PANGGILAN DAN PILIHAN ALLAH | Pdt. Eluzai Frengky Utana

Kita harus mengerti tujuan Tuhan menempatkan kita di bumi ini. Kita dipanggil dan dipilih  dengan satu tujuan yang jelas yaitu untuk berdampak bagi sesama. Kalimat ‘sedikit orang yang dipilih’ bukan berarti Tuhan tidak adil, tetapi ada banyak orang yang memilih untuk tidak dipilih. Agar hidup kita berdampak maka kita harus berani meninggalkan cara-cara dunia, tidak berkompromi dengan hal-hal duniawi dan bersedia mengikuti cara Tuhan sepenuhnya.

Dampak hidup di dalam panggilan Tuhan sebagai orang pilihannya (2 Petrus 1:3-15):

HIDUP SALEH

Karena kuasa ilahi-Nya telah menganugerahkan kepada kita segala sesuatu yang berguna untuk hidup yang saleh oleh pengenalan kita akan Dia, yang telah memanggil kita oleh kuasa-Nya yang mulia dan ajaib. (2 Petrus 1:3)

Hidup saleh artinya hidup kudus, terpisah dari sistem dunia, dari hawa nafsu kedagingan, dan dari cara-cara iblis. Orang yang hidup saleh memprioritaskan Tuhan lebih dari segalanya dan menghidupi firman Tuhan. Orang yang meneladani kehidupan dan kematian Tuhan Yesus juga mengalami kuasa kebangkitan-Nya dan percaya bahwa Tuhan sepenuhnya memerintah atas hidupnya. Jika kita belum mau memisahkan diri dari sistem dunia, dari hawa nafsu kedagingan dan dari cara-cara iblis, berarti kita sedang memilih untuk tidak dipilih. Orang yang hidup saleh memiliki mental sang Raja, tapi hatinya adalah hati seorang hamba.

TIDAK KOMPROMI DENGAN HAL-HAL DUNIAWI

Dengan jalan itu Ia telah menganugerahkan kepada kita janji-janji yang berharga dan yang sangat besar, supaya olehnya kamu boleh mengambil bagian dalam kodrat ilahi, dan luput dari hawa nafsu duniawi yang membinasakan dunia. (2 Petrus 1:4)

Yang kita kejar adalah karakter ilahi. Iman dan karakter ilahi adalah warisan terbaik yang bisa kita berikan kepada generasi penerus kita. Seorang yang mengejar karakter ilahi akan memiliki kekuatan untuk menjalani proses kehidupan. Ia bersedia membayar harga saat menghadapi tantangan, karena tidak mau mengikuti cara-cara dunia. Ia tidak dikuasai oleh kekuatiran, sebaliknya ia hanya memiliki satu tujuan yaitu agar Tuhan dipermuliakan melalui hidupnya, serta menjadi terang dan garam bagi sesama.

MEMILIKI IMAN YANG TERLATIH

Justru karena itu kamu harus dengan sungguh-sungguh berusaha untuk menambahkan kepada imanmu kebajikan, dan kepada kebajikan pengetahuan, dan kepada pengetahuan penguasaan diri, kepada penguasaan diri ketekunan, dan kepada ketekunan kesalehan, dan kepada kesalehan kasih akan saudara-saudara, dan kepada kasih akan saudara-saudara kasih akan semua orang. (2 Petrus 1:5-7)

Mengapa iman seseorang berbeda satu dengan yang lain? Karena ada orang yang melatih imannya, dan ada yang tidak. Kita tidak mungkin melatih iman dalam lingkungan yang nyaman.  Satu-satunya cara untuk melatih iman adalah dengan menerima tantangan yang baru dan percaya bahwa Tuhan akan memberikan kemenangan, tetap bangkit kembali pada saat kita terjatuh. Perjalanan iman kita adalah menuju keserupaan dengan Kristus.

GIAT DAN BERBUAH

Sebab apabila semuanya itu ada padamu dengan berlimpah-limpah, kamu akan dibuatnya menjadi giat dan berhasil dalam pengenalanmu akan Yesus Kristus, Tuhan kita. (2 Petrus 1:8)

Orang yang tidak giat pasti orang yang malas. Pikirannya menjadi tumpul. Jangan malas menghidupi Firman Tuhan, karena tidak ada orang yang malas yang bisa mengubah dunia.  Hasil yang baik hanya akan diperoleh setelah melakukan persiapan yang matang, giat belajar dan bahkan mau belajar dari kegagalan. Selalu ada hal-hal yang perlu diperbaiki dalam hidup kita. Jika kita bersedia memperbaikinya maka kita akan lebih banyak berbuah.

TIDAK MENJADI SANDUNGAN

Tetapi barangsiapa tidak memiliki semuanya itu, ia menjadi buta dan picik, karena ia lupa, bahwa dosa-dosanya yang dahulu telah dihapuskan. Karena itu, saudara-saudaraku, berusahalah sungguh-sungguh, supaya panggilan dan pilihanmu makin teguh. Sebab jikalau kamu melakukannya, kamu tidak akan pernah tersandung. (2 Petrus 1:9-10)

Kehidupan kita seharusnya menjadi berkat, bukan menjadi sandungan. Tanda orang yang tidak menjadi sandungan terlihat dari apa yang ia beri, bukan apa yang ia simpan. Kebahagiaan kita tidak tergantung dari apa yang kita dapatkan, tapi sejauh mana kita memberi kepada orang lain apa yang mereka butuhkan. Jadi jangan bangga dengan apa yang kita dapatkan, tapi dengan apa yang kita berikan. Kita tidak hanya memberikan berkat jasmani, tapi juga kasih, perhatian, nasehat bagi yang membutuhkan. Tuhan rindu memberikan kepada kita segala berkat dan kepenuhan yang melimpah, jadi janganlah menabur karena emosi atau sekedar karena ingin menuai, tetapi menabur haruslah dengan sukacita.

Dengan demikian kepada kamu akan dikaruniakan hak penuh untuk memasuki Kerajaan kekal, yaitu Kerajaan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus. (2 Petrus 1:11)

 

Saat kita bersedia berlatih untuk melakukan hal-hal di atas, maka kita mendapatkan upah dan hak penuh untuk memasuki Kerajaan Tuhan, serta hidup kita akan berdampak bagi sesama. Amin. (VW)