PANJANG UMUR VS PENDEK UMUR

PANJANG UMUR VS PENDEK UMUR 

Bacaan Setahun: 
Mzm. 143, Amos 4-6, Mzm. 123 

“Dan Henokh hidup bergaul dengan Allah, lalu ia tidak ada lagi, sebab ia telah diangkat oleh Allah.” (Kejadian 5:24)

Saat saya membuat tulisan ini, saya menulisnya di bulan Mei kemarin. Nah pada bulan Mei  itu ada beberapa teman gereja dan jemaat yang berulang tahun. Mulai tanggal 3 Mei s/d 30 Mei ada 9 orang yang berulang tahun. Pada hari Minggu tanggal 28 Mei saat ibadah raya, mereka yang berulang tahun dipanggil ke depan mimbar untuk di doakan. Selain ucapan panjang umur, mereka juga mendapatkan souvenir dari gereja. ”Selamat panjang umur”, kita katakan kepada rekan yang berulang tahun sebagai ucapan selamat sekaligus doa.

Ya, panjang umur kerap kali dikaitkan dengan hidup yang berbahagia. Lalu, bagaimana dengan orang yang pendek umur? Apakah mereka tidak berbahagia, sebab tak lagi bisa meneruskan hidup? Benarkah panjang umur merupakan jaminan hidup bahagia dan penuh arti?

Di dalam Alkitab, kita bisa melihat tokoh-tokoh Alkitab yang memiliki umur panjang seperti Adam 930 tahun, Set 912 tahun, Enos 905 tahun, Kenan 910 tahun, Mahalaleel 895 tahun, Yared 962 tahun, dan Henokh 365 tahun. Jika kita cermati, terdapat rumusan berulang dalam kalimat-kalimat tersebut (Kejadian 5). ”X berumur Y tahun lalu ia mati”. Keterangan ”lalu ia mati” menunjukkan bahwa betapa pun panjang umur manusia, manusia pasti mati. Namun di sini kita bisa melihat catatan yang menarik tentang kehidupan Henokh. Umurnya lebih pendek dari yang lain, tetapi ia ”hidup bergaul dengan Allah” (ayat 24). Alkitab versi BIS menerjemahkannya : ”Henokh selalu hidup akrab dengan Allah”. Dikatakan, ia tidak mati, tetapi diangkat oleh Allah. ”Pendek umur” bukan masalah bagi Henokh, sebab ia telah hidup bagi Tuhan selama di dunia.

Saudara, panjang umur memang berkat dari Tuhan, tidak salah jika kita menginginkannya. Tetapi pertanyaannya, apakah kita sudah berkarya bagi kemuliaan nama Tuhan. Bagaimana kita menjalani hidup kita, itu yang penting bagi Tuhan. Firman Tuhan berkata : ”Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan. Tetapi jika aku harus hidup di dunia ini, itu berarti bagiku bekerja memberi buah.” (Filipi 1:21-22a).

Mari memohon kepada Tuhan agar kita ditolongnya untuk menjalani hidup yang bermakna bagi Dia, agar hidup kita di dunia ini tidak sia-sia. Anda setuju? (AU)

Questions:
1. Apakah Anda sudah berkarya dan bermakna bagi Tuhan? Saksikan!
2. Apakah buah-buah yang sudah Anda hasilkan bagi Tuhan sepanjang umur Anda?

Values:
Bagaimana cara kita menjalani hidup ini, itu jauh lebih penting di hadapan Tuhan, tidak sekedar panjang umurnya.

Kingdom Quotes:
Hiduplah bermakna bagi orang lain, itu yang Tuhan perintahkan dan inginkan di dalam kehidupan kita!