpah di (Yosua 1:1-6). Namun seringkali mereka tidak menikmati apa yang dijanjikan Tuhan sebagai buah dari ketidaktaatan mereka. Ini juga menggambarkan kondisi kita sebagai umat Allah. Seringkali kita tidak menikmati kepenuhan hidup yang dijanjikan Tuhan karena ketidaktaatan kita.

Mengapa kita harus TAAT kepada TUHAN?

Tuhan Adalah Otoritas Tertinggi Di Dalam Hidup Kita

Akulah yang menjadikan bumi, manusia dan hewan yang ada di atas muka bumi dengan kekuatan-Ku yang besar dan dengan lengan-Ku yang terentang, dan Aku memberikannya kepada orang yang benar di mata-Ku. “Dengan kuasa-Ku yang besar dan dengan kekuatan-Ku Aku telah menciptakan bumi dan manusia serta segala binatang, dan Aku dapat memberikannya kepada siapa saja yang Kukehendaki. (Yeremia 27:5 BIS)

     Setiap kita diciptakan dengan tujuan khusus. Namun karena ketidaktaatan, seringkali kita tidak dapat menggenapi tujuan Tuhan dalam hidup kita. Hanya dengan mentaati Tuhan sebagai otoritas tertinggi, maka hidup kita akan mencapai tujuan Allah. Ketaatan menghasilkan penyertaan Tuhan.

Ketaatan adalah tanda hati kita tidak bercabang

Orang-orang yang pergi dengan saya, membuat umat Israel menjadi takut. Tetapi saya tetap setia mentaati TUHAN Allah saya. (Yosua 14:8 BIS)

     Jika hati kita berpegang teguh kepada Firman Tuhan, maka perkataan yang keluar dari mulut kita akan menguatkan dan tidak membuat tawar hati orang lain.

Ketaatan lebih berharga daripada kurban

Tetapi jawab Samuel: “Apakah TUHAN itu berkenan kepada korban bakaran dan korban sembelihan sama seperti kepada mendengarkan suara TUHAN? Sesungguhnya, mendengarkan lebih baik dari pada korban sembelihan, memperhatikan lebih baik dari pada lemak domba-domba jantan. (1 Samuel 15:22)

     Seringkali kita mencoba melakukan ketaatan parsial/sebagian kepada Tuhan. Kita membuat daftar  perintah Tuhan yang kita sukai dan mentaatinya dan tidak mempedulikan perintah yang kita pikir tidak masuk akal,  sukar, mahal dan tidak populer. Misalnya kita mau ke gereja, tetapi tidak mau membayar persepuluhan. Kita mau baca Alkitab, tetapi tidak mau mengampuni orang yang melukai kita. Ketaatan parsial adalah sama dengan ketidaktaatan.

Ketidaktaatan menghasilkan kesengsaraan

Allah memberi tempat tinggal kepada orang yang kesepian; Ia membebaskan orang tahanan sehingga mereka bahagia. Tetapi orang-orang yang melawan TUHAN harus tinggal di tanah yang gersang. (Mazmur 68:7 BIS)

     Tanah yang gersang atau padang gurun menggambarkan sebuah tempat yang membingungkan karena arah yang tidak jelas. Juga menggambarkan hidup yang tersesat, lelah dan tenaga terkuras tapi tanpa hasil. Sebaliknya ketaatan membawa kita ke arah yang benar, sehingga kita menemukan tempat yang aman dan mendapatkan segala yang kita perlukan. Anda tidak akan pernah salah melangkah saat mentaati Tuhan.

Bagaimana kita menjadi TAAT kepada TUHAN?

 

Ketaatan dimulai dengan pengalaman pribadi bersama dengan Tuhan

Seorangpun tidak akan dapat bertahan menghadapi engkau seumur hidupmu; seperti Aku menyertai Musa, demikianlah Aku akan menyertai engkau; Aku tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau.  (Yosua 1:5)

 

Ketaatan harus didasari dari rasa percaya dan hormat. Kita harus terus menerus dan sesering mungkin menceritakan kasih dan pertolongan Tuhan kepada anak-anak kita. Dengan demikian mereka akan belajar memahami dan percaya bahwa kita menyembah Tuhan yang hidup dan tidak pernah meninggalkan umat-Nya.

Ketaatan tidak membutuhkan skill, karena ketaatan adalah masalah hati

 TUHAN berfirman kepadanya: “Apakah yang di tanganmu itu?” Jawab Musa: “Tongkat. (Keluaran 4:2)

Musa hanya perlu menunjukkan tongkat yang sudah ia miliki. Tuhan tidak pernah menuntut hal-hal yang tidak ada pada kita, ia hanya mau kita taat. Segala sesuatu yang kita perlukan, keterampilan dan kemampuan  akan Tuhan tambahkan ketika kita memiliki sikap hati yang taat. Ketaatan harus dengan hati yang tulus, dan bukan berupa hubungan transaksional atau hitung-hitungan.

Ketaatan tidak dipengaruhi oleh keadaan

Sedang saudara-saudaraku, yang bersama-sama pergi ke sana dengan aku, membuat tawar hati bangsa itu, aku tetap mengikuti TUHAN, Allahku, dengan sepenuh hati. (Yosua 14:8)

Hari-hari ini banyak dari kita yang mengalami kelelahan. Tetapi Kaleb memberikan teladan untuk tidak tawar hati, melainkan tetap percaya dan memegang teguh janji Tuhan, sekalipun apa yang tampak di depan mata menakutkan. Janganlah kejar upah di bumi, tapi kejarlah pahala dari Tuhan.

Ketaatan harus disertai dengan menyangkal diri dan memikul salib

Kata-Nya kepada mereka semua: “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku. (Lukas 9:23)

Ketaatan memang tidak mudah. Tuhan Yesus telah mengingatkan kita bahwa untuk mengikut Dia dan mentaati firman-Nya, kita harus menyangkal keinginan-keinginan daging kita dan memikul salib setiap hari. Inilah syarat mendasar yang harus kita miliki untuk menjadi orang yang kuat dalam iman dan pengenalan akan Tuhan.

Kita harus memahami mengapa kita harus taat kepada Tuhan dan bersedia mentaati Firman Tuhan dalam setiap aspek kehidupan kita. Maka kita akan berbuah, diberkati dengan berkat-berkat Tanah Perjanjian yang berlimpah dan hidup kita akan menjadi berkat. Amin. (VW).