PARADOKS
Bacaan Setahun:
Ibr. 3:1-4:13, Kej. 48, Mzm. 38
“Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan tidak. Apa yang lebih dari itu berasal dari si jahat.” (Matius 5:37)
Ketika kata ‘budaya’ menunjuk pada ciri, kebiasaan dan perilaku suatu kelompok sosial;maka hal itu juga mewakili gaya hidup anggota kelompok masyarakat tersebut. Sebagai warga Kerajaan Allah, gaya hidup warganya adalah keteladanan mencerminkan kasih Kristus yang termanifestasi di setiap aspek kehidupan orang percaya. Dalam salamnya kepada jemaat Tesalonika, rasul Paulus menyebut mereka telah menjadi teladan sebagai penurut Tuhan untuk semua orang percaya (1 Tesalonika 1:7). Namun pada zaman berbahaya ini, ada banyak tantangan menjadi teladan dalam proses mempersiapkan jalan raya bagi Allah, antara lain bahwa secara lahiriah manusia menjalankan ibadah, tetapi pada hakekatnya mereka memungkiri kekuatannya (2 Timotius 3:5). Jika padanan kata ‘munafik’ untuk keadaan itu terlalu lugas, maka kalimat tersebut merupakan suatu paradoks, yakni pernyataan yang berisi hal yang bertentangan: menjalankan ibadah tetapi memungkiri kekuatannya.
Sering kali seorang pewarta Firman bermaksud menyampaikan dua gagasan yang bertentangan, lalu beliau menggunakan kata-kata yang tampaknya berlawanan. Seorang hamba Tuhan menyampaikan Firman dari Matius 23:24 saat Tuhan Yesus mengecam ahli Taurat dan orang Farisi dengan menggunakan kata ‘nyamuk’ dan ‘unta.’ Ironi tersebut dipakai untuk menunjukkan sikap munafik para ahli Taurat dan orang Farisi yang mempersoalkan hal-hal kecil untuk menghakimi orang lain padahal mereka sendiri melakukan kejahatan
Albert Einstein pernah mengatakan dunia adalah tempat yang berbahaya, bukan karena banyaknya orang jahat, namun karena orang melihat kejahatan dan tidak melakukan apa pun. Suatu ketika ada ‘reel’ di media sosial bercerita tentang seorang wanita yang pamit kepada pendetanya karena saat penyampaian Firman di tempat ibadah itu banyak jemaat bermain handphone, bergunjing atau bahkan tertidur. Kemudian pendeta menyuruhnya membawa segelas air berjalan keliling gedung gereja dan airnya tidak boleh tumpah. Wanita tersebut berhasil melakukannya, sang pendeta berkata ia berhasil membawa gelas air tersebut tanpa tumpah karena wanita tersebut terfokus pada gelas air; demikian juga ia harus terfokus pada Tuhan dan tidak usah peduli pada orang-orang tersebut
Kita tentu perlu memperhatikan konteks cerita; sebagai paradoks cerita tersebut ada benarnya. Namun mengedepankan budaya Kerajaan berarti menjadi teladan dalam kebenaran, ketika terjadi pelanggaran, penyalahgunaan wewenang, atau kerusakan dalam hubungan; tentu ada upaya restorasi dan rekonsiliasi. Orang percaya tentunya tidak akan bersikap tidak mau tahu atau pura-pura tidak tahu, melainkan tetap meneladani ‘Bar eNash,’ Anak Manusia, yang datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang (Lukas 19:10). (YL)
Questions:
1. Mengapa orang Farisi dan ahli Taurat dikatakan menjalankan ibadah tetapi memungkiri kekuatannya?
2. Bagaimana mengupayakan agar kata ‘integritas’ mendapatkan kekuatannya kembali?
Values:
Mengedepankan budaya Kerajaan berarti menjadi teladan kasih Kristus
Kingdom’s Quotes:
Karena Allah akan membawa setiap perbuatan ke pengadilan yang berlaku atas segala sesuatu yang tersembunyi, entah itu baik, entah itu jahat. (Pengkotbah 12:14)