ORANG FARISI DAN PEMUNGUT CUKAI

ORANG FARISI DAN PEMUNGUT CUKAI 

Bacaan Setahun: 
Ul. 10-11 
Mzm. 110 
Flp. 2 

“Ada dua orang pergi ke Bait Allah untuk berdoa; yang seorang adalah Farisi dan yang lain pemungut cukai.” (Lukas 18:10)

Kepada beberapa orang yang menganggap dirinya benar dan memandang rendah semua orang lain, Yesus mengatakan sebuah perumpamaan tentang orang Farisi dan Pemungut cukai yang datang berdoa ke Bait Allah. Orang Farisi itu berdiri dan berdoa dalam hatinya begini: Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini; aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku. Tetapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini.
Orang-orang Farisi adalah orang-orang yang selalu berusaha hidup saleh dengan memenuhi seluruh hukum taurat dengan mengandalkan kekuatannya sendiri, sok suci dan menganggap dirinya paling benar. Sedangkan pemungut cukai adalah orang yang dianggap sebagai perampok dan penghianat bangsa karena dengan semena-mena memungut pajak yang tinggi untuk kepentingan penjajah dan dirinya sendiri. Di hadapan Allah orang Farisi itu membeberkan semua perbuatannya yang benar, memberikan perpuluhan, taat melakukan ritual keagamaan (puasa) dan memastikan bahwa semua yang digunakan itu kudus. Berbeda dengan orang farisi yang angkuh, pemungut cukai tidak mengangkat tangannya, ia justru memukuli dadanya tanda bahwa ia menyesali dosa-dosanya. Ia berseru kepada Allah dalam keputusasaan dan berseru memohon belas kasihan.
Si pemungut cukai yang menyesali diri itu justru dipuji – bukan orang Farisi yang saleh. Bandit masyarakat, penghianat bangsa ini, mendapatkan perkenanan Allah. Yang Maha kuasa telah menerima kurban si pemungut cukai berupa hati yang remuk dan penuh penyesalan. Ia pun pulang dengan penuh pembenaran.
Perbandingan kehidupan antara orang Farisi dan pemungut cukai ini membuka paradigma baru bahwa mereka yang bekerja keras untuk menerapkan hukum taurat dalam kehidupannya sehari-hari justru ditinggalkan. Semangat dan antusiasme akan kesalehan agamawi justru menghalangi hukum kasih karunia Allah. Orang-orang Farisi yang bejuang begitu keras untuk agama sebenarnya hidup dalam bayang-bayang maut. Sementara itu pemungut cukai sebagai pendatang baru yang tampak remeh dan tidak tahu sopan-santun, tetapi kehidupan keagamaan mereka lebih benar daripada kehidupan keagamaan kaum Farisi. Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.” Amin (RSN)

Questions:
1. Bagaimana sikap orang farisi dan pemungut cukai dalam berdoa ?
2. Doa siapakah yang lebih dikenan oleh Tuhan? Mengapa?

Values:
Keselamatan bukanlah upah perbuatan baik yang kita lakukan, sehingga tidak seorang pun di antara kita dapat menyombongkannya.

Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.